BANDA ACEH - Di Banten, ribuan atau mungkin puluhan ribu pekerja media berkumpul disana. Seantero nusantara, mereka datang untuk satu acara, peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2026.
Setiap tahun, HPN digelar. Berbagai provinsi jadi tuan rumah. Sebelum di Banten, perayaan serupa digelar di Kalimantan Selatan. Hari Pers Nasional diperingati setiap tanggal 9 Februari.
Kini, usia JMSI menapak enam tahun. Bertepatan dengan HPN di Banten, Jaringan Media Siber Indonesia juga peringati hari lahirnya. Jika HPN tanggal 9 Februari, maka JMSI diperingati setiap 8 Februari, hanya berbeda satu hari.
Bagi penulis, enam tahun bukan sekedar hitungan usia. Terutama abgi organisasi perusahaan pers. Menanjak tahun ke-6 JMSI berdiri, ia adalah ikhtiar-menjaga api idealisme tetap menyala di tengah arus informasi. Meminjam istilah Teguh Santosa, Ketum JMSI yang terpilih kali kedua tahun lalu, arus informasi kini berlari tanpa jeda, bahkan melahirkan sampah digital.
Enam tahun sudah JMSI berkiprah. Sebagai organisasi perusahaan pers berbasis siber, tantangan makin sulit dan terbuka. Kini, informasi bisa lahir dimana saja, ditengah arus informasi seperti air bah.
Akal imitasi atau aritificial intelegence tumbuh cepat, media sosial juga jadi sarana informasi yang tak bisa dianggap sepele. Keberadaannya, telah menggerus media mainstream. Namun, ditengah derasnya pertumbuhannya, ada satu hal yang tak mereka miliki, yakni, kepercayaan publik.
Saat informasi beradu cepat, masyarakat melahap segalanya, bahkan hingga berita palsu sekalipun. Bikin Terang Indonessia, adalah semangat JMSI jaga kepercayaan publik, sebab, nilai itu lebih mahal dari mata uang.
Refleksi enam tahun JMSI, harus melihat keberadaan anggota sebagai pemilik pers di daerah. Organisasi ini tumbuh dari kesadaran bahwa, media daerah merupakan nadi informasi publik terdekat dengan warga. Saat isu nasional begitu jauh, media siber daerah hadir sebagai jembatan.
Mata pusat terlalu jauh meneropong persoalan di daerah. Tangannya panjang, tapi tak bisa menjangkau akar persoalan rakyat, seperti layanan publik, ekonomi lokal, pendidikan dan bahkan isu kesehatan.
Kasus itu, semakin perteguh keberadaan JMSI seharusnya, bahwa, ekosistem pers yang sehat, tidak bisa hanya bertumpu pada media besar, tapi juga, media siber lokal yang kuat, independen, dan berkelanjutan.
Enam tahun perjalanan JMSI dan peringatannya hari lahirnya, mesti jadi momentum dan penegasan bahwa, pertumbuhan organisasi pers harus sejalan dengan meningkatnya standar. Ini bukan soal persaingan, namun tentang algoritma, tekanan ekonomi, keamanan jurnalisme, serta tuntutan masyarakat yang kian kencang.
Enam tahun sudah JMSI berkiprah. Membangun organisasi itu mudah, bisa berdiri, tapi membuatnya mampu menjadi rumah yang menguatkan anggota, itu bukan pekerjaan gampang. Kita semua, disini, bersama JMSI, bertahan dan bertumbuh atas kesadaran kolektif.
Tahun 2026, Banten jadi saksi perayaan HUT JMSI ke-6, provinsi ini penyaksi bahwa, pers masih punya tugas tak pernah lekang dan usang, yakni menerangai ruang publik. Saat informasi mudah di produksi dan dipercaya, JMSI memilih tanggungjawab verifikasi konteks. Selamat HUT JMSI ke-6, terus bikin terang Indonesia-dengan berita benar, jurnalisme bermartabat, dan keberpihakan pada rakyat.