Wartawan, Spiritualis, dan Pendaki: Satu Sosok Banyak Jejak
Di dunia pers, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan SMSI Pusat, anggota Pokja Pendataan Dewan Pers, Wakil Sekjen Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) dan pernah menjabat Wakil Bendahara Umum PWI Pusat. Ia juga memimpin Askara.co sebagai Pemimpin Redaksi, menjabat Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia (2024–2029), serta Bendahara PWI Jaya (2023–2028). Pada Hari Pers Nasional 2022, ia menerima Pers Card Number One dari PWI Pusat, sebuah penghargaan yang ia maknai sebagai amanah, bukan sekadar kebanggaan.
Empat kali menghadiri World Press Freedom Day di Seoul, Korea Selatan, Dar Edi membawa semangat jurnalisme Indonesia ke forum global. Namun baginya, jurnalisme bukan soal panggung internasional. "Yang terpenting adalah tetap jujur pada hati, bahkan ketika tidak ada yang melihat," katanya.
Baca Juga:Di luar redaksi, Dar Edi Yoga juga dikenal sebagai pembimbing spiritual. Ia adalah Master Sahaja Yoga dan praktisi hipnoterapi yang membantu banyak orang menemukan ketenangan batin. Pernah melatih tenaga dalam Rasa Jati pada 2004–2010, bahkan dipercaya melatih personel Detasemen Deteksi Paspampres dan Kolinlamil. Baginya, spiritualitas adalah tentang menghadirkan kesadaran dalam tindakan sehari-hari.
Kecintaannya pada alam tumbuh sejak muda. Ia mendirikan Elpala SMA 68 Jakarta dan aktif di komunitas Top Ranger and Mountain Pathfinder (TRAMP) sejak 1985. Ia juga menjadi manajer pendakian empat puncak tertinggi dunia yang dilakukan pendaki tunadaksa asal Solo, Sabar Gorky. "Gunung mengajarkan kita rendah hati. Di sana, kita belajar bahwa hidup adalah tentang ketekunan," ujarnya.
Di bidang sosial, ia ikut mendirikan Beranda Ruang Diskusi sebagai ruang perjumpaan lintas profesi dan gagasan. Ia juga terlibat dalam Vox Point Indonesia, FORMAS, PERWATUSI, serta kini mengemban amanah sebagai Sekretaris Yayasan Gardu 08 Indonesia. Pada 4 Desember 2025, ia menginisiasi pagelaran sendratari di Gunung Padang sebagai bentuk ikhtiar merawat budaya dan sejarah bangsa.
Di balik semua peran itu, Dar Edi Yoga tetap memandang hidup secara sederhana. "Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita capai, tapi seberapa dalam kita memberi," tuturnya. Bagi Dar Edi, pengabdian adalah perjalanan panjang yang dijalani dengan kesetiaan, bukan kegaduhan.rel