BANDA ACEH — Di saat banjir melanda sejumlah kabupaten/kota di Provinsi Aceh dan melumpuhkan aktivitas belajar-mengajar, distribusi bantuan pendidikan menjadi sorotan publik. Bantuan tenda belajar yang semestinya segera dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah terdampak banjir sebelumnya diduga tidak bergerak optimal, memunculkan pertanyaan serius soal kecepatan dan pola penyalurannya oleh Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh.
Berdasarkan informasi yang diperoleh media ini dari sumber terpercaya, Sabtu, 24 Januari 2026, tenda belajar bantuan diduga tidak segera disalurkan secara maksimal ke seluruh daerah terdampak banjir. Padahal, Tim Satuan Tugas (Satgas) BPMP Aceh telah dibentuk khusus untuk mempercepat pendistribusian logistik pendidikan pascabencana.isy
Sumber menyebutkan, pendistribusian memang dilakukan, namun dinilai tidak efisien. Dalam satu kali perjalanan, tim hanya membawa tiga unit tenda belajar untuk tiga kabupaten berbeda. Pola tersebut dinilai memperlambat distribusi, terlebih jumlah pegawai di BPMP Aceh disebut mencukupi untuk pelibatan personel yang lebih luas agar penyaluran dapat dilakukan secara serentak.
Baca Juga:Sorotan juga mengarah pada bantuan tunai dari Kementerian Pendidikan pusat yang disebut mencapai Rp9 miliar. Hingga kini, penggunaan dana tersebut masih dipertanyakan, terutama terkait transparansi alokasi dan realisasi untuk pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak banjir.
Ia menjelaskan, penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap karena jangkauan wilayah yang luas, mencakup 18 kabupaten/kota di Aceh. Selain itu, kendala akses ke sejumlah daerah terdampak banjir juga menjadi hambatan.
"Tidak bisa sekaligus. Bertahap, apalagi akses yang belum lancar. Intinya semua sedang berproses," pungkasnya.