SEJARAH KABUPATEN TEGAL
Bagian VI
ASAL USUL KABUPATEN TEGAL
1. Pangeran Bayu Perwira atau Raden Sebayu (1570-1585).
Asal usul Kabupaten Tegal dibahas dengan saksama. Paku Buwana pada tahun 1727 mengadakan sarasehan historis. Bertindak sebagai narasumber yaitu KRT Padmanagara Bupati Pekalongan. Dalam ceramahnya diuraikan seluk beluk kehidupan maritim. Laut Jawa merupakan pusat lalulintas. Tegal menyediakan jasa pelabuhan. Aspek pelayaran di Tegal sudah dirintis sejak jaman Kraton Pajang tanggal 24 Juli 1546.
Pangeran Sebayu atau Bayu Perwita lantas dididik oleh Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadirin. Utusan Karaton Pajang bertugas di wilayah Bang Kulon. Gelarnya Pangeran Bayu Perwita pada tanggal 12 April 1570. Bupati Tegal yang pertama masih keturunan Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor. Raja Demak ini bergelar Sultan Syah Alam Akbar II. Pangeran Bayu Perwita merintis berdirinya Kabupaten Tegal.
2. Tumenggung Honggowono (1585-1617)
Uraian tentang kehidupan pelayaran di Tegal dijelaskan KRT Padmanagara kepada Paku Buwana II. Ketika masih muda Ki Gedhe Honggowono pernah meniti karier di Kerajaan Mataram. Antara tahun 1605-1612 Ki Gedhe Honggowono menjadi penasehat Sinuwun Prabu Hanyokrowati, raja kedua Mataram. Kariernya semakin cemerlang. Pada tahun 1614-1619 Ki Gedhe Honggowono dipercaya penasehat Sultan Agung. Berkat kecakapannya inilah Ki Gedhe Honggowono pada tahun 1585 dilantik sebagai Bupati Tegal dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Honggonagoro.
4. Tumenggung Aryo Martoloyo (1636-1678)
Kesadaran tentang arti penting kesehatan sudah vmenjadi program pokok pemerintahan Sultan Agung. Generasi muda yang trampil dalam bidang medis dikirim ke luar negeri. Aryo Martoloyo dikirim ke Beijing Cina untuk belajar teknik pengobatan. Kemampuan medis Aryo Martoloyo sampai pada tingkat spesialis. Ketika diangkat menjadi Bupati Tegal pada 1636, Aryo Martoloyo sering diminta nasihat oleh Sultan Agung dalam rangka pelayanan kesehatan. Bahkan pada masa pemerintahan Sri Amangkurat Agung, kedudukan Aryo Martoloyo semakin kuat. Beliau diberi gelar kehormatan KRT Wirosuto. Beliau memegang prinsip gung binathara. Paku Buwana II amat teliti dalam membaca sejarah. Kehidupan masa lampau diperoleh dari KRT Padmanagara yang ahli sosiologi historis.
5. Tumenggung Haryo Sindurejo (1678-1697)
Ibukota Mataram pindah dari Plered menuju Kartasura pada tahun 1678. Pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat II. Orang yang berjasa dalam pemindahan ibukota Mataram Kartasura ini adalah Raden Haryo Sindurejo. Beliau juga sering mendapat julukan Ki Gedhe Gendowor. Menurut Raden Haryo Sindurejo Kartasura merupakan pusat bertemunya mata air Cokro dan Umbul Pengging. Dari dua sumber besar inilah mengalir kali Larangan ke Bengawan Solo. KRT Sindurejo dilantik menjadi Bupati Tegal oleh Sri Amangkurat II pada tahun 1678. Beliau adalah ahli irigasi. Pada awal Kartasura sastra tumbuh pesat.
7. Tumenggung Secowijoyo (1697)
Jabatan Bupati Tegal lantas dipegang oleh KRT Secowijoyo. Waktu pemerintahannya tergolong singkat. Gagasan beliau tentang administrasi dan birokrasi termasuk cemerlang. Penataan birokrasi berdasarkan tupoksi (tugas pokok dan fungsi). Staf yang mempunyai dedikasi dan prestasi sebaiknya mendapat promosi. Sri Susuhunan Amangkurat II kerap menugaskan KRT Secowijoyo untuk mengisi ceramah, lokakarya, seminar dan diskusi. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas birokrasi.
8. KRT Reksonagoro II (1697-1700)
Sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (hankamrata) dipelopori oleh KRT Reksonagoro II. Dilantik menjadi Bupati Tegal pada tahun 1697 oleh Sri Susuhunan Amangkurat II pada tahun 1697. Jauh sebelum menjabat bupati, KRT Reksonagoro II pernah belajar manajemen politik dan teritorial Mataram. Tempatnya di Gunung Tidar Magelang. Tak heran kalau Kraton Mataram mengangkat KRT Reksonagoro II menjadi konsultan dalam bidang politik dan keamanan.
Pangeran Wujil adalah sarjana mumpuni. Pernah melakukan riset masyarakat industri di Berlin Jerman. Wawasan ilmu pengetahuan cukup mendalam. Paku Buwana II sejak tahun 1726 mengangkat sebagai ketua dewan pertimbangan raja Mataram.
10. Tumenggung Badrayuda (1702-1746)
Dalam menempatkan pejabat daerah, Sri Susuhunan Paku Buwono I selalu mempertimbangkan latar belakang pendidikan. Saat itu Kabupaten Tegal membutuhkan pimpinan yang mengerti diplomasi. Tumenggung Badrayuda Secowardaya pernah ditugaskan untuk belajar tentang diplomasi kenegaraan di kerajaan Samudra Pasai Aceh. Studi banding tahun 1710 mendapat perhatian dari Sultan Iskandar Muda Aceh. KRT Badrayuda mengabdi pada Sri Susuhunan Amangkurat III, Paku Buwono I dan Amangkurat IV.
11. Tumenggung Secowardoyo (1746-1776)
KRT Secowardoyo dilantik oleh Sri Susuhunan Paku Buwono II pada tahun 1746. Upacara pelantikan dilakukan di Sitihinggil Kraton Surakarta Hadiningrat. Beliau turut serta dalam pembangunan utama Mataram yang pindah dari Kartasura ke Surakarta. Bahkan KRT Secowardoyo ikut pula merancang arsitektur Kraton Surakarta. Gelar beliau menjadi KRT Reksonagoro IV pada tahun 1748. Beliau merupakan sarjana arsitektur yang ulung.
Paku Buwana II mendukung penuh Tegal sebagai kawasan maritim. Fasilitas dan anggaran negara Mataram diberikan untuk mengembangkan bidang maritim. Gagasan besar Amangkurat Agung diteruskan.
Di bawah kepemimpinan Tumenggung Kertoyudo, kesenian teater maju pesat. Paku Buwana III melanjutkan gagasan Paku Buwana II. Maritim bernuansa budaya. Maka Tegal berkembang seni pesisiran yang maju.
13. Tumenggung Panji Cokronegoro (1800-1816)
Setiap Bupati Tegal punya ciri khas dan karakter sendiri. RM Panji Cokronegoro dilantik menjadi Bupati oleh Sri Susuhunan Paku Buwana IV di Kraton Surakarta Hadiningrat tahun 1800. Beliau memang ahli dalam bidang tata bahasa dan kesusasteraan. Maklum RM Panji Cokronagoro pernah belajar di Pondok Pesantren Tegalsari Ponorogo. Sri Susuhunan Paku Buwana IV kerap berdikusi dengan Bupati Tegal. Kedua tokoh ini bicara mengenai tata susila yang disusun dalam bentuk karya sastra. Beliau juga mendapat julukan Bupati Kaloran. Beliau sering membaca Serat Wulangreh.
Paku Buwana IV mendapat inspirasi dari Paku Buwana II. Serat Wulangreh dibaca dalam rangka meningkatkan mutu pelayaran maritim di Tegal. Maritim yang berbasis etika tradisional.
15. Tumenggung Sumodiwongso (1816-1819)
Bupati Tegal sejak tahun 1816 dijabat Tumenggung Sumodiwongso. Berkat prestasi dan jasanya Sinuwun Paku Buwana IV memberi gelar KRT Reksonagoro VI. Beliau suka membaca karya Kyai Yasadipura Pengging. Penyusunan Serat Wulangreh dan Sasana Sunu juga melibatkan KRT Reksonagoro VI. Kedua kitab ini menjadi referensi utama orang Jawa.
17. RMA Reksodiningrat (1821-1857)
Lama sekali RMA Reksodiningrat belajar perkebunan di daerah Bagor. Setelah menjadi ahli, beliau bekerja di desa Candi, Ampel, Boyolali. Beliau ditugaskan untuk mengembangkan kebun teh di kawasan Gunung Merbabu. Hasil perkebunan teh berlimpah ruah. Prestasi gemilang ini mengantarkan kariernya menjadi Bupati Tegal dengan gelar KRT Reksonagoro VIII. Beliau merupakan orang kepercayaan Sri Susuhunan Paku Buwana VI. Pengalaman di Boyolali menjadi bekal untuk membangun Tegal.
18. Tumenggung Srosronagoro (1857-1858)
Pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana VII, Kraton Surakarta Hadiningrat menyusun kitab undang-undang atau Pradoto Agung. Penyusunan kitab konstitusi ini dibantu oleh Tumenggung Sosronagoro. Beliau belajar di Kota Tamasek Singapura. Waktu itu beliau studi banding pada raja Melayu dan kasultanan Johor. Menurut Tumenggung Sosro-nagoro negara yang baik harus menjunjung tinggi hukum dan taat peraturan. Beliau dilantik menjadi bupati tahun 1851 oleh Sinuwun Paku Buwana VII di Kraton Surakarta. Kabupaten Tegal semakin maju.
20. Tumenggung Wiryodiningrat (1862-1864)
Tumenggung Wiryodiningrat dilantik menjadi Bupati Tegal tahun 1862 oleh Sinuwun Paku Buwana IX. Beliau mengawali karier dengan menjadi administratur kebun kopi di Kembang Semarang. Sehari hari beliau berkantor di Banyumanik. Kopi made in Kembang Semarang terkenal di seluruh penjuru dunia. Berkat produksi kopi Kembang ini masyarakat Jawa pada abad 19 benar
-benar makmur. Devisa mengalir deras ke kas negara, untuk modal kegiatan pembangunan.
21. Tumenggung Panji Sosrokusumo (1864-1869)
Investasi di tanah Jawa sungguh menguntungkan. Pengalaman ini dirasakan Panji Sosrokusumo saat bertugas di Besuki, Bojonegoro dan Tegal Gondo. Beliau ahli dalam perkebunan tembakau. Sinuwun Paku Buwana IX memberi imbalan kepada beliau tahun 1864. Dilantik menjadi Bupati Tegal, dengan berbekal ilmu selama bertugas di kebun tembakau.
23. Tumenggung RM Kis (1894-1903)
Masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X merupa-kan era kejayaan. Pada tahun 1894 Raden Mas Kis dilantik menjadi Bupati Tegal dengan gelar KRT Reksonagoro. Beliau adalah ahli kebun tebu. Lantas diangkat menjadi staf Pabrik Gula Manisharjo. Waktu itu Jawa merupakan eksportir gula terbesar di dunia. RM Kis boleh disebut Bupati Tegal paling kaya. Beliau menjadi pengusaha besar dan penguasa sukses berkat pabrik gula.
24. Tumenggung RM Soejitno (1903-1916)
Bupati Tegal yang dilantik tahun 1903 oleh Sinuwun Paku Buwana X adalah RM Soejitno. Gelarnya adalah KRT Reksonagoro XI. Pada masa mudanya beliau berprofesi sebagai kontraktor listrik. Beliau tergantung pada perusahaan ANIEM. Sebagai pengusaha kontraktor, RM Soejitno mempunyai basis finansial yang kuat. Beliau dermawan besar. Kegiatan sosial dan budaya didukung. Beliau menjadi donatur organisasi Boedi Oetomo dan Sarikat Islam, demi kemajuan bangsa.
26. Tumenggung R Soebijanto (1935-1937)
Karier R Soebijanto dalam bidang birokrasi dimulai dari seten, wedana, patih dan bupati. Beliau dilantik Sinuwun Paku Buwana X pada tahun 1935. Beliau punya sikap andhap asor, lembah manah, premati, alus ing budi. Pernah bekerja di Betawi sebagai staf bank. Jadi beliau ahli dalam mengelola keuangan negara.
27. Tumenggung Slamet Kartonagoro (1937-1942)
Bupati Tegal yang paling akhir dilantik oleh Sinuwun Paku Buwana X adalah RT Slamet Kartonagoro tahun 1937. Beliau pernah meniti karier sebagai Kepala Kantor Pos di Surabaya. Beliau adalah bupati yang ahli komunikasi.
29. RMA Slamet Sunaryo (1944-1945)
Masa-masa sulit dalam menghadapi peralihan kekuasaan.
Pembinaan kehidupan maritim di Tegal dilakukan oleh raja Mataram Surakarta. Paku Buwana II tetap menjadi inspirasi dalam mengembangkan kehidupan maritim di kawasan pesisir. Setelah tahun 1945 para pemimpin Tegal selalu punya komitmen tinggi dalam bidang maritim.
31. Prawoto Sudibyo (1946-1948)
Dalam suasana revolusi kemerdekaan.
32. R. Saputra (1948-1949)
Revolusi sosial masih berkecamuk.
34. RM Soemindra (1950-1955)
Suasana emosional yang penuh dengan persaingan par-tai politik.
35. RM Projosoemarto (1955-1960)
Diwarnai dengan isu nasional dan dekrit Presiden.
37. Munadji (1966-1967)
Transisi Orde Lama ke Orde Baru.
38. R. Soetardjo (1967)
Pergolakan akibat peristiwa tahun 1965.
40. Letkol Samino Sastrosuwignyo (1973-1977)
Konsolidasi Orde Baru lewat Pemilu tahun 1971.
41. Drs. Herman Soemarmo (1977-1978)
Konsolidasi Pemerintahan Orde Baru semakin mantap.
43. Drs. Winahto (1988-1991)
Kharisma Pemerintahan Orde Baru mulai pudar.
44. Drs. Soetjipto (1991-1999)
Pemerintahan Orde Baru menghadapi tekanan dari LSM serta berbagai lapisan masyarakat dan menuju reformasi.
46. Agus Riyanto, S.Sos., M.Si (2004-2013)
Keadaan mulai tenang dan masyarakat sadar hak politik.
47. Moch Hery Soelistiawan, SH, M.Hum (2013)
Beliau mengawali karier di bidang pemerintah mulai dari staf, camat, sekda, wakil bupati dan bupati Tegal. Beliau mendapat semangat dari 3 putri kinasih.
Ketiganya sungguh putri sejati. Di antaranya adalah Tika Widyana Pratiwi SH, yang telah memberi seorang cucu.
Sebuah sikap yang mulia, jujur, terhormat, beradab dan mengagumkan. Semoga di bawah kepemimpinan Ki Enthus Susmono, yang didampingi Wakil Bupati Umi Azizah, Kabupaten Tegal semakin makmur, jaya, ayem tentrem dan arum kuncara. Perjuangan Ki Enthus Susmono dalam bidang seni budaya diakui masyarakat internasional.
49. Umi Azizah, menjabat sejak 2018 - 2024.
Kepemimpinan Ibu Umi Azizah membuktikan bahwa kesetaraan gender sudah menjadi praktek dalam kehidupan.
Bupati Tegal selalu mempromosikan Kabupaten Tegal secara mandiri. Sungguh berbahagia masyarakat Tegal memilih beliau sebagai pimpinan yang amat hormat.
Hubungan historis terus bersambung. Tiap tahun selalu bersilaturahmi dengan Kraton Surakarta menambah kewibawaan. Karaton Surakarta Hadiningrat berbakti pada leluhur di Tegal. Anak cucu Paku Buwana II meneruskan tradisi luhur. GKR Wandansari, GKR Galuh Kencono, GKR Sekar Kencono, GKR Retno Dumilah dan GKR Ayu Koes Indriyah yang mewakili Kraton Surakarta bersama dengan pemerintah Kabupaten Tegal memuliakan Sri Amangkurat Agung. Raja Mataram yang mewariskan nilai keteladanan, keutamaan, kebajikan bagi sekalian penduduk nusantara.
Maritim merupakan aktivitas kelautan. Paku Buwana II meneruskan perjuangan Amangkurat Agung yang membangun dunia pelayaran maritim di Tegal sejak tahun 1647. Tiap tahun Karaton Surakarta Hadiningrat melakukan tata cara larapan langse di desa Pakuncen Adiwerna Tegal.
Kehidupan maritim yang dikembangkan Paku Buwana II layak untuk diteruskan. Agar masa depan maritim Tegal dan kawasan pesisir tampil lebih cemerlang makmur.