Medan | Garda.id
Semua ini menandakan bahwa Musda kali ini bukan agenda biasa, melainkan momentum penting bagi masa depan Golkar Sumut.
Golkar adalah partai besar dengan tradisi politik yang matang. Di dalamnya berkelindan kader-kader senior yang telah lama menempuh asam garam politik dengan generasi muda yang tengah menanjak. DPD I Golkar Sumut sendiri merupakan salah satu pilar strategis dalam konstelasi politik nasional. Karena itu, siapa yang akan memimpin Golkar Sumut ke depan bukanlah persoalan sederhana.
Sebagai kader senior, saya memandang bahwa DPP perlu bersikap arif dan tidak tergesa-gesa memaksakan satu nama. Golkar Sumut memiliki banyak kader potensial yang layak dipertimbangkan. Beberapa nama yang patut masuk dalam radar antara lain Irham Buana Nasution, Rolel Harahap, Yasir Ridho Lubis, Andar Amin Harahap, hingga Rahmadiansyah.
Dengan Yasir Ridho Lubis yang telah menyatakan tidak berminat maju, dinamika kemudian mengerucut. Dalam percakapan internal, nama Andar Amin Harahap mulai mengemuka sebagai alternatif kuat dan berpotensi menjadi penantang serius bagi Hendri Yanto Sitorus.
Jika kontestasi Musda benar-benar mengarah pada Hendri Yanto Sitorus versus Andar Amin Harahap, maka Golkar Sumut akan menyaksikan pertarungan dua kader muda terbaiknya.
Hendri Yanto Sitorus tumbuh dalam lingkungan keluarga birokrat dan politisi. Kakaknya, Erni Ariyanti, saat ini menjabat Ketua DPRD Sumatera Utara. Ayahnya, H. Khairuddin Syah Sitorus, merupakan Bupati Labuhanbatu Utara dua periode sekaligus tokoh organisasi kepemudaan. Jejaring kekuasaan dan politik yang dimiliki Hendri, khususnya di wilayah Pantai Timur, tentu menjadi modal penting dalam kontestasi ini.
Andar lahir dan dibesarkan dalam tradisi politik Golkar. Ayahnya, Drs. H. Bachrum Harahap, dikenal sebagai tokoh strategis politik di kawasan Tapanuli Bagian Selatan, pernah menjabat Ketua Golkar Tapanuli Selatan, Ketua DPRD Tapanuli Selatan, hingga Bupati Padang Lawas Utara dua periode. Dengan latar belakang tersebut, Andar sangat memahami struktur, kultur, dan psikologi internal Partai Golkar.
Dari sisi pengalaman pemerintahan, kemampuan komunikasi lintas daerah, serta penerimaan di kalangan kader senior, Andar dinilai oleh sebagian kalangan memiliki kematangan yang kuat. Koneksi pusat–daerah yang dimilikinya juga menjadi nilai tambah dalam konteks konsolidasi politik nasional.
Hingga saat ini, Andar Amin Harahap belum menyatakan sikap secara terbuka untuk maju. Namun, dinamika informal di internal Golkar Sumut menunjukkan bahwa dukungan dari sejumlah DPD II mulai mengalir. Jika DPP membuka ruang kompetisi yang adil dan Musda berjalan demokratis, maka pertarungan Hendri versus Andar bukan sekadar soal siapa yang menang, melainkan tentang arah masa depan Golkar Sumatera Utara.
Apakah Golkar Sumut akan bertumpu pada kekuatan jaringan kekuasaan, atau memilih jalan kematangan pengalaman dan konsensus kolektif kader, menjadi pertanyaan mendasar yang akan dijawab dalam Musda mendatang.
Musda Golkar Sumut Januari 2026 sejatinya adalah ujian kedewasaan politik Golkar di salah satu provinsi paling strategis di Indonesia. Lobi-lobi yang intens, komunikasi elite yang senyap, serta pemetaan kekuatan di 33 DPD II menunjukkan bahwa partai ini sedang berada di persimpangan penting.
Golkar selama ini bertahan bukan semata karena kekuasaan, melainkan karena kemampuannya menjaga keseimbangan antara pusat dan daerah, antara senior dan junior, serta antara instruksi dan musyawarah. Tradisi inilah yang kini dipertaruhkan.
Sejarah politik mengajarkan bahwa konflik internal partai sering kali bukan lahir dari kekalahan, melainkan dari proses yang dianggap tidak adil.
Yang dipertaruhkan bukan hanya kursi ketua, melainkan masa depan Golkar Sumut dalam menjaga solidaritas dan relevansinya menuju Pemilu 2029. Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang menang, tetapi juga bagaimana kemenangan itu diraih.red