PAKASA MAGELANG PEWARIS KEPATIHAN MATARAM
Patih Sindurejo keturunan Patih Mandaraka dan Juru Martani. Keluarga eksekutif Kerajaan Mataram yang tersohor. Pada tanggal 15 Januari 2026 PAKASA Magelang melakukan tata cara. Dipimpin langsung oleh Kanjeng Bagiyono. Acara begitu penting dalam rangka untuk nguri nguri warisan luhur.
Lebih dahulu melacak perguruan masa lalu. Warga PAKASA Magelang peduli pada ngelmu sejati.
Padhepokan Syekh Subakir diperhatikan oleh warga PAKASA Magelang. Tiap saat perguruan gunung Tidar melakukan sarasehan ilmu kasampurnan. Kitab Jawa klasik dikaji dengan teori filologi. Syekh Subakir didampingi Ki Ageng Jatisawit mbabar kawruh sangkan paraning dumadi.
Maskumambang
Padhepokan Plikon Trasan Syekh Subakir,
Kondhang mapan ing Magelang,
Dadi punjer tanah Jawi,
Wikan ilmu sangkan paran.
Mistik kejawen dikaji berdasarkan perbandingan naskah. Pengajaran ilmu makrifat jati. Terlebih dahulu Syekh Subakir bertapa di dhusun Plikon Trasan Bandongan Magelang. Berlangsung tiap malem Selasa Kliwon. Ilmu iku kelakone kanthi laku. Sumusup ing rasa jati.
Kyai Damar Murub berupa pusaka keris. Sedang Kendi Pratala adalah pusaka yang berupa tempat untuk menyimpan air. Kedua pusaka itu mempunyai daya linuwih yang ampuh, sepuh, tangguh. Sesepuh ini lelaku di gunung Tidar sebagai arena kosmis Tanah Jawa. Tidar merupakan kegiatan mati sadar, yakni mati sajroning ngaurip.
Sinom
Saperenging gunung Tidar,
Wibawa widada lungit,
Tidar iku mati sadar,
Manunggaling barang kalih,
Pikir manah manggalih,
Gathuk mathuk pucak pucuk,
Tanah Jawa warata,
Kuncara aneng sakbumi,
Sami prapta dhampyak dhampyak saben warsa.
Daerah Plikon Trasan sangat diperhatikan. Syekh Subakir mbabar ngelmu kasampurnan di pertapan Gunung Tidar. Terbiasa dengan laku tapa brata. Kerap melakukan tapa ngalong, tapa ngidang, tapa pendhem, tapa kungkum, tapa ngrame. Jadilah Syekh Subakir sebagai brahmana yang kesdik paningale, lantip panggraitane, mateng semedine.
Pemuda Plikon Trasan begitu aktif dalam ngudi ilmi. Siswa di pertapan Gunung Tidar berasal dari bang wetan, bang kulon, kawasan pesisir dan manca negara. Syekh Subakir terbukti sebagai brahmana yang sakti mandraguna. Syekh Subakir atau Empu Sangkala berpengalaman sebagai pangembat tata praja, sebagai raja di Kraton Medang Kamulan. Makanya Syekh Subakir yang berpengalaman di bidang pemerintahan dan ilmu kebatinan ini sangat dihormati oleh para ulama dan raja. Kontribusi priyayi Plikon Trasan cukup bermakna dalam menganyam peradaban.
Daya linuwih Syekh Subakir didukung adanya pusaka Kendhi Pratala. Pusaka ini merupakan tempat air yang terbuat dari keramik. Bentuknya seperti moncong dengan paruh berjumlah empat buah. Kendi pratala setiap bulan Sura diberi sesaji oleh para siswa di pertapan Gunung Tidar. Kendhi pratala dan keris damar murub menjadi kekuatan spiritual Syekh Subakir dalam menjalankan ilmu laku.
Megatruh
Sipat kandel amarga budi rahayu,
Kendhi pratala nyartani,
Warga Magelang kayungyun,
Padhang teranging galih,
Ayem tentrem lahir batos.
Kedua pusaka Syekh Subakir itu hadiah Kyai Lurah Semar yang merupakan penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Kehadiran Sang Hyang Ismaya turun ke ngarcapada menjelma Kyai Lurah Semar atas dhawuh perintah Sang Hyang Wenang. Beliau merupakan dewa yang tinggal di kayangan Alang- alang Kumitir.
Maka para dewa yang berkahyangan di puncak Gunung Tengguru tanah Hindi, yang nantinya disebut Gunung Himalaya, datang ke Pulau Jawa. Pimpinan para dewa adalah Sang Hyang Manikmaya, atau Sang Hyang Guru. Ia menjadi raja mengepalai para dewa. Maka pulau tadi dinamakan Pulau Jawa oleh Sang Hyang Manikmaya, berasal dari kata dawa. Akan tetapi pada waktu itu yang menyebut demikian hanya para dewa. Setelah para dewa di Pulau Jawa lamanya 15 tahun, lalu semua muksa kembali ke kahyangan di puncak Gunung Tengguru tanah Hindi. Pulau Jawa kembali sepi seperti sedia kala. Suwung sonya sepi. Alam awang uwung.
Tunggal papane, seje caritane. Maka tersebutlah di tanah Hindustan. Ada seorang raja brahmana, bernama Prabu Isaka atau yang disebut Prabu Aji Saka. Prabu Isaka tadi adalah putra Prabu Iwasaka atau Batara Anggajali. Batara Anggajali adalah anak Batara Ramayadi atau yang bernama Ramadi. Empu Ramadi adalah putra Sanghyang Ramaprawa. Sang Hyang Ramaprawa anak Sang Hyang Hening saudara Sang Hyang Tunggal. Ia bertahta lamanya 46 tahun dan mengungsi ke hutan. Di hutan ditemui oleh ayahanda yang telah menjadi dewa yang bernama Batara Anggajali tadi. Prabu Isaka diajari berbagai laku oleh ayahnya sehingga ia mendapatkan banyak kesaktian sebagaimana para dewa. Setelah itu ia diperintahkan untuk bertapa di sebuah pulau yang panjang atau dawa yang sepi dan telah diberi nama oleh Sang Hyang Guru yakni Pulau Jawa. Prabu Isaka kamudian bergegas mencarinya. Nuting jaman kelakone.
Prabu Isaka sangat terkagum kagum mengetahui panjangnya pulau, karena dari Aceh sampai Bali masih utuh menjadi satu. Serta dalam pulau tersebut banyak tanaman jawawut sepanjang pulau. Menurut pemikiran Prabu Isaka, cocok dengan pemberian nama oleh Sang Hyang Guru seperti yang diceritakan ayahandanya. Maka Prabu Isaka juga memberi nama Pulau Jawa, artinya pulau Jawawut, atau pulau panjang. Inilah permulaan pulau ini bernama Pulau Jawa. Serta banyaknya gunung, sungai dan hutan -hutan yang dilalui diberi nama semua oleh Prabu Isaka. Tanah yang diinjak pertama kala diberi nama Purwapada.
Wosing gati titi permati. Diceritakan perjalanan Prabu Isaka mengelilingi Pulau Jawa mendapat kemudahan dari Hyang Suksma. Ia hanya membutuhkan waktu 103 hari, sudah merata semua. Prabu Isaka lalu bertempat di Gunung Hyang, yakni Gunung Kendeng di daerah Prabalingga dan Besuki. Hutan- hutannya dibabat dan didirikan rumah. Permulaan pembabatan ketika hari soma tanggal 14, pada masa sitra, masih dalam tahun sambrama.
B. Ilmu Laku
PAKASA Magelang ngudi kawruh. Maka pengajaran Ilmu kasampurnan oleh para sarjana winasis. Ngelmu kasampurnan diajarkan di pertapan Gunung Tidar oleh Syekh Subakir. Perjalanan Syekh Subakir dari negeri Hindustan ke tanah Jawa melalui proses historis yang sangat panjang. Kawruh sangkan paraning dumadi menjadi bahan refleksi kolektif. Tersebutlah, ketika Empu Sangkala sudah menetap di Gunung Hyang, ia senantiasa memuja dan semedi setiap hari mengheningkan cipta, menghayati kehendak Yang Maha Kuasa.
Mbabar kawruh dhuwur Syekh Subakir,
Dhusun Trasan Plikon,
Ing Bandongan Magelang dhepoke,
Mulang masyarakat kinen becik,
Tharik tharik apik,
Tangguh wutuh ampuh.
Ing Magelang akeh peninggalan candi,
Borobudur Pawon,
Den jangkepi ana candi Ngawen,
Genep genah mengku piwulang utami,
Kanggo sangu urip,
Patut candi Mendut.
Kemudian hari berikutnya, Empu Sangkala kedatangan cahaya kuning. Yang berada dalam cahaya kuning kelihatan raksasa mengaku bernama Sang Hyang Kala. Ia mengajarkan berbagai rupa ulah sandi upaya panduking karti sampeka, dan menggunakan pangedepan, panglerepan serta segala sesuatunya. Empu Sangkala paham lalu Sang Hyang Kala muksa. Pada hari itu Empu Sangkala menamainya hari Kala.
Kemudian hari berikutnya, Empu Sangkala kedatangan cahaya merah. Yang berada dalam cahaya merah kelihatan brahmana mengaku bernama Sang Hyang Brahma. Ia mengajarkan segala rupa pengetahuan mengatahui sebelum terjadi, waspada kepada yang ghaib atau yang samar. Empu Sangkala paham lalu Sang Hyang Brahma muksa. Pada hari itu Empu Sangkala menamainya hari Brahma.
Kemudian hari berikutnya, Empu Sangkala kedatangan cahaya hijau berwarna- warni. Yang berada dalam cahaya kelihatan seperti mengawasi, bernama Sang Hyang Guru. Ia mengajarkan berbagai rupa ulah kepandaian memanah, atau ilmu kesempurnaan dan penitisan mati dalam hidup, dan kemuliaan asal mula semua. Empu Sangkala sudah paham lalu Sang Hyang Guru muksa. Hari itu oleh Empu Sangkala dinamainya hari Guru.
Pada hari berikutnya, Empu Sangkala melakukan sembah lima kali. Dalam satu hari satu kali. Mulai hari Sri, Empu Sangkala menyembah kepada Dewi Sri, menghadap ke timur. Pada hari Kala menyembah kepada Sang Hyang Kala, menghadap ke selatan. Pada hari Brahma menyembah Sang Hyang Brahma, menghadap ke barat. Pada hari Wisnu menyembah Sang Hyang Wisnu, menghadap ke utara. Pada hari Guru, menyembah kepada Sang Hyang Guru, menunduk ke bumi dan mendongak ke angkasa. Demikian selamanya.
Gagah megah endah mewah berkah,
Wewengkon edi asri,
Bakni kisma tirta,
Caket raket sajuga,
Sindara Merbabu Merapi,
Sumbing prawata,
Gumelar murakabi.
Borobudur Pawon Mendut candi kuna,
Bangunan edi peni,
Wujud olah jiwa,
Amaca pralampita,
Wejangan wedharan kawuri,
Wasis waskitha,
Wicaksana ing budi.
Tempat Sang pendeta duduk di balai kembang, airnya jernih mengitarinya, ditepinya ditumbuhi bunga- bungaan yang sedang berbunga semerbak harum. Padepokan tersebut disebut Gunung Tidar, pusat tanah Jawa. Dari pucak Candi Borobudur, gunung Tidar jelas terlihat indah bersinar terang. PAKASA Magelang berusa untuk menghormati para leluhur.
C. Warisan Agung
Dalam agama Hindu dikenal sistem kekuasaan yang berupa konsep dewa raja. Samaratungga adalah raja Mataram Kuno dari Dinasti Syailendra, penganut agama Budha Mahayana. Raja Samaratungga ini mempunyai karya monumental, yaitu Candi Borobudur. Samaratungga berperan menjadi pengatur segala dimensi kehidupan rakyat. Masyarakat Plikon Trasan berpartisipasi untuk membangun.
Pucung
Langkah patut Magelang tandah anyebut,
Barang kuna lawas,
Mula wajib den pepetri,
Putra wayah lakune nganggo wewarah.
Ahli filologi Plikon Trasan Bandongan Magelang cukup meyakinkan. Dari naskah- naskah berbahasa Jawa Kuno seperti Kitab Canda Karana, Agastya Parwa, Adi Parwa, Saba Parwa, Swarga -rohana Parwa, Arjuna Wiwaha, Hari Wangsa, Wreta Sancaya dan Kunjara Karna, dapat ditelusuri bahwa dasar- dasar pandangan hidup Jawa sudah berlangsung sejak kuno. Salah satunya adalah pandangan hidup tentang dusun. Raja menjadikan para prajurit- prajuritnya untuk mengepalai dusun dan mempertahankan dusun sebagai tempat tinggalnya itu dari serbuan musuh. Sikap setia kepada dusun sebagai tanah yang disakralkan. Tirta kamandanu.
Keharmonisannya membuat rakyat Mataram bertambah aman dan damai. Hanya saja, adik Pramodha Wardhani yang bernama Balaputra Dewa kurang terkenal. Akhirnya dia merantau ke Sumatra dan mendirikan kerajaan Palembang. Dalam menjalankan pemerintahan dan keagamaan, Pramoda Wardhani menggunakan pedoman Wahyu Kadewan sebagai mas sumawur ing jagat.
Dalam Serat Pustaka Raja Purwa, raja dalam mengatur agama dengan ilham dari dewa. Seorang raja dari Kerajaan Purwacarita yang menguasai seluruh Jawa, yakni Sri Maha Punggung atau Sri Maharaja Kano, dianggap merupakan peletak dasar keagamaan orang Jawa, karena ia mendapat wahyu kadewan. Kata kano berasal dari kata kanwa, sama dengan katong dari kata katwang yang artinya adalah raja. Sejak saat itu, orang Jawa dibagi dalam enam agama yakni Brahma, Wisnu, Indra, Bayu, Sambo dan Kala. Masing- masing memiliki ritual yang berbeda- beda. Tata raharjane wong saknegara.
Ingatlah Panata Gama ini: Balaputra Dewa adalah putra Raja Samaratungga yang beragama Budha. Ibunya bernama Dewi Tara. Prasasti Ratu Baka tahun 856 menyebutkan bahwa telah terjadi perebutan kekuasaan yang merupakan tuntutan atas tahta kerajaan di Jawa Tengah dari Balaputra Dewa terhadap Rakai Pikatan. Adapun yang menjadi sebab tuntutan tersebut kemungkinan besar ialah Balaputra merasa irihati melihat kekuasaan dan pengaruh Rakai Pikatan di Jawa Tengah setelah Samaratungga wafat. Surut ing kasedan jati.
Karena Rakai Pikatan berasal dari dinasti Sanjaya, maka Balaputra tidak setuju. Balaputra merasa berhak atas tahta kerajaan di Jawa Tengah, karena dia anak laki- laki Samaratungga yang berdarah Syailendra. Kemudian Balaputra berkuasa di Sumatera. Akhirnya ia menjadi raja di Sriwijaya di kota Palembang.
Wikan sangkan paran. Istilah Borobudur berasal dari kata bara = biara, budur = tinggi. Bangunan Candi Borobudur terdiri dari tiga bagian yaitu: kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Kamadhatu, Merupakan alam bawah, tempat bersemayamnya manusia lumrah. Secara simbolis mengandung arti tingkat manusia dalam usia kanak-kanak, yang masih tergoda oleh kesenangan duniawi, bermain -main, hedonis rekreatif, dan egoistis. Mesu reh kasudarman.
Rupadhatu merupakan alam antara tempat bersemayamnya manusia yang sudah mencapai tingkat kedewasaan. Manusia yang bertanggung jawab, sungguh- sungguh berusaha untuk mencapai cita-cita, seimbang, dan humanistik. Mawas dhiri.
Candi Borobudur terletak di Magelang dengan dikelilingi gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Menoreh. Di dekat juga terdapat Candi Pawon, Candi Mendut dan Candi Sewu. Ketiga candi ini adalah warisan Dinasti Syailendra yang memerintah antara tahun 778 abad 10 di Jawa Tengah. Dinasti Syailendra berarti raja gunung.
Pembagian strata dalam Candi Borobudur itu melambangkan cipta, rasa dan karsa manusia. Istilah cipta dalam budaya Jawa populer dengan adanya nama Begawan Ciptaning, yaitu nama tokoh Arjuna ketika sedang melakukan tapa brata di Wukir Indrakila. Juga istilah keplasing cipta yaitu ketajaman nalar menerobos batas ruang dan waktu. Narabasing mega mendhung.
Rasa dalam budaya Jawa mendapat apresiasi yang cukup tinggi. Adanya istilah bawa rasa, angon rasa, rasa pangrasa menunjukkan orang Jawa sangat peduli dengan aspek perasaan. Dalam istilah kefilsafatan rasa dekat dengan konsep estetika. Menjaga perasaan berarti menghormati batin orang lain agar tidak sakit hati dan terluka. Karyenak tyasing sesama.
Pikiran, ucapan dan tindakan yang selalu angon rasa berarti berhati -hati terhadap apapun produk ucapan dan sikap, jangan sampai mengganggu perasaan orang lain. Orang yang egois dan materialis sulit sekali memahami perasaan orang lain. Tentu saja, sikap yang kurang memperhatikan orang lain akan membuat persahabatan menjadi mudah renggang. Persaudaraan yang hanya dilandasi pikiran untung rugi biasanya tidak akan langgeng. Ulat patrap lan pangucap.
Kawruh kasampurnan. Tokoh Bima dalam wayang, menggambarkan tekad kuat dan suci serta gigih dalam mencapai cita-cita. Lakon Bimasuci yang mengisahkan cita- cita Bima untuk mencari air kehidupan, dilakukannya dengan sepenuh tekad yang sangat patut diteladani. Setelah bertemu dengan yang dicari, kemudian Bima pun menyebarkan pengalamannya pada orang lain. Di Pertapaan Arga kelasa ia membuka padepokan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk menyebarkan ilmu kepada orang lain. Tirta perwita sari.
Kabupaten Magelang memiliki sejarah peradaban yang agung dan anggun. Kraton Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya menjadikan daerah daerah tertentu sebagai wilayah perdikan. Misalnya wilayah yang diapit Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Telamaya, Gunung Ungaran dan Gunung Menoreh, sebagai daerah perdikan yang memiliki hak- hak keistimewaan. Jalma sulaksana.
Saat naik prau gethek yang berhulu dari gunung Merbabu Joko Tingkir atau Mas Karebet menghayati makna hidup. Kali Serang bermata air dari Gunung Merbabu, lantas mengalir ke wilayah Semarang, Salatiga, Boyolali, Grobogan, Kudus, Demak dan Jepara. Atas petunjuk Ki Ageng Banyubiru, Joko Tingkir mendapat kewibawaan di Kasultanan Demak Bintara. Kelak Joko Tingkir atau Mas Karebet menjadi raja di Kraton Pajang. Babad Tanah Jawi menyebut dengan
Megatruh
Naiknya Joko Tingkir atau Mas Karebet menjadi raja Pajang tak lepas dari jasa Ki Ageng Penjawi, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani dan Ki Ageng Karotangan.
Daerah Magelang diserahkan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Karotangan. Beliau adik Ki Ageng Pemanahan. Kedua orang tokoh pendiri Mataram ini anak kandung Ki Ageng Enis yang sumare di Laweyan. Ki Ageng Enis anak Ki Ageng Sela. Sedang Ki Ageng Sela anak Ki Ageng Getas Pendawa. Adapun Getas Pendawa merupakan anak Lembu Peteng atau Bondan Kejawan yang menikah dengan Dewi Nawangsih.
Sudah diketahui pula bahwa Adipati Wilwatikta adalah ayah Kanjeng Sunan Kalijaga. Dengan demikian Ki Ageng Karotangan masih satu darah dengan Sunan Kalijaga. Ki Ageng Karotangan sebagai ahli budaya, agama, seni, sastra, pertanian dan pemerintahan layak diberi tugas untuk membina wilayah Magelang. Untuk sementara pimpinan Magelang diserahkan kepada Adipati Mandaraka. Beliau anak Ki Ageng Karotangan yang lama diasuh oleh Ki Ageng Juru Martani.
Kinanthi
Kali Praga mili banyu,
Kang ambelah tanah Jawi,
Tumuju marang samudra,
Juru dagang kanca tani,
Lumampah srana baita,
Arep urup arep urip.
Harap diketahui bahwa Juru Martani adalah tokoh utama Mataram yang tidak punya anak. Sehingga beliau cukup dengan mengasuh kemenakan- kemenakannya. Harapan ini terwujud karena semua anak didik Ki Ageng Juru Martani menjadi orang ternama. Misalnya Ngabehi Loring Pasar atau Danang Sutawijaya kelak menjadi raja Mataram pertama dengan gelar Panembahan Senopati. Asisten dari Plikon Trasan memberi bantuan yang mengagumkan. Maka Plikon Trasan Magelang pantas dikenang sepanjang masa. PAKASA Magelang selalu sadar sejarah masa lampau.
Pendidikan eksekutif Kerajaan Mataram. Kewarisan drajat pangkat semat untuk trah Plikon Trasan Bandongan Magelang. Dulu di daerah Paremono Muntilan Magelang dijadikan pusat pelatihan pejabat Mataram. Kecakapan, pengalaman, ketrampilan, keilmuwan seseorang sangat diperhatikan dalam menjalankan pemerintahan di Kerajaan Mataram. Warga keturunan dari daerah Magelang yang patut dikenang sepanjang masa adalah Patih Mandaraka dan Patih Sindureja. Kedua priyagung luhur ini pernah menduduki jabatan eksekutif kepatihan di kraton Mataram.
Pangkur
Kanjeng Patih Mandaraka,
Wasis titis gelis ing samukawis,
Cakep cekap cakap cukup,
Myang Patih Sindureja,
Tangguh wutuh ngatasi sabarang butuh,
Aneng negari Mataram,
Minangka tepa palupi.
Peran sarjana Plikon Trasan jelas sangat penting. Baiklah ditinjau sejenak asal usul Patih Mandaraka dan Patih Sindureja dalam perspektif sosiologis dan historis. Di Trojayan Paremono Mungkid Magelang sejarah Kepatihan Kraton Mataram dibicarakan oleh para trah keturunan pada hari Jum'at, 12 April 2019. Mereka adalah keluarga besar keturunan Ki Ageng Karotangan yang tinggal di Trojayan, Paremono, Mungkid, Magelang. Dengan didukung oleh GKR Wandansari, pengageng kraton Surakarta Hadiningrat, kehidupan para leluhur dibahas dengan berbagai sudut pandang. Leluhur mereka telah memberi warisan adi luhung edi peni, yang wajib untuk dilestarikan.
Kerajaan Mataram tampil menjadi negara besar, wibawa dan disegani di seluruh kawasan Nusantara. Dalam sisi lain Ki Ageng Karotangan memiliki anak asuh yang bernama Rara Tuntang. Sebetulnya Rara Tuntang adalah anak Ki Ageng Saba. Sejak kecil diasuh oleh Ki Ageng Karotangan. Kelak Rara Tuntang diambil istri oleh Pangeran Radin, anak Pangeran Benowo. Jadi Rara Tuntang menjadi menantu Pangeran Benowo, keturunan Sultan Hadiwijaya raja Pajang.
Perkawinan Pangeran Radin atau Pangeran Kajor dengan Dewi Rara Tuntang menurunkan Dewi Mayangsari atau Wiratsari. Kelak putri ini menikah dengan Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Permaisuri Dewi Mayangsari menurunkan Gusti Raden Mas Drajad atau Pangeran Puger. Nanti bergelar Sinuwun Paku Buwono I. Anak didik Ki Ageng Karotangan menurunkan raja besar, Sinuwun Paku Buwono naik tahta antara tahun 1708-1719. Ibukota Mataram saat itu di Kartasura.
Sebelum menduduki jabatan patih, Sindurejo pernah menjabat Bupati Tegal. Meninggalnya Ki Ageng Karotangan tahun 1703. Lima tahun sebelum Sinuwun Paku Buwono menjadi raja. Alangkah bahagianya, kalau ki Ageng Karotangan tahu bahwa cucunya menjadi raja Mataram. Sinuwun Paku Buwono I menikah dengan Kanjeng Ratu Mas Balitar, putri Bupati Madiun.
Sesungguhnya hubungan Kedu, Cilacap, Tegal, Pekalongan dan Semarang begitu sangat erat. Hampir semua Bupati Tegal pernah mengenyam pendidikan di Magelang. Turun -temurun pengetahuan tentang pemerintahan diajarkan di sekitar gunung Tidar.
Pendidikan Tata Praja di wilayah Magelang atas inisiatif dan sponsor Kanjeng Ratu Wetan, garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Tegalarum. Fasilitas dan perlengkapan belajar mengajar disediakan dengan layak. Gedung, meja, kursi dan papan tulis disediakan. Wiyata adi yekti dadi piranti.
Semua biaya ditanggung oleh Kanjeng Ratu Wetan. Maklum beliau memiliki usaha mebel, ekspor impor kayu, pelayaran, semen dan perahu. Boleh dikatakan Ratu Wetan adalah pengusaha sukses. Perusahaan yang dikelola Kanjeng Ratu Wetan berpusat di daerah Banyumanik Semarang.
Pantas sekali mendapat tempat terhormat di sisi Sri Susuhunan Amangkurat Agung. Peranannya di Kraton Mataram boleh dikatakan paling menonjol. Keputusan raja Amangkurat banyak berasal dari inisiatif Ratu Kulon. Usulan beliau didukung oleh modal dan pendanaan yang cukup berlimpah ruah.
Asmarandana
Kutha Banyumas pinilih,
Mapan tlatah Ajibarang,
Mbangun kedhaton Pamase,
Nyengkuyung warga Magelang,
Greget kawula Kajoran,
Urute kali Serayu,
Ngantya sumare ing Tegal.
Putri dari Magelang menjadi pelopor Mataram. Bernama Ratu Wiratsari atau Ratu Kencana.
Kerajaan Mataram semakin arum kuncara di bawah kepemimpinan Sinuwun Paku Buwono I. Bersama dengan sang prameswari, Kanjeng Ratu Mas Balitar, kerajaan Mataram menyelenggarakan program wajib belajar. Kanjeng Ratu Mas Balitar sendiri menulis kitab Serat Ambiya dan Serat Menak yang memadukan cerita Jawa, Arab dan Cina. Kerajaan Mataram Kartasura terkenal sebagai pengembangan ilmu pengetahuan.
Pengaruh trah Kanjeng Ratu Kulon meluas di daerah pesisir, Kedu, Banyumas, dan Tegal. Basis pengikut garwa prameswari ini terlalu kuat.
Status Magelang menjadi daerah administrasi pemerintahan terjadi pada tahun 1818. Beliau diangkat oleh Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta.
Pimpinan daerah adalah Mas Ngabehi Danukromo dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung Danuningrat. Sebagai kota tua, hari jadi Magelang ditetapkan pada tanggal 11 April 907 Masehi. Sistem pemerintahan saat itu dipimpin oleh Raja Balitung, yang disebut dalam Prasasti Mantyasih. Kabupaten Magelang digambarkan sebagai negeri yang unggul, agung, makmur, aman damai. Ibu ibu dari Plikon Trasan Magelang menyediakan konsumsi. Kembul bujana andrawina.
1. Tumenggung Danuningrat I, 1812-1826. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Surakarta Hadiningrat.
2. Tumenggung Danuningrat II, 1826-1862. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VI, raja Surakarta Hadiningrat.
4. Tumenggung Danukusumo, 1878-1908. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta Hadiningrat.
5. Tumenggung Danusugondo, 1908-1939. Dilantik pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta Hadiningrat.
7. RAA Said Prawirosastro, 1945-1946. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
8. R Yudodibroto, 1946-1954. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
10. Sugeng Sumodilogo, 1957-1960. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
11. Drs Adnan Widodo, 1960-1967. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
13. Drh. Supardi, 1979-1983. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
14. Drs. Sulistiyo, 1983-1984. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto
16. Kol. Kardi, 1994-1999. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.
17. Drs Hasyim Affandi, 1999-2004. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie.
19. Zaenal Arifin, 2014- 2024. Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo.
20. Grengseng Pamuji dan Sahid SH, dilantik pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dhandhanggula
Ujaring sekar kang sarwa manis,
Tumrape jalma ing tlatah Magelang,
Katon endah reja rame,
Pereng gunung Merbabu,
Caket lawan gunung Merapi,
Gunung sumbing Sindara,
Tengah Borobudur,
Nut iline kali Praga,
Deres mili tumuju ing jalanidhi,
Nyata weh kemakmuran.
Serba manis wilayah Plikon Trasan Bandongan Magelang. Tampak endah edi peni. Di situ mereka melihat kuburan tanpa cungkup, hanya diteduhi pohon cempaka. Kuning putih bunganya bertaburan semerbak harum mewangi. Kuburan itu bercahaya menyinari alam sekitar. Menurut cerita orang- orang tua, itu makam raja Majapahit, Sinuwun Prabu Brawijaya.
Pemandangan indah permai. Di sebelah utara, terlihat air Rawa Pening luas, di tengah telaga terlihat pulau mengapung menurut tiupan angin, ke timur, barat, ke tengah ke utara serta ke selatan. Tidak ada tumbuh pohon kayu yang besar. Yang terlihat hanyalah rumput katang yang berwarna hijau menarik hati.
Gambuh
Pusaka Damar Murub,
Warga Trasan Magelang sumurub,
Warisane Syekh Subakir duking nguni,
Gunung Tidar dhepokipun,
Cantrik saking dhusun Plikon.
Jagat gumelar telah memberi kejayaan masa silam. Dhusun Plikon Trasan Bandongan Magelang memberi pencerahan. Marbabak bang sumirat. Nak tumanak, run tumurun ginanjar kawibawan kawidadan, ayu hayu rahayu. Sejahtera aman damai. Magelang memang gemilang.
Peguron Gunung Tidar dahulu selalu mengadakan festival naskah kuno pada tanggal 8 Oktober. Kajian kitab klasik dengan pendekatan filologis yang tertib. Ilmu pengetahuan makin berkembang.
Purwadi,
Universitas Negeri Yogyakarta