Medan — Ahmad Bahar menyampaikan keluh kesahnya terkait karya tulis yang diminta untuk tidak diedarkan atau dijual. Kondisi tersebut dinilai menjadi pukulan berat bagi penulis, terlebih ketika proses penulisan hingga pencetakan buku dilakukan dengan biaya pribadi. Hal ini di ungkapkannya Ahmad Bahar di salah Satu Caffee di Kota Medan , Kamis 14 Mei 2026.
"Apes karena peluang untuk mendapat cuan jadi gagal. Kerja keras, menulis, mencari data, dan mempromosikan menjadi zonk," tulisnya.
Ia juga mengaku mengalami kerugian materi yang cukup besar akibat buku yang tidak dapat diedarkan. Kerugian tersebut disebut mencapai ratusan juta rupiah karena biaya cetak ditanggung secara mandiri.
Di sisi lain, penulis menilai profesi penulis merupakan pekerjaan yang membanggakan meskipun secara penghasilan masih kalah dibanding profesi lain seperti pengacara, dokter, maupun artis.
"Penulis sudah memeras otak, menatap komputer, hingga berkali-kali mengoreksi naskah, tetapi honornya tetap jauh dibanding profesi lain," ungkapnya.
Menurutnya, peristiwa tersebut menimbulkan rasa kecewa, marah, dan sedih. Ia menilai masih ada pihak-pihak yang belum memiliki pemahaman kuat terhadap pentingnya literasi dan kebebasan berkarya.
Penulis berharap ke depan dunia literasi di Indonesia mendapat ruang yang lebih baik sehingga karya tulis dapat dihargai sebagai bagian dari perkembangan intelektual dan demokrasi.