BANGKOK, THAILAND - Di tengah perhatian global yang masih tertuju pada persaingan AI, kini Thailand mulai membangun identitas baru sebagai "Pusat AI bagi Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (PERBARA/ASEAN)". Pemerintah terus mendorong inisiatif "Thailand 4.0" secara konsisten, dengan menempatkan ekonomi digital sebagai penggerak utama transformasi nasional.
1. Lonjakan lalu lintas yang membebani jaringan yang ada: Dibandingkan dengan pusat yang telah matang seperti Singapura, Thailand masih memiliki keterbatasan jumlah kabel bawah laut internasional. Sebagian besar data lintas negara masih harus ditransmisikan melalui jalur memutar. Sementara itu, seiring peningkatan investasi pusat data, volume lalu lintas juga akan terus bertambah. Analisis menunjukkan bahwa pada tahun 2029, kapasitas pusat data Thailand bisa mencapai 2.000 MW, dengan lalu lintas ke luar wilayah yang melonjak hingga 630 Tbps. Arsitektur jaringan saat ini sudah tidak mampu mendukung beban lalu lintas sebesar itu lagi.
2. Keunggulan latensi belum sepenuhnya terwujud: Meskipun memiliki keunggulan geografis, tetapi kinerja latensi jaringan Thailand belum mencapai potensi maksimalnya sepenuhnya. Rute menuju pasar utama, seperti Tiongkok, masih memerlukan transit pihak ketiga. Selain itu, penjadwalan jaringan tradisional belum memiliki kapabilitas pemilihan rute secara cerdas, sehingga menyulitkan penyediaan jaminan deterministik bagi layanan yang peka terhadap latensi, seperti transaksi keuangan dan interaksi AI waktu nyata.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Thailand bisa menempuh pendekatan yang sistematis dalam meningkatkan infrastruktur digitalnya, dengan tujuan membangun jaringan generasi berikutnya yang siap mendukung AI.
1. Membangun konektivitas "laut–darat" dengan bandwidth yang sangat tinggi. Dengan menghadirkan kabel bawah laut yang baru secara aktif, Thailand bisa meningkatkan konektivitasnya dengan kawasan Asia-Pasifik dan dunia secara signifikan. Sementara itu, percepatan pembangunan dan perluasan jalur kabel darat utama, seperti Tiongkok–Laos–Thailand dan Thailand–Malaysia–Singapura, akan mengubah keunggulan geografis Thailand menjadi keunggulan konektivitas yang nyata.
3. Merancang arsitektur dengan ketahanan tinggi yang "tidak pernah terputus". Penerapan jaringan pusat data aktif-ganda dengan kemampuan peralihan dalam hitungan milidetik memastikan keberlangsungan layanan inti. Sementara itu, operasi dan pemeliharaan cerdas berbasis AI dapat memangkas waktu deteksi dan diagnosis gangguan dari hitungan jam menjadi menit.
Pesatnya pertumbuhan industri AI dan pusat data di Thailand mendorong peningkatan yang cepat pada permintaan bisnis regional dan lintas negara. Dalam tren ini, pembangunan infrastruktur jaringan yang berpusat pada pusat data menjadi mesin utama yang mendorong transformasi AI, serta membawa Thailand menjadi makin dekat dengan visinya untuk menjadi pusat AI yang baru bagi ASEAN.rel