Pulau Megeti Nusa Kambana
Baca Juga:
PUSAKA MATARAM
Ketua Lokantara,
HP 087864404347
A. Sejarah Sekar Wijayakusuma
Paku Buwana II melakukan tata cara di Donan Cilacap agar selalu rahayu lestari. Donan Cilacap dijadikan tempat tata cara sebelum Paku Buwana II dilantik sebagai raja Mataram. Abdi dalem lengkap ndherek nyengkuyung. Dengan dikoordinir oleh para Bupati Bang Kulon.
Secara historis perlu dilacak keberadaan makhluk halus yang berpusat di Nusa Kambangan. Kabupaten Cilacap dulunya berdiri tanggal 17 Januari 1678. Bernama Kadipaten Donan. Tempatnya di Pulau Nusa Kambangan atau Nusa Berambang. Dalam cerita tutur pedalangan Nusa Kambangan disebut Nusa Kambana, Watu Masigid, Sela Marsigid atau Dhandhang Mangore. Kawasan ini memiliki kewibawaan tinggi, wana gung liwang liwung, bebasan gawat kaliwat liwat, angker kepati pati, jalm mara jalma mati, sato mara keplayu.
Tutur tinular kang wus lumaku. Cerita wayang purwa melukiskan kahyangan Nusa Kambana atau Dhandhang Mangore begitu wingit seram. Penguasa Nungsa Berambang bergelar Sang Hyang Pramoni atau Bethari Durga. Saat bertugas sebagai permaisuri di Kahyangan Junggring Salaka bebisik Sang Hyang Bathari Uma, yang memimpin widodari cantik. Beberapa literatur kesusasteraan menamakan Bethari Durga Umayi. Karaton Surakarta Hadiningrat memberi sesebatan Sang Hyang Bathari Kalayuwati.
Nungsa Berambang atau Donan Nusa Kambangan men-jadi ibukota makhluk halus yang tersebar di Tanah Jawa. Penguasa alam lelembut di tiap-tiap kabupaten harus tunduk pada perintah Sang Hyang Pramoni Durga yang berkedudukan di Watu Masigid Nusa Kambangan. Watu Masigid atau Sela Marsigid adalah istana kediaman Bathari Uma.
Pembangunan istana Sela Marsigid mirip kayangan Suralaya yang serba emas gemerlapan. Bahan bangunan istana Sela Marsigid yakni emas, intan, mutu manikam, jumerut, ratna, suwarna, mutiara warna warni. Wajar sekali karena Sang Pramoni Durga adalah mustikane putri tetunggule widodari. Sekedar untuk diketahui para makhluk halus yang menjadi bawahan Sang Hyang Pramoni Durga di Kahyangan Dhandhang Mangore atau Nungsa Berambang. Mereka adalah pemuka makhluk halus yang berkuasa atas wilayah tertentu. Misalnya Jin Balabatu di Blambangan Banyuwangi.
Adapun asisten yang bertindak sebagai carik sekretaris Sang Hyang Pramoni Durga yaitu Jin Trenggiling Wesi. Berdomisili di daerah Majenang. Segala perintah istana Watu Masigid atau Sela Marsigid pasti melalui Trenggiling Wesi Majenang. Properti istana Sela Marsigid dikelola oleh Jin Nyai Bathithing Tuban. Sedangkan busana kawidodaren untuk Sang Hyang Pramoni diurus oleh Jin Nyai Puspakati. Suguhan makanan sehari hari untuk istana Sela Marsigid Nungsa Berambang disajikan oleh Jin Nyai Roro Denok.
Demikianlah kehidupan istana Marsigid atau Watu Masigid atau kedaton Sela Marsigid. Kediaman asri milik Sang Pramoni Durga atau Bathari Uma ini berlangsung di pulau Nusa Kambangan. Orang menyebut Nungsa Berambang, Nusa Kambana, Dhandhang Mangore. Keistimewaan wilayah kabupaten Donan Tlacap ini adalah menjadi tempat tumbuhnya sekar Wijaya Kusuma. Siapa saja yang berhasil memetik sekar wijaya kusuma hidupnya akan mulia wibawa.
Keistimewaan kadipaten Donan teruji dalam sejarah. Orang melakukan lara lapa tapa brata. Mereka bersemedi di gunung Srandil untuk ngalap berkah pada Eyang Semar atau Kaki Tunggal Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Laku spiritual ini selalu dilakukan oleh para bangsawan mataram secara turunt temurun.
B. Sekar Wijayakusuma di Nusa Kambana.
Paku Buwana II Memetik Sekar Wijaya Kusuma.
Sekar Wijaya Kusuma Mekar di Nusa Kambangan. Pada tahun 1726 saat dinobatkan menjadi raja Mataram, terlebih dulu memetik Sekar wijaya Kusuma. Sebagai pusaka sipat kandel.
Kerajaan Mataram memiliki pusaka Sekar Wijaya Kusuma. Patih Sindureja Diutus Sinuwun Amangkurat Amral Memetik Sekar Wijaya Kusuma di Kadipaten Donan Cilacap. Kegiatan ini berlanjut pada masa pemerintahan Paku Buwana II. Pembangunan Kadipaten Donan Tanah Tlacap atau Cilacap yang mahsyur sudah dirintis oleh Sinuwun Amangkurat Agung. Raja Mataram yang memerintah tahun 1645-1677 ini sangat perhatian pada wilayah Dulangmas, Kedu, Magelang, Banyumas. Kebetulan Kanjeng Ratu Wiratsari memiliki istana cabang Mataram di desa Lesmana Ajibarang Banyumas. Permaisuri raja Amangkurat Agung berjasa besar atas pengembangan Donan Tlacap sebagai kawasan spiritual.
Pada tahun 1677 Sinuwun Amangkurat Amral memindahkan ibukota dari Plered ke Kartasura. Segala persiapan lahir batin dilakukan demi kejayaan Kraton Mataram. Segera Kanjeng Sinuwun Amangkurat Agung membentuk tim Panitia Pembangunan fisik kraton diserahkan kepada Pangeran Pekik Bupati Surabaya. Beliau dibantu tenaga ahli dari Sumenep dan Makasar. Proyek besar pindahan ibukota Mataram ini ditangani oleh para bupati Bang Wetan.
Ditunjuknya keluarga Patih Mandaraka karena sejak dulu memiliki pusaka aji Canda Birawa. Masyarakat Jawa percaya bahwa Aji Candra Birawa dapat menaklukkan segala macam makhluk halus. Aji Canda Birawa pernah digunakan oleh raja Mandaraka, Prabu Salyapati. Ketika memimpin perang Baratayuda jaya binangun, Prabu Salya menjadi senopati agung. Pusaka aji canda birawa hanya bisa dikalahkan oleh Jamus Kalimasada atau dua kalimat syahadat. Itulah konsep iman ilmu, amal, iman Islam ikhsan, cipta rasa karsa.
Kisah ini dihayati benar oleh Paku Buwana II. Surat perintah untuk memetik sekar wijaya kusuma terbit pada tanggal 17 Januari 1678. Tumenggung Pranantaka diutus memetik sekar wijaya kusuma di Donan Nungsa Berambang tanah Tlacap. Tugas mulia dan berat itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Waktu itu Tumenggung Pranantaka juga menjabat sebagai Bupati Tegal tahun 1678-1680.
Kegiatan awal yang dilakukan adalah wilujengan Negari di Sitihinggil Kraton Mataram. Kemudian tahlilan di pendopo Kabupaten Tegal. Istri Tumenggung Pranantaka menyiapkan uba rampe dan sesaji. Kebetulan istri Tumenggung Pranantaka ini pernah kursus di bagian abdi dalem Purwo Kinanthi, sehingga mengenal dengan detail tentang adat istiadat Jawa. Istri Tumenggung Pranantaka itu bernama BRA Kleting Kuning atau Raden Ayu Pucang. Sebagian menyebut Raden Ayu Brongut.
Turut memberi doa restu yakni Tumenggung Urawan Pradotonagoro dan Patih Nerangkusumo. Tumenggung Urawan pegawai kejaksaan Mataram. Patih Nerangkusumo perdana menteri kerajaan Mataram. Kedua sesepuh memimpin upacara tolak balak di Donan Cilacap. Mereka membaca dzikir bergantian. Pembacaan mantra rajah kalacakra dilakukan oleh Ki Dalang Kondho Buwono, penjelmaan Bathara Ismaya yang ngejawantah ing madyapada. Cerita ini dihayati oleh Paku Buwana II.
Khusus tata cara adat wilujengan di Donan Nusa Kambana, dhalang Kondho Buwono harus diperankan oleh titisan Sang Hyang Ismoyo atau Kyai Lurah Semar. Orang menyebut kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo. Beliau sesepuh Donan yang amat ditaati oleh penguasa Nusa Kambangan.
Bersama dengan Eyang Sukmo Sejati. Kunci Sari, Putri Dana Sari Nini Dewi Tunjung Sekar Sari dan tokoh spiritual lainnya sama menjaga Gunung Srandhil. Pengikut peguron Gunung Srandhil yaitu Sunan Kuning, Pangeran Langlang Buana dan Resi Mayangkara. Gunung Srandhil juga merupakan tempat petilasan para Pembesar Pajajaran.
Sang Patih sigra anata baris.
Dhampyak. dhampyak gumregut lampahe.
Binarung krapyak myang watang agathik.
Suraknya gumuruh.
Suguhan mbayu mili. Tak ketinggalan tempe, srabi, tape goreng dan mendoan. Tempe Karanganyar, srabi Wangon, tape goreng Sukaraja dan mendoan Purwokerto menjadi makanan nyamikan saat tirakatan dan lek-lekan.
Sukses besar diperoleh Tumenggung Pranantaka. Wila-yah Donan Nusa Kambangan semakin harum. Tanah Tlacap atau Cilacap termashur di kalangan kejawen. Sekar wijaya kusuma segera diboyong ke Mataram Kartasura. Pada tahun 1685 Tumenggung Pranantaka dilantik menjadi patih kerajaan Mataram Kartasura. Tumenggung Pranantaka bergelar Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Paku Buwana II menghayati kisah leluhur.
Masyarakat Donan Cilacap menghormati Tumenggung Raden Arya Sindurejo I. Beliau dianggap pembuka awal Bumi Cilacap. Kadipaten Cilacap segera ditetapkan sebagai wilayah Kabupaten oleh Sinuwun Amangkurat Amral raja Mataram Kartasura pada tanggal 21 Maret 1678. Jasa besar Patih Sindurejo perlu dikenang. Pada tahun 1701 Patih Sindurejo lengser keprabon madeg pandito. Patih Sindurejo memilih menjadi tenaga pengajar pelatihan tata praja. Beliau wafat tahun 1703 dan dimakamkan di Astanalaya Pasareyan Agung Paremono. Dari daerah Paremono Magelang, para eksekutif tanah Jawa terbina. Trah Paku Buwana II tiap tahun hadir di daerah ini. Sekedar untuk melakukan upacara adat yang berlangsung turun tumurun.
Paku Buwana II membina pimpinan Donan Cilacap.
Penguasa Donan Cilacap selalu tampil bersinar wibawa. Keselarasan jagad gumelar dan jagad gumulung tertata rapi. Paku Buwana II peduli upacara adat. Sebagai pusat kawasan Kejawen, para pemimpin bertindak tepat bijaksana. Toleran terhadap segala bentuk keberagaman.
1. Tumenggung Sindunagoro I, 1678-1710. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Amral, raja Mataram.
3. Tumenggung Sindunagoro III, 1721-1734. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram.
4. Tumenggung Notoyudo I, 1734-1752. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono II, raja Mataram.
6. Tumenggung Notoyudo III, 1793-1814. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.
7. Tumenggung Notoyudo IV, 1814-1822. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.
9. Tumenggung Mondronagoro II, 1829-1847. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VI, raja Surakarta Hadiningrat.
10. Tumenggung Tjakrawerdana I, 1847-1858. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta Hadiningrat.
12. Tumenggung Tjakrawerdana III, 1873-1875. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
13. Tumenggung Tjakrawerdana IV, 1875-1881. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
15. Tumenggung Tjakrasewaya, 1927-1950. Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
16. RM Soetedjo, 1950-1952. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
18. RM Kodri, 1954-1958. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.
19. DA Santosa, 1958-1965. Dilantik pada jaman pemerintah-an Presiden Soekarno.
21. HS Kartabrata, 1968-1974. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
22. H Moekmin, 1974-1979. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
24. H Moch Supardi, 1987-1997. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
25. H Herry Tabri Karto, SH, 1997-2002. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.
27. Tatto Suwarto Pamudji, menjabat Bupati Cilacap tahun 2010-2020. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Presiden Joko Widodo.
Para penguasa Donan Cilacap menghormati adat istiadat yang sudah berjalan. Mereka bisa hidup berdampingan dengan segala lapisan sosial. Termasuk dengan jaringan Kejawen.
Paku Buwana II Merawat Sekar Wijaya Kusuma.
Dalam acara itu dibicarakan pula Jaringan jagade Pedhanyangan. Agar penduduk Jawa ayem tentrem.
Paku Buwana II dengan teliti menyimak paparan pujangga Kraton. Hadir pula dalam sarasehan ini para bupati bang kulon dan bang wetan.
Dhandhanggula
dhateng kang abdi kapedhak lama.
Ki Pranataka namane.
Lumakua sira den aglis.
Sun utus marang Donan.
Iya ing Nungsa Berambang.
Angambila sekar wijayadi luwih.
Aja mulih yen ta durung olih.
Sun upatani yen muleh.
Yen ana kang pitulung.
Kembang wijayamulya.
Mring sira kapangguh.
Tur sandika ing karya datan gumingsir.
Nadyan dhumateng pejah.
Sampun lengser saking ing ngarsa ji.
Pranataka sedya marang Donan.
Warnanen sang aprabu.
Nulya nembang tengara aglis.
Kang wadya gumuruh.
Dhateng nagari ing Tegal.
Ki Arya Mandaraka.
Kang dinuta mring Nungsa Berambang
Ki Pranataka lampahe.
Tan anyipta kalamun urip.
Amung anyipta pejah.
Tan adhahar tan anendra.
Pitung dina anenedha ing Hyang Widhi.
Apan sampun karsaning Hyang Widhi.
Tengah wengi ing wayahe.
Ana katingal mancur.
Ing wite jayamulya.
Wau enggenipun.
Mung sarakit nulya pinethik tumuli.
Maring Ki Pranataka.
Langkung bungah.
dennya antuk kardi
Maring Toyamas jujuge.
Prapta Toyamas suwung.
Ing enu tan winarna.
Ing Tegal wus rawuh.
Sampun katur sekar wijayadi luwih.
Marang sri naranata.
Pangkur
Arsa junjung marang kang abdi-abdi.
Wong kadipaten sadarum.
Mondaraka kang wau sampun jinunjung.
Adipati Mandaraka.
Dene wau Pranantaka.
Andangkara wastanipun.
Nenggih Ki Wiradigda.
Ni Dhakarta wastanira.
Tumenggung Binarong nenggih.
Ingaran wong jagasura.
Angandika wau sri narapati.
Heh sira ingsun duta.
Lumakua sira mring desa ing Kedhu.
Sapa ingkang angenggeni.
Raden Arya Sindureja.
lawan Raden Maduretna.
gumuruh swaraning jalmi.
wong Sarageni neng ngayun.
bandera warna-warna.
busanane lir pendah sekar sataman.
Wus lepas lampahing baris.
Ing Kaliwungu wus prapta.
Saksana budhal enjing.
Wus ngancik telatah Kedhu.
Ing Kathithang den anciki.
Kathah prapta sentanane Parimana.
Dhandhanggula
Kala taksihe amanakawan.
Kala samana kinengken.
Iya kangjeng pangran dipati.
Ngandikane pangeran.
Kang aran Ki Pranantaka.
Si Gendhewor sira ta lungaa aglis.
Sira ngularana sekar adi.
Lah iku sira den oleh.
Sigra saha wotsantun.
Sampun mangkat sadaya.
Wau kang ingutus.
Kang ingutus mring Tegal bubar tumuli.
Mangkat dhateng Tetegal.
Kala jumeneng sri narapati.
Ing Rebo Epon dinane ika.
Ing Sura sasinipun
Taun Wawu den sangkalani.
Sinayang ing ratu.
Samana Ki Pranantaka.
Praptane antuk karya.
Aran sekar Wijayakusuma.
Samana wus ngaturake.
Langkung suka galih narpati.
Rumaos yen sih ing Hyang.
Dhawuh rumasuking nata.
Panjenengan tanah Jawa wus kapusthi.
Ki Pranantaka kalangkung dening.
Kinulawisudha mangke.
Apan jinunjung lungguh.
Jinunjung saking ngandhap.
Sumengkeng aluhur.
Kyai Sendhi apan sinungan kekasih.
Aran Demang Urawan.
Asmaradana
Sang nata sigra parentah
Padha estrenana kabeh
Ngong karya patih ingwang
Sun junjung lungguh tumenggung
Kang den utus sri bupati
Mundhut kang sekar wastane
Jayakusuma wus prapta
Lajeng kunjuk sang aprabu
Langkung suka sri narendra.
Ngraos tuk nugraha jati
Sihing Suksmana jenengnya
Wus kagem aneng ing asta
Suraosing wardaya
Dhateng kanjeng sri narendra.
Sang nata asru ngandika
Si Pranataka samengko
Lan sun paringi nama
Iku arane Tumenggung
Nusa Kambangan menjadi ibukota makhluk halus di Tanah Jawa. Disebut juga Nusa Kambana, Nusa Berambang, Selo Marsigit, Watu Masigit, Dhandhang Mangore. Sejak dulu Nusa Kambangan terkenal angker kepati pati, gawat kaliwat liwat. Paku Buwana II sejak tahun 1726 menempatkan Bupati Donan Cilacap sebagai pimpinan untuk merawat Sekar Wijaya Kusuma. Pusaka Karaton Surakarta Hadiningrat yang berada di daerah ini dikenal sebagai jimat yang ampuh tangguh sepuh wutuh.r
Ritual tentang sekar Wijayakusuma sungguh penting.
Mahluk halus di Tanah Jawa sudah patuh kepada Wali Sanga. Sunan Kalijaga diutus Raden Patah Jimbun Sirullah Syah Alam Akbar. Raja Demak Bintara membawahi Kerajaan Mahluk halus. Atas bantuan spiritual para Wali. Sekar Wijayakusuma masih dimuliakan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat. Upacara adat selalu dengan sejarah Wijayakusuma dari pulau Nusa Kambangan yang terkenal edi peni.