JAKARTA | GARDA.ID
Kerja sama tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Direktur PT Barata Indonesia (Persero) Hertyoso Nursasongko, Group Managing Director Technofit Sdn Bhd Datuk Mohd Izuddin bin Mohd Ilias, serta Direktur Utama PT PLN Indonesia Power Services.
Penandatanganan disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Direktur Utama PT PLN dalam rangkaian Enlit Asia & Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Banten, 22–24 September 2026.
Gagasan pengembangan pusat MRO tersebut berasal dari Marlis Pohan, pemrakarsa independen di bidang model bisnis. Ia menyusun konsep kerja sama sekaligus mempertemukan ketiga pihak dengan memanfaatkan aset Pabrik Komponen Turbin (PKT) Cilegon milik Barata Indonesia, yang merupakan fasilitas eks Siemens.
Pengembangan pusat MRO ini dinilai memiliki peluang besar seiring meningkatnya kebutuhan turbin di dunia.
Baca Juga:
Kondisi tersebut menciptakan kebutuhan terhadap fasilitas MRO yang mampu menangani armada turbin lama ketika kapasitas produsen lebih banyak terserap untuk memenuhi permintaan turbin baru.
Saat ini, pemain besar industri turbin antara lain GE, Siemens dan Mitsubishi. Tingginya permintaan turbin baru, terutama untuk pasar Amerika, membuat kapasitas produksi dan layanan para produsen tersebut ikut terserap.
Waktu tunggu pembangunan pembangkit baru pun dapat mencapai sekitar lima tahun. Bahkan, sejumlah produsen menyebut waktu tunggu bisa mencapai tujuh hingga delapan tahun.
Di sisi lain, kebutuhan perawatan terhadap pembangkit yang sudah beroperasi tidak ikut menurun. Kebutuhan tersebut justru berpotensi terus bertambah seiring bertambahnya usia armada pembangkit.
PKT Cilegon menjadi salah satu aset penting dalam pengembangan pusat MRO tersebut. Fasilitas ini memiliki kemampuan pengerjaan komponen berukuran besar yang relatif jarang dimiliki fasilitas sejenis di kawasan.
Beberapa fasilitas yang tersedia antara lain mesin bubut vertikal dengan kapasitas hingga 7,6 meter, bor horizontal hingga 14,5 meter, perlakuan panas hingga 800 derajat Celsius, serta fasilitas pengujian tak-rusak atau non-destructive testing (NDT).
Yang menjadi pembeda, PKT tidak hanya memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan, tetapi juga memiliki sejarah sebagai fasilitas produksi komponen.
Status PKT sebagai kawasan berikat juga menjadi nilai tambah untuk pengembangan pasar ekspor. Fasilitas tersebut dinilai dapat menjadi basis layanan MRO untuk pasar regional, khususnya ASEAN.
Di kawasan ASEAN memang telah terdapat fasilitas perawatan turbin. Namun, fasilitas besar umumnya dimiliki produsen turbin seperti GE dan Mitsubishi. Selain itu, terdapat pemain independen seperti Sulzer.
Pusat MRO Cilegon diarahkan mengisi ruang sebagai fasilitas independen yang memiliki kemampuan menangani komponen berukuran besar sekaligus melayani kebutuhan pasar ekspor.
Dalam kerja sama ini, PLN Indonesia Power Services akan membuka akses pasar, baik di lingkungan Grup PLN maupun di luar PLN.
Barata Indonesia menyediakan fasilitas PKT Cilegon sekaligus mendorong peningkatan kandungan dalam negeri.
Sementara Technofit Sdn Bhd Malaysia berperan sebagai mitra teknologi sekaligus mendukung pendanaan pengembangan bisnis tersebut.
Untuk memperluas cakupan layanan, Technofit akan menggandeng mitra yang memiliki keahlian khusus di bidang turbin gas.
Dengan skema tersebut, pusat MRO Cilegon ditargetkan mampu melayani perawatan turbin uap dan turbin gas dalam satu lokasi.
Pada tahun pertama, nilai order diperkirakan mencapai US$20 juta hingga US$55 juta, setara sekitar Rp320 miliar hingga Rp880 miliar.
Estimasi tersebut masih bersifat awal dan akan disesuaikan dengan data serta kondisi aktual di lapangan.
Nilai bisnis berpeluang meningkat setelah fasilitas semakin matang dan layanan perawatan turbin gas mulai berjalan.
Pengembangan pusat MRO ini juga diharapkan memberikan dampak terhadap penguatan industri nasional.
Pekerjaan overhaul turbin yang selama ini dilakukan di luar negeri berpotensi ditarik kembali ke Indonesia. Dengan demikian, devisa dapat dipertahankan di dalam negeri sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru.
Pengembangan fasilitas ini dilakukan dengan memanfaatkan aset yang sudah tersedia sehingga tidak harus membangun pabrik baru dari awal.
Perangkat dan teknologi akan didukung para mitra. Sementara pemrakarsa berperan menyusun skema bisnis yang dapat diterapkan sekaligus menghubungkan pihak yang memiliki aset, pasar, teknologi dan kemampuan pendanaan.
Setelah fasilitas berjalan, operasional bisnis akan dijalankan oleh masing-masing pihak sesuai dengan peran dan kesepakatan kerja sama.
Pusat MRO Cilegon tersebut selanjutnya diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas perawatan turbin untuk kebutuhan nasional, tetapi juga berkembang menjadi salah satu basis layanan MRO turbin Indonesia untuk pasar ASEAN.red