SEKAR WIJAYAKUSUMA
PUSAKA MATARAM SURAKARTA
Penulusuran sekar Wijayakusuma dilakukan dengan melacak aspek historis. Sowan ke Pajimatan Rekyana Patih Sindurejo untuk ngalap berkah. PAKASA Magelang sowan ke Pajimatan Paremono pada hari Kemis Paing, 15 Januari 2026. Kanjeng Bagiyono memimpin jalannya tata cara. Memuliakan Rekyana Patih Sindurejo, tokoh Kraton Mataram yang bertugas miwaha Sekar Wijayakusuma.
Dengan busana kejawen jangkep tata cara berlangsung regeng merbawani. Ubarampe genep jangkep. Dalam rangka nyengkuyung darma bakti kepada Kraton Surakarta Hadiningrat. Terutama mangayu bagya jumenengan dalem Sinuwun Paku Buwana XIV pada hari Kamis Wage, 13 Nopember 2025. Hayu rahayu.
Baca Juga:Sejarah Sekar Wijayakusuma berhubungan dengan berdirinya Kraton Mataram Surakarta. Tata cara berlangsung sesuai paugeran. Sinuwun
Upacara adat ini dalam rangka penobatan Sri Susuhunan Paku Buwana II pada tahun 1726 di Kartasura. Agar berjalan lancar. Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu. Daerah Donan Cilacap menyimpan kisah menarik. Makhluk halus di Tanah Jawa berhubungan dengan sistem politik Kerajaan. Dalam masyarakat Jawa ibukota makhluk halus berada di daerah Nusa Kambangan.
Secara historis perlu dilacak keberadaan makhluk halus yang berpusat di Nusa Kambangan. Kabupaten Cilacap dulunya berdiri tanggal 17 Januari 1678. Bernama Kadipaten Donan. Tempatnya di Pulau Nusa Kambangan atau Nusa Berambang. Dalam cerita tutur pedalangan Nusa Kambangan disebut Nusa Kambana, Watu Masigid, Sela Marsigid atau Dhandhang Mangore. Kawasan ini memiliki kewibawaan tinggi, wana gung liwang liwung, bebasan gawat kaliwat liwat, angker kepati pati, jalm mara jalma mati, sato mara keplayu.
Catatan dari kitab babad tanah Jawi dibaca oleh Paku Buwana II. Dengan maksud mengerti situasi kebatinan. Berguna untuk momong segenap kawula dasih. Untuk menghormati raja Bidadari ini, Karaton Surakarta setiap tahun selalu menyelenggarakan upacara wilujengan negara Maesa Lawung di Alas Krendha Wahana. Kepala kerbau atau sirah maesa Kebo Bule dipendham atau ditanam dengan sesaji ubarampe lengkap. Persembahan buat Bathari Kalayuwati berwujud daging mentahan, karena wadya bala atau pasukan kahyangan Nusa Kambana terdiri dari brekasakan bersiung bertaring. Prajurit Nusa Berambang merupakan raksasa makhluk halus yang tidak kasat mripat. Kejadian ini dirasakan benar oleh Sunan Paku Buwana II.
Nungsa Berambang atau Donan Nusa Kambangan men-jadi ibukota makhluk halus yang tersebar di Tanah Jawa. Penguasa alam lelembut di tiap- tiap kabupaten harus tunduk pada perintah Sang Hyang Pramoni Durga yang berkedudukan di Watu Masigid Nusa Kambangan. Watu Masigid atau Sela Marsigid adalah istana kediaman Bathari Uma.
Baca Juga:Pembangunan istana Sela Marsigid mirip kayangan Suralaya yang serba emas gemerlapan. Bahan bangunan istana Sela Marsigid yakni emas, intan, mutu manikam, jumerut, ratna, suwarna, mutiara warna warni. Wajar sekali karena Sang Pramoni Durga adalah mustikane putri tetunggule widodari. Sekedar untuk diketahui para makhluk halus yang menjadi bawahan Sang Hyang Pramoni Durga di Kahyangan Dhandhang Mangore atau Nungsa Berambang. Mereka adalah pemuka makhluk halus yang berkuasa atas wilayah tertentu. Misalnya Jin Balabatu di Blambangan Banyuwangi.
Buta Locaya menguasai Kediri, Sidagori di Pacitan, Klenthing Mungil di Magetan. Jin Abur Abur berada di Madiun, Macan Puguh di Purwadadi, Kala Jangga di Malang, Pilang Putih di Cepu Blora, Dhadhung Awuk di Purworejo. Jin yang tinggal di Semarang bernama Barat Ketiga. Semua pemuka makhluk halus tiap tahun sowan ke Nusa Kambangan untuk caos glondhong pengareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi.
Adapun asisten yang bertindak sebagai carik sekretaris Sang Hyang Pramoni Durga yaitu Jin Trenggiling Wesi. Berdomisili di daerah Majenang. Segala perintah istana Watu Masigid atau Sela Marsigid pasti melalui Trenggiling Wesi Majenang. Properti istana Sela Marsigid dikelola oleh Jin Nyai Bathithing Tuban. Sedangkan busana kawidodaren untuk Sang Hyang Pramoni diurus oleh Jin Nyai Puspakati. Suguhan makanan sehari hari untuk istana Sela Marsigid Nungsa Berambang disajikan oleh Jin Nyai Roro Denok.
Bahkan keturunannya lestari pejabat, pemimpin dan penguasa Tanah Jawa. Hal itulah yang mendorong Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral yang memerintah kerajaan Mataram Kartasura pada tahun 1677-1703. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk bisa memboyong sekar wijaya kusuma.
Keistimewaan kadipaten Donan teruji dalam sejarah. Orang melakukan lara lapa tapa brata. Mereka bersemedi di gunung Srandil untuk ngalap berkah pada Eyang Semar atau Kaki Tunggal Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Laku spiritual ini selalu dilakukan oleh para bangsawan mataram secara turunt temurun.
Baca Juga:Mataram kuat karena punya aji dan pusaka sakti. Paku Buwana II dan anak cucu tetap melestarikan tradisi. PAKASA pimpinan Kanjeng Bagiyono selalu siaga ing hati, sawega ing diri.
Bagian II
PAWIWAHAN SEKAR WIJAYAKUSUMA
Tata cara miwaha sekar Wijayakusuma berlangsung sesuai paugeran. Dari Paremono ke Donan. Sekar Wijayakusuma di Nusa Kambana winiwaha. Pakasa Magelang ngleluri tradisi Patih Sindurejo pada tanggal 15 Januari 2026. Tepat pada hari Kemis Paing malam Jumat Kliwon.
Kerajaan Mataram memiliki pusaka Sekar Wijaya Kusuma. Patih Sindureja Diutus Sinuwun Amangkurat Amral Memetik Sekar Wijaya Kusuma di Kadipaten Donan Cilacap. Kegiatan ini berlanjut pada masa pemerintahan Paku Buwana II. Pembangunan Kadipaten Donan Tanah Tlacap atau Cilacap yang mahsyur sudah dirintis oleh Sinuwun Amangkurat Agung. Raja Mataram yang memerintah tahun 1645-1677 ini sangat perhatian pada wilayah Dulangmas, Kedu, Magelang, Banyumas. Kebetulan Kanjeng Ratu Wiratsari memiliki istana cabang Mataram di desa Lesmana Ajibarang Banyumas. Permaisuri raja Amangkurat Agung berjasa besar atas pengembangan Donan Tlacap sebagai kawasan spiritual. Sampai sekarang orang berdatangan ke gunung Srandhil untuk mahas ing ngasepi nedahake semedi. Paku Buwana II telah memberi contoh yang baik.
Pada tahun 1677 Sinuwun Amangkurat Amral memindahkan ibukota dari Plered ke Kartasura. Segala persiapan lahir batin dilakukan demi kejayaan Kraton Mataram. Segera Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung membentuk tim Panitia Pembangunan fisik kraton diserahkan kepada Pangeran Pekik Bupati Surabaya. Beliau dibantu tenaga ahli dari Sumenep dan Makasar. Proyek besar pindahan ibukota Mataram ini ditangani oleh para bupati Bang Wetan.
Kisah ini dihayati benar oleh Paku Buwana II. Surat perintah untuk memetik sekar wijaya kusuma terbit pada tanggal 17 Januari 1678. Tumenggung Pranantaka diutus memetik sekar wijaya kusuma di Donan Nungsa Berambang tanah Tlacap. Tugas mulia dan berat itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Waktu itu Tumenggung Pranantaka juga menjabat sebagai Bupati Tegal tahun 1678-1680.
Dalam waktu yang bersamaan Tumenggung Pranantaka mengurusi sekolah ketrampilan tata praja di Magelang, diplomasi kenegaraan Mataram dan tata cara methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap.
Turut memberi doa restu yakni Tumenggung Urawan Pradotonagoro dan Patih Nerangkusumo. Tumenggung Urawan pegawai kejaksaan Mataram. Patih Nerangkusumo perdana menteri kerajaan Mataram. Kedua sesepuh memimpin upacara tolak balak di Donan Cilacap. Mereka membaca dzikir bergantian. Pembacaan mantra rajah kalacakra dilakukan oleh Ki Dalang Kondho Buwono, penjelmaan Bathara Ismaya yang ngejawantah ing madyapada. Cerita ini dihayati oleh Paku Buwana II.
Khusus tata cara adat wilujengan di Donan Nusa Kambana, dhalang Kondho Buwono harus diperankan oleh titisan Sang Hyang Ismoyo atau Kyai Lurah Semar. Orang menyebut kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Beliau sesepuh Donan yang amat ditaati oleh penguasa Nusa Kambangan.
Mijil
Sang Patih sigra anata baris.
Nyawiji gumolong.
Dhampyak. dhampyak gumregut lampahe.
Binarung krapyak myang watang agathik.
Gumelar ngebaki.
Suraknya gumuruh.
Suguhan mbayu mili. Tak ketinggalan tempe, srabi, tape goreng dan mendoan. Tempe Karanganyar, srabi Wangon, tape goreng Sukaraja dan mendoan Purwokerto menjadi makanan nyamikan saat tirakatan dan lek-lekan.
Proses methik sekar wijaya kusuma di Donan Cilacap dilaksanakan pada malam Jumah Legi. Tumenggung Pranantaka dibantu oleh aneka ragam makhluk halus, yakni Barat Katiga Semarang, Guntur Geni Pekalongan, Sambang Yuda Pemalang, Buta Trenggiling Tegal, Gunting Geni Kaliwungu, Samaita Magelang, Dhadhung Awuk Kutoarjo, Padhareksa Gunung Sundara, Jolela Gunung Sumbing dan Jin Wewari Banjarnegara. Adapun jin makhluk halus yang turut menjaga keamanan yaitu Butakala Cilacap, Kalanadhah Banyumas, Penthul Gumuk Bagelen dan Baleng Ngungrung Kebumen.
Masyarakat Donan Cilacap menghormati Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Beliau dianggap pembuka awal Bumi Cilacap. Kadipaten Cilacap segera ditetapkan sebagai wilayah Kabupaten oleh Sinuwun Amangkurat Amral raja Mataram Kartasura pada tanggal 21 Maret 1678. Jasa besar Patih Sindurejo perlu dikenang. Pada tahun 1701 Patih Sindurejo lengser keprabon madeg pandito. Patih Sindurejo memilih menjadi tenaga pengajar pelatihan tata praja. Beliau wafat tahun 1703 dan dimakamkan di Astanalaya Pasareyan Agung Paremono. Dari daerah Paremono Magelang, para eksekutif tanah Jawa terbina. Trah Paku Buwana II tiap tahun hadir di daerah ini. Sekedar untuk melakukan upacara adat yang berlangsung turun tumurun.
Bagian III
PANGREKSA SEKAR WIJAYAKUSUMA DONAN
Penguasa Donan Cilacap selalu tampil bersinar wibawa. Keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung tertata rapi. Paku Buwana II peduli upacara adat. Sebagai pusat kawasan Kejawen, para pemimpin bertindak tepat bijaksana. Toleran terhadap segala bentuk keberagaman.
1. Tumenggung Sindunagoro I, 1678-1710. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral, raja Mataram.
2. Tumenggung Sindunagoro II, 1710-1721. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono I, raja Mataram.
3. Tumenggung Sindunagoro III, 1721-1734. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram.
4. Tumenggung Notoyudo I, 1734-1752. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, raja Mataram.
5. Tumenggung Notoyudo II, 1752-1793. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat.
6. Tumenggung Notoyudo III, 1793-1814. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.
7. Tumenggung Notoyudo IV, 1814-1822. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.
8. Tumenggung Mondronagoro I, 1822-1829. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono V, raja Surakarta Hadiningrat.
9. Tumenggung Mondronagoro II, 1829-1847. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VI, raja Surakarta Hadiningrat.
10. Tumenggung Tjakrawerdana I, 1847-1858. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.
11. Tumenggung Tjakrawerdana II, 1858-1873. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VIII, raja Surakarta Hadiningrat.
12. Tumenggung Tjakrawerdana III, 1873-1875. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
13. Tumenggung Tjakrawerdana IV, 1875-1881. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
14. Tumenggung Tjakrawerdaya, 1881-1927.. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
15. Tumenggung Tjakrasewaya, 1927-1950. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
16. RM Soetedjo, 1950-1952. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
17. R Witono, 1952-1954. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
18. RM Kodri, 1954-1958. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
19. DA Santosa, 1958-1965. Dilantik pada jaman pemerintah-an Presiden Soekarno.
20. Hadi Soetomo, 1965-1968. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
21. HS Kartabrata, 1968-1974. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
22. H Moekmin, 1974-1979. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
23. Poedjono Pranyoto, 1979-1987. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
24. H Moch Supardi, 1987-1997. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
25. H Herry Tabri Karto, SH, 1997-2002. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
26. H Probo Yulastoro S.Sos, 2002-2010. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Megawati.
27. Tatto Suwarto Pamudji, menjabat Bupati Cilacap tahun 2010-2020. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Presiden Joko Widodo.
28. Syamsul Aulia Rahman 2025 -2026. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
29. Ammy Amalia Fatma Surya 2026 sampai sekarang. Beliau dilantik pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bagian IV
DAYA PERBAWA SEKAR WIJAYAKUSUMA
Daya perbawa Sekar Wijayakusuma ditunjukkan oleh Prabu Kresna raja negeri Dwarawati. Sunan Paku Buwana II Merawat Sekar Wijaya Kusuma. Atas saran Pangeran Wujil, Kyai Yasadipura dan Tumenggung Honggowongso kerajaan Mataram mengadakan wilujengan. Paku Buwana II berkenan hadir.
Makhluk halus di Tanah Jawa membentuk jaringan Pedhanyangan. Mereka memiliki tugas dan kewenangan sesuai batas kewilayahan. Kekuasaan makhluk halus berpusat di Pulau Nusa Kambangan.
Paku Buwana II dengan teliti menyimak paparan pujangga Kraton. Hadir pula dalam sarasehan ini para bupati bang kulon dan bang wetan.
Angandika alon sri bupati.
dhateng kang abdi kapedhak lama.
Ki Pranataka namane.
Heh gendhewor sireku.
Lumakua sira den aglis.
Sun utus marang Donan.
Ing masigid watu.
Iya ing Nungsa Berambang.
Angambila sekar wijayadi luwih.
Iya Jayakusuma.
Aja mulih yen ta durung olih.
Nadyan silih jambul wanen sira.
Sun upatani yen muleh.
Yen ana kang pitulung.
Dene teka gampang ing benjing.
Kembang wijayamulya.
Mring sira kapangguh.
Wotsekar Ki Pranataka.
Tur sandika ing karya datan gumingsir.
Nadyan dhumateng pejah.
Kawarnaa kang anglugas ragi.
Kang dinuta mring Nungsa Berambang
Ki Pranataka lampahe.
Prapta masigid watu.
Tan anyipta kalamun urip.
Amung anyipta pejah.
Raosing tyasipun.
Tan adhahar tan anendra.
Pitung dina anenedha ing Hyang Widhi.
Mugi antuka karya.
Apan sampun karsaning Hyang Widhi.
Amarengi ing dinten Jumungah.
Tengah wengi ing wayahe.
Ana katingal mancur.
Cahyanira ngebeki bumi.
Ing wite jayamulya.
Wau enggenipun.
Kang sekar jayakusuma.
Mung sarakit nulya pinethik tumuli.
Maring Ki Pranataka.
Pangkur
Dangu denira sineba.
Arsa junjung marang kang abdi-abdi.
Wong kadipaten sadarum.
Sami sinungan nama.
Mandaraka kang wau sampun jinunjung.
Adipati Mandaraka.
Apan kinarya pepatih.
Maring Arya Sindurjeku.
Heh sira ingsun duta.
Lumakua sira mring desa ing Kedhu.
Parimana ing Mataram.
Sapa ingkang angenggeni.
Sinom
Tan winarna solahira.
Wus lepas lampahing baris.
Ing Kaliwungu wus prapta.
Rereb sakala kang baris.
Saksana budhal enjing.
Wus ngancik telatah Kedhu.
Ki Arya Sindureja.
Ing Kathithang den anciki.
Kathah prapta sentanane Parimana.
Dhandhanggula
Sira ngularana sekar adi.
Iya sekar Wijaya Kusuma.
Lah iku sira den oleh.
Sigra saha wotsantun.
Pranantaka saking ing ngarsi.
Sampun mangkat sadaya.
Wau kang ingutus.
Awatara pitung dina.
Kang ingutus mring Tegal bubar tumuli.
Mangkat dhateng Tetegal.
Kala jumeneng sri narapati,
Ing Rebo Epon dinane ika,
Nuju tanggal patlikure,
Ing Sura sasinipun
Taun Wawu den sangkalani,
Janma aneng gegana,
Sinayang ing ratu,
Samana Ki Pranantaka,
Kang ingutus mring Donan amundhut sari,
Praptane antuk karya.
Ki Pranantaka kalangkung dening.
Kapracaya ing salampahira.
Kinulawisudha mangke.
Apan jinunjung lungguh.
Pranantaka sinung kekasih.
Jinunjung saking ngandhap.
Sumengkeng aluhur.
Aran Arya Sindureja.
Kyai Sendhi apan sinungan kekasih.
Aran Demang Urawan.
Asmaradana
Kang den utus sri bupati,
Dhumateng Nungsa Kambangan,
Mundhut kang sekar wastane,
Jayakusuma wus prapta,
Sarakit kang puspita,
Lajeng kunjuk sang aprabu,
Langkung suka sri narendra.
Ngraos tuk nugraha jati,
Sihing Suksmana jenengnya,
Tanah Jawa sedayane,
Wus kagem aneng ing asta,
Suraosing wardaya,
Kyai Pranataka wau
Dhateng kanjeng sri narendra.
Nusa Kambangan menjadi ibukota makhluk halus di Tanah Jawa. Disebut juga Nusa Kambana, Nusa Berambang, Selo Marsigit, Watu Masigit, Dhandhang Mangore. Sejak dulu Nusa Kambangan terkenal angker kepati pati, gawat kaliwat liwat. Paku Buwana II sejak tahun 1726 menempatkan Bupati Donan Cilacap sebagai pimpinan untuk merawat Sekar Wijaya Kusuma. Pusaka Karaton Surakarta Hadiningrat yang berada di daerah ini dikenal sebagai jimat yang ampuh tangguh sepuh wutuh.
Ritual tentang sekar Wijayakusuma sungguh penting.
Mahluk halus di Tanah Jawa sudah patuh kepada Wali Sanga. Sunan Kalijaga diutus Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Raja Demak Bintara membawahi Kerajaan Mahluk halus. Atas bantuan spiritual para Wali. Sekar Wijayakusuma masih dimuliakan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.
Bagian V
SEKAR WIJAYAKUSUMA KAWEDHAR
Wedharan dibicarakan oleh abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat. Ndalem Wetan Trojayan Paremono Mungkid Magelang tempat paheman rapat. Terjadi pada hari Ahad Legi, tanggal 15 Maret 202. Warga Paguyuban Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat atau Pakasa hendak melakukan wiwaha Sekar Wijayakusuma.
Hari yang berbahagia dinanti oleh segenap abdi dalem. Dengan susunan acara yang terperinci wedharan sekar Wijayakusuma dibahas dalam acara paheman.
1.Pembukaan.
2.Sambutan tuan rumah/Ketua Pakasa Kab.Mgl.
3.sambutan pakasa punjer
4.Rapat.
5.Selamatan (wilujengan).
6.Buka bersama.
7.Penutup.
1.Pembawa acara: *K.R.T Untung Hadinagoro A.Md*
2.Sambutan: *K.R.A.T Bagiyono Rumeksodiningrat A.Md*
4.Notulis: *K.R.A Mustiko Adinagoro*
5.Pemimpin Ziarah: *R.T Mantep Widyodipuro*
7.Operator: *M.A.T Winanjar Projoningtyas*
8.Kordinator seksi Konsumsi: *Dra K.M.A.T Eni Lestariningtyas*
KRA : Kanjeng Raden Arya
KRAT : Kanjeng Raden Arya Tumenggung
KMAT : Kanjeng Mas Ayu Tumenggung
RT : Raden Tumenggung
MAT : Mas Ayu Tumenggung
R.R : Raden Roro
R.Ng : Raden Ngabehi
Adapun perwakilan pangarsa Pakasa cabang yang hadir lebih dari 50 orang. Yakni pangarsa Pakasa cabang dari :
1. Pakasa Klaten
2. Pakasa Ponorogo
3. Pakasa Ngawi
4. Pakasa Madiun
5. Pakasa Nganjuk
6. Pakasa Jepara
7. Pakasa Semarang
8. Pakasa Boyolali
9. Pakasa Salatiga.
10. Pakasa cilacap.
11. Pakasa Kudus
12. Pakasa Pati.
Wakil dari pemerintah Kabupaten Magelang yaitu dinas Kebudayaan dan Kesbangpol. Hujan deras yang mengguyur menambah semangat kerja. GKR Wandansari selaku ketua Lembaga Dewan Adat mengikuti jalannya rapat lewat zoom. Lengkap sekali para peserta rapat persiapan. Pilihan tanggal masih dibicarakan lebih lanjut. Sesuai dengan keadaan menjelang lebaran.
Sesepuh Pakasa Magelang memberi saran syarat methik Sekar Wijayakusuma. Dengan ngirit bebek cacah 11. Sementara Pakasa Jepara hendak ngecul dara cacah 14. Lambang Sinuwun Paku Buwono XIV Hangabehi. Lantas KP Probonagoro ketua Pakasa cabang Klaten. Usia lebih dari 82 tahun tetep semangat. Lila lan legawa kanggo milyaning negara. Kebetulan Bu Suci Marheningtyas Probonagoro asli Cilacap. Tentu bisa memperlancar pusaka tanah Jawa.
Utusan Pakasa Salatiga yang dipimpin oleh Bu Retno Robby Hernawan. Istri Walikota Salatiga aktif dalam bidang sosial budaya. Pakasa Ponorogo diwakili Kanjeng Sunarso. Siap kirim seratus jiwa. Kanjeng Suyono mewakili Pakasa Ngawi. Ngalap berkah dari adat Kejawen. Kanjeng Sukoco perwakilan dari Pakasa Nganjuk. Supaya tepat dalam acara adat. Wilujengan dengan doa jangkep genep genah.
Waktu menjelang buka bersama. Rapat berjalan gancar lancar. Magelang menjadi tempat yang cocok untuk rapat. Mbak Eni Endang Lestari merupakan pelopor yang tersohor. Barisan muda mudi dibina demi pelestarian budaya bangsa. (Purwadi)