Senin, 12 Januari 2026

Amerika Bergolak dan Penuh Demonstran; Matinya Seorang Penyair Wanita, Dituduh Sebagai Teroris Domestik

Nas - Minggu, 11 Januari 2026 22:20 WIB
Amerika Bergolak dan Penuh Demonstran; Matinya Seorang Penyair Wanita, Dituduh Sebagai Teroris Domestik
Istimewa

Catatan H. Dheni Kurnia

MENDUNG di Kota Minneapolis Selatan, mengantar kepergian seorang penyair wanita Amerika Serikat, Rabu (7/1/26) siang. Penyair bernama Renee Nicole Good itu, ditembak mati petugas Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) setempat. Dia berlumuran darah dalam mobil SUV yang dikemudikannya, meski sempat membela diri dengan kata-kata yang lebih mirip puisi.

Seorang petugas ICE menembak Renee Nicole (37), melalui jendela mobil. Insiden mematikan ini langsung memicu kemarahan publik dan memperkeruh situasi di tengah operasi pengetatan imigrasi. Akibatnya, Amerika Serikat bergolak dan dipenuhi para demonstran di beberapa negara bagian hingga Minggu pagi ini. Bahkan Presiden Donald Trump di negara bagian Minnesota itu, mendapat caci maki yang dahsyat dengan spanduk yang kasar dan kata olok-olok.

Warga Minnesota masih menyimpan trauma mendalam ataspembunuhan George Floydpada 2020. Kematian Floyd, viral di Amerika, karena selama 9 menit 29 detik (25/5/2020), dia disiksa sorang polisi Minneapolis bernama Derek Chauvin. Petugas itu, menekan lutut dan berat tubuhnya ke leher George Floyd di persimpangan jalan. Saat Floyd memanggil ibunya dalam kata-kata terakhirnya, Chauvin membunuhnya di tengah orang-orang yang menyaksikan.

Kini kasus itu terulang kembali. Seorang wanita yang menyebut diri sebagai penyair dan baru saja mendapat penghargaan sastra, juga tewas ditembak dengan menggenaskan. Renee baru pindah ke Minneapolis pada tahun lalu dari Kansas City.

Minnesota Star Tribunemelaporkan, dia pernah menjadi pembawa acara podcast bersama suami keduanya, Tim Macklin, yang meninggal pada 2023. "Mereka memiliki seorang putra, yang sekarang berusia enam tahun," kata ayah Tim Macklin kepada surat kabar tersebut.

Menurut laporan Kantor Berita BBC News, Renee memiliki dua anak lain dengan suami pertamanya. Dia bukanlah seorang aktivis dan dia seorang Kristen yang taat. Korban pernah pergi ke Irlandia Utara untuk misi pemuda ketika masih belia. Bahkan sebelumnya lagi, Renee bekerja sebagai asisten dokter gigi di sebuah koperasi kredit.
.
Laporan dari Associated Press, menuliskan, sebagian besar hidup Renee, menjadi ibu rumah tangga dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan belakangan dia terjun sebagai seorang relawan yang memantau aktivitas pasukan keamanan dalam unjuk rasa. Tujuan mereka adalah untuk membantu menjaga ketenangan, mencegah pelanggaran, dan memastikan hak-hak hukum dihormati.

Ibu Renee mengatakan kepadaMinnesota Star Tribune, putrinya "bukan bagian dari apa pun" yang melibatkan penentangan terhadap agen ICE. Ibu Donna Ganger, menjelaskan, putrinya mungkin ketakutan saat bersitegang dengan aparat imigrasi yang melihatnya. Renee kemudian ditembak hingga mati.

Sang ibu menambahkan, anaknya itu merupakan salah satu orang paling baik yang pernah dia kenal dan rasakan. "Dia sangat penyayang dan baik dengan banyak orang. Dia tetangga yang paling familiar. Sahabatnya juga banyak," ujar Ganger kepada surat kabar harian tersebut.

Namun, para pejabat Gedung Putih, termasuk Presiden Trump, mengatakan bahwa Renee tidak hanya mengamati, tetapi juga ikut campur dalam pekerjaan para petugas. Karena itu, Trump menyebut, masyarakat jangan terpancing dengan ucapan orang yang bilang dia baik dan penyayang. Dia itu teroris domestik, katanya.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, berkata bahwa Renee telah menguntit dan menghalangi pekerjaan mereka, sepanjang hari dengan "memblokir mereka" dengan mobilnya dan meneriaki mereka. "Renee mempersenjatai kendaraannya," kata Noem kepada wartawan, dan kemudian mencoba menabrak salah satu petugas dalam upaya untuk membunuh atau melukai.

Kenapa petugas menghilangkan nyawa Renee? Menurut Noem, petugas imigrasi federal AS, juga takut kehilangan nyawanya. Makanya petugas melepaskan tembakan guna membela diri. Mereka mendapat laporan, bahwa Renee berada di lokasi penggerebekan petugas imigrasi ICE, sebagai pengamat hukum —seorang relawan yang memantau aktivitas polisi dan pasukan keamanan dalam unjuk rasa serta berbagai operasinya.

Klaim menteri keamanan AS ini, didukung oleh Donald Trump, yang menulis diTruth Socialbahwa perempuan yang mengendarai mobil itu sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan. Trump menegaskan, Renee adalah penghasut profesional yang dengan kasar, sengaja, dan kejam menabrak seorang petugas ICE.

Namun walikota kota Menniapolis mengatakan, petugas imigrasi yang menembak Renee telah bertindak sembrono. "Setelah melihat videonya, saya ingin mengatakan kepada semua orang secara langsung: itu omong kosong," kata Walikota Jacob Frey.

Penembak itu, jelas walikota, adalah seorang petugas yang menyalahgunakan kekuasaan secara sembrono yang mengakibatkan seseorang meninggal, terbunuh. Dan Renee tinggal hanya beberapa blok dari tempat dia dibunuh. Lokasi kejadian, tambah Pak Walikota, berjarak sekitar satu mil dari tempat George Floyd dibunuh pada 2020 oleh seorang petugas polisi kota.

Untuk itu, Walikota Jacob Frey, sangat setuju bila masyarakat mengumpulkan dana untuk Renee Nicole. Dana yang terkumpul akan diberikan kepada orangtua dan anak-anaknya. Penggalangan dana untuk keluarga Renee, yang ditargetkan sebesar $50.000 atau sekitar Rp841.600.000, berhasil dikumpulkan lebih dari $370.000 dalam waktu hanya 10 jam.

#Penghargaan Sastra#

Renee Nicole Good, dikenal oleh teman-temannya sebagai pecinta seni dan kebudayaan. Dia juga diketahui sebagai penulis dan tokoh sastra di kalangan anak muda. Dia seorang penulis kreatif di Old Dominion University, Norfolk, Virginia. Bahkan sebagian orang menggelarinya penyair, setelah memperhatikan dan mendengarkan dia membaca puisi .

Karena itu, pada 2020, dia memenangkan sebuah penghargaan sastra dariAcademy of American Poetsuntuk karyanya yang berjudulOn Learning to Dissect Fetal Pigs. Karya itu bahkan menjadi viral, dan anak-anak muda sering membacakan di beberapa tempat.

Selain penulis kreatif, Renee sering diminta menjadi pembicara dalam pertemuan sastra dan kebudayaan di kampus atau di komunitas kesenian. Dia juga hobi menonton film secara maraton dan membuat karya seni bersama putri dan kedua putranya. Dia juga sering menulis catatan harian di biografinya.

Renee lulus dari Fakultas Seni dan Sastra, Old Dominion University, Norfolk, Virginia, dengan gelar di bidang Sastra Iggris. Karena itu, iya selalu melahirkan karya-karya yang banyak mendapat pujian dan kritikan dari para sastrawan besar di Amerika.

Presiden Universitas Old Dominion, Brian Hemphill, dalam sebuah pernyataan resmi menyatakan, kematian mendadaknya adalah contoh nyata bahwa ketakutan dan kekerasan di Amerika telah menjadi hal biasa di negara ini.

"Semoga kehidupan Renee menjadi pengingat tentang apa yang menyatukan kita: Kebebasan, cinta, dan perdamaian," tulis Presiden Universitas Old Dominion, Brian.

Begitulah! Itulah yang dihadapi Renee.Nicole Good. Kematiannya, benar-benar membuat Amerika bergolak dimana-mana, bahkan kini hampir di sebagian besar negara bagian Amerika. Kita hanya bisa mengamati dan hanya bisa nenebak-nebak, apakah Renee seorang sarjana sastra atau seorang teroris? Entahlah! ***

* Dheni Kurnia adalah Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau dan Pemimpin Redaksi Harian Vokal dan SpektrumID.com

Editor
: Nas
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
 
Komentar