Bamsoet Apresiasi Kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia Capai Swasembada Beras Untuk Ketiga Kalinya Setelah Era Presiden Soeharto 1984 dan Era Presiden SBY 2008
Dengan terwujudnya swasembada beras di era pemerintahan Prabowo Subianto, maka Indonesia dapat dikatakan telah mencapai swasembada beras sebanyak tiga kali. Pertama, untuk pertama kalinya Indonesia mencapai swasembada beras pada era kepemimpinan Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto, tepatnya pada 1984. Saat itu, produksi beras di Indonesia mencapai angka sekitar 27 juta ton, dengan konsumsi beras nasional sebesar 25 juta ton. Dengan capaian saat itu, Indonesia mendapat penghargaan dari Food And Agriculture Organization (FAO) pada 1985
Setelah itu, 24 tahun kemudian Indonesia kembali swasembada beras pada tahun 2008 di era pemerintahan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Swasembada beras tahun 2025 patut dimaknai sebagai prestasi luar biasa, karena hal tersebut bisa diraih di tengah tantangan yang tidak mudah. Alih fungsi lahan pertanian yang masih masif, tekanan perubahan iklim yang menggeser pola musim tanam, hingga penguatan harga pangan global menjadi tantangan serius yang harus dihadapi sektor pertanian nasional," ujar Bamsoet di Jakarta, Kamis (8/1/26).
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menuturkan, dengan terwujudnya swasembada beras, Presiden Prabowo telah memenuhi janjinya pada aspek ketersediaan dan keamanan pangan nasional. Saat pelantikan menjadi Presiden RI, Prabowo secara terbuka menargetkan swasembada pangan dapat tercapai dalam waktu empat tahun. Namun melalui kebijakan konsolidasi, penguatan petani, peningkatan produksi, serta distribusi sarana pertanian yang lebih terarah, swasembada beras baru tercapai hanya dalam satu tahun pemerintahan.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini mengingatkan, keberhasilan di sisi produksi harus segera diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat luas. Swasembada beras tidak boleh berhenti sebagai angka statistik atau klaim keberhasilan semata. Nilai tambah yang paling diharapkan masyarakat adalah harga beras yang stabil dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Harapan masyarakat sangat sederhana. Ketika beras berlimpah, harga di pasar harus masuk akal, tidak membebani rumah tangga, terutama masyarakat ekonomi rendah," jelas Bamsoet.
Selain itu, penting dilakukan pengamanan pasar beras secara serius. Ia meminta Satuan Tugas Pangan bersama aparat penegak hukum lebih aktif menindak praktik-praktik merugikan yang merugikan konsumen, seperti penimbangan biologi, pengoplosan beras, hingga permainan harga di tingkat distributor dan pengecer.
"Manipulasi timbangan dan pengoplosan beras adalah kejahatan terhadap masyarakat. Setelah swasembada tercapai, jangan sampai konsumen kembali dirugikan oleh ulah oknum pedagang yang mencari keuntungan dengan cara curang," tegas Bamsoet.
"Jika produksi kuat, terdistribusi secara tertib, dan harga terkendali, maka swasembada beras akan benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan rakyat," pungkas Bamsoet. (*)