TOBA - Selama ini Jogja dikenal sebagai Kota Pelajar, dan Bali identik dengan perguruan tinggi bertaraf internasional. Namun data terbaru membalik persepsi itu. LLDIKTI Wilayah I — yang membawahi perguruan tinggi swasta (PTS) di Sumatera Utara — kini tercatat sebagai wilayah dengan jumlah institusi perguruan tinggi (IPT) berpredikat Unggul terbanyak di luar Pulau Jawa, melampaui Yogyakarta maupun Bali sekaligus.
Di hadapan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Pejabat Kementerian Pendidikan Tinggi, serta ratusan pimpinan perguruan tinggi swasta se-Sumatera Utara dan Komunitas SEVIMA, ia mengumumkan bahwa 12 IPT di bawah LLDIKTI Wilayah I kini telah berstatus Akreditasi Unggul — melampaui LLDIKTI Yogyakarta dengan 11 PT Unggul dan Bali dengan 9 PT Unggul.
"Di 2023 ketika saya membuat pemetaan, tidak ada satu prodi pun di Sumatera Utara yang akreditasinya Unggul. Tapi update terakhir kita sudah dapat 109 program studi yang Unggul, dan 12 institusi perguruan tinggi yang Unggul. Jadi bertambah 11. Dan yang luar biasa, kita melampaui Jogja dan Bali, jadi mari kuliah dekat rumah saja!," ujar Prof. Saiful Anwar dengan nada bangga.
Baca Juga:Multilayer Effect: Dari Kampus ke Ekonomi Lokal
Dampak dari bertambahnya kampus Unggul di Sumatera Utara tidak hanya dirasakan di dunia akademik. Prof. Saiful Anwar menjelaskan bahwa ketika mahasiswa dari luar provinsi memilih kuliah di Sumatera Utara ketimbang Jawa, efek bergandanya langsung dirasakan masyarakat sekitar kampus.
"Ini suatu kesyukuran karena multiayer effect-nya kepada masyarakat, kepada UMKM, laundry, rumah makan, tempat kos. Tidak lagi ke Jogja, tapi ke kita," katanya.
"Tidak ada lagi masyarakat Sumatera Utara yang harus kuliah di Jawa. Harusnya kuliah di kita saja. Itu target kita bersama-sama," tegas Prof. Dr. Dadan Ramdan, M.Eng., Rektor Universitas Medan Area sekaligus salah satu narasumber Rakerwil, mengamini seruan tersebut.
Tantangan Adanya Tren Kultural untuk Kuliah di Luar Kot
Baca Juga:Di balik capaian gemilang itu, Prof. Saiful Anwar tidak menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang masih besar. Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi Sumatera Utara saat ini baru menyentuh 32,5 persen dari lulusan SMA tahun 2025 — tertinggal dari Aceh yang mencapai 40 persen dan masih di bawah rata-rata nasional.
Penyebabnya bukan semata kapasitas kampus, melainkan pola pilihan keluarga kelas menengah atas Sumatera Utara yang secara kultural masih mengarahkan anak mereka ke Jawa, Malaysia, bahkan Singapura.
"Orang Sumatera Utara kelas menengah ke atas itu tidak mau anaknya kuliah di Medan. Anaknya kuliah ke Jawa, ke Bandung, ke Jakarta, ke Jogja, Surabaya. Termasuk saya — dua anak saya tidak kuliah di Medan. Yang paling besar di Malaysia dulu S1-nya, yang kedua di Jogja," akunya dengan terbuka, disambut tawa peserta.
Keunggulan Kampus Swasta: Hadir Sampai Pelosok Kabupaten
Prof. Saiful Anwar menyoroti keunggulan strategis PTS Sumatera Utara yang tidak dimiliki PTN: jangkauan geografis hingga ke kabupaten-kabupaten terpencil. Sementara PTN mayoritas terkonsentrasi di Medan, PTS tersebar hingga Nias Selatan dan Mandailing Natal — menjangkau anak-anak bangsa yang tidak memiliki akses ke kota besar.
Inilah yang ia maksud dengan makna *inklusif* dalam tema Rakerwil tahun ini: *"Pendidikan Tinggi Inklusif, Adaptif, dan Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045."* Inklusif bukan hanya soal keterjangkauan biaya, tetapi soal keterjangkauan jarak — dari desa hingga kota, seluruh anak bangsa harus bisa masuk perguruan tinggi.
Rakerwil LLDIKTI Wilayah I 2026 berlangsung dua hari, Kamis–Jumat, 9–10 April 2026, mulai pukul 09.00 WIB, dengan puncak acara berupa Penyerahan Anugerah LLDIKTI Wilayah I Tahun 2025 pada hari kedua.rel