Nenek Moyang Orang Jawa
A. Kerajaan Kediri
Babad Tanah Jawi adalah sumber penulisan sejarah. Keutamaan dan keteladanan diuraikan dengan jelas tegas pantas tuntas.
Berturut turut raja Kediri merupakan narendra gung binathara. Raja Kediri memerintah dengan memegang prinsip hambeg adil paramarta.
1. Prabu Gendrayana tahun 325 - 357.
3. Prabu Jayabaya Purusa, tahun 386 - 423.
4. Prabu Jayabaya Amisena, tahun 423 - 459.
6. Prabu Jayabaya Kartanegara 497 - 538.
7. Prabu Jayabaya Iswara 538 - 574.
9. Prabu Jayabaya Makuta Kelut 628 - 679.
10. Prabu Jayabaya Kameswara 679 - 698.
12. Prabu Jayabaya Isyanaprabu 657 - 694.
13. Prabu Jayabaya Tunggawijaya 694 - 761.
15. Prabu Jayabaya Wangsa wardana 799 - 863.
16. Prabu Jayabaya Sastraprabu 863 - 911.
18. Prabu Jayabaya Narmada 972 - 1023.
19. Prabu Jayabaya Ariswara 1023 - 1083.
21. Prabu Jayabaya Subrata 1126 - 1188.
22. Prabu Jayabaya Mamenang 1188 - 1211.
24. Prabu Jayabaya Katwang 1250 1260.
25. Prabu Jayabaya Kertajaya Dandanggendis 1260 1292.
Pendiri Kerajaan Kediri adalah Prabu Gendrayana. Beliau merupakan putra sulung Prabu Parikesit raja Negeri Yawastina. Ibunya bernama Dewi Badrahini.
Prabu Gendrayana memerintah kerajaan Kediri sejak tahun 325. Beliau adalah raja yang sakti mandraguna. Nak tumanak run tumurun Prabu Gendrayana menjadi leluhur kerajaan yang sadar arti penting makna trah kusuma rembesing madu.
Etike kepemimpinan yang dipegang teguh oleh Prabu Gendrayana berdasarkan paugeran. Prabu Gendrayana adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Rakyat Kediri yang tinggal di sekitar Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Klothok merasa ayem tentrem lahir batin.
Keluhuran kerajaan Kediri terkenal di mana mana. Pada tahun 357 Prabu Gendrayana lengser keprabon madeg pandhita. Tahta diserahkan kepada ingkang putra Prabu Yudhayana. Seperti sang ayah, Prabu Yudhayana memimpin kerajaan Kediri dengan penuh kebijaksanaan.
Semakin hari kerajaan Kediri bertambah arum kuncara ngejayeng jagat raya. Negeri manca sampai kayungyun pepoyaning kautaman. Bebasan kang cerak menglung, kang tebih mentiung. Sami pasok glondhong pengareng areng, peni peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.
Puncak kejayaan itu membuat bahagia semua pihak. Pada tahun 386 tahta kerajaan Kediri diserahkan kepada putra Yudhayana . Dia bernama Prabu Jaya Purusa. Sejak muda prabu Jaya Purusa gemar tapa brata ditengah alas gung liwang liwung. Prabu Jaya Purusa sering tapa ngebleng, tapa mutih, tapa ngidang, tapa ngalong, tapa nggantung, tapa pendhem, tapa ngrame.
Kediri benar benar negeri aman damai. Padi, jagung, ketela pohung panen berlimpah ruah. Bahan makanan disimpan di lumbung kerajaan. Kedelai, kacang merupakan tanaman palawija. Sayur kubis, kentang, bayam, kangkung, terong, buncis, godhe, loncang tumbuh di sembarang tempat.
Bahan makanan disimpan untuk menghadapi masa paceklik.
Kesaktian Prabu Jaya Purusa dipuji warga. Para abdi nujum dan pujangga istana memberi gelar kehormatan kepada Prabu Jaya Purusa. Dengan sebutan gelar Sinuwun Prabu Jayabaya. Bahkan gelar Jayabaya jauh lebih tenar. Jaya Baya menurunkan Kerajaan Pengging, Prambanan, Daha.
B. Kerajaan Pengging.
Prabu Jayabaya mendidik tiga putra kinasih. Ketiganya yaitu Raden Jaya Amijaya, Raden Jaya Amisena, Raden Jaya Aminata. Putra raja Kediri ini menjalankan ilmu laku, gentur tapane, mateng semadine.
Raden Jaya Amijaya menikah dengan Dewi Pramesthi. Dinobatkan sebagai raja di Kraton Jenggala.
Raden Jaya Aminata menikah dengan Dewi Susenti. Dinobatkan menjadi raja di Kraton Pengging, bergelar Prabu Kusuma Wicitra tahun 423.
Pernikahan para bangsawan ini dilakukan oleh Begawan Mayangkara. Hal ini sesuai dengan pesan Prabu Rama Wijaya kepada Anoman. Yakni kisah perkawinan wareng Arjuna pada jaman Kraton Kediri.
Adapun Prabu Jaya Aminata menjadi raja Pengging. Berturut turut raja Pengging yang temahsyur yaitu :
1. Prabu Jaya Aminata atau Prabu Kusuma Wicitra 423 - 435.
3. Prabu Pancandriya 459 - 482.
4. Prabu Anglingdriya 482 - 514.
6. Prabu Dewa Kusuma 567 - 598.
7. Prabu Dewanata 598 - 632.
9. Prabu Sanjaya Pengging 678 732.
Prabu Dewa Sanjaya inilah yang menurunkan Wangsa Sanjaya. Candi Prambanan dibangun sebagai monumen kebudayaan.
Kerajaan Prambanan lantas dipimpin oleh raja yang menganut agama Hindu.
1. Rakai Sanjaya Prambanan 732 760.
3. Rakai Panunggalan 780 800.
4. Rakai Warak 800 820.
6. Rakai Pikatan 840 856.
7. Rakai Kayuwangi 856 882.
9. Rakai Watu Kumara 899
10. Rakai Balitung 899 915.
12. Rakai Tulodhong 919 921.
13. Rakai Wawa 921 928.
Prambanan merupakan Candi unggulan. Terdapat ajaran kama arta darma muksa.
D. Kerajaan Jenggala.
Kerajaan Jenggala yang beribu kota di tepi Kali Mas Sidoarjo tampil sebagai negeri maritim. Pelayaran, perdagangan, pelabuhan berjalan lancar. Armada laut berdiri kokoh. Pelayaran armada laut Jenggala sampai Asia Selatan, Asia Barat dan Afrika.
Hasil pertanian, perkebunan, peternakan, diparahkan sampai antar benua. Rakyat hidup makmur sejahtera. Mereka cukup sandang pangan papan. Pendidikan berlangsung di seluruh negeri. Tua muda sibuk bekerja. Negara Jenggala memberi prioritas yang memadai buat sekalian warga. Sukses gemilang ini, maka kerajaan Jenggala juga mendapat sebutan negeri Jenggala Manik.
Wibawa Prabu Jaya Angrana atau Jayengrana dibangun karena prestasi, dedikasi dan kompetisi. Prestasi dalam bidang pemerintahan sangat cemerlang.
Dedikasi dipersembahkan buat nusa bangsa. Tenaga pikiran waktu dicurahkan buat kesejahteraan masyarakat. Kompetisi dalam arti positif berkenaan dengan usaha untuk memperoleh keunggulan. Studi banding dilakukan sebagai sarana untuk memacu diri.
Anaknya secara otomatis menggantikan kedudukan Prabu Jayengrana. Sejak kecil Raden Subrata diberi ajaran tentang tata praja, diplomasi, pertanian, perkebunan, peternakan, usaha, kemasyarakatan. Ketika sudah dewasa Raden Subrata siap melanjutkan perjuangan Prabu Jayengrana. Raden Subrata dilantik sebagai raja Jenggala, dengan gelar Prabu Amiluhur.
Penobatan Prabu Amiluhur pada tanggal 25 Mei 492. Turut hadir utusan dari Kraton Daha dan Kraton Pengging. Saat jumenengan ini ditetapkan pula posisi Kanjeng Ratu Tejaswara sebagai garwa prameswari. Pasangan Prabu Amiluhur dengan Kanjeng Ratu Tejaswara menjadi idola rakyat Jenggala Manik. Sikap mereka berdua menjadi teladan bagi warga negara.
1. Prabu Jaya Amijaya 423 – 463
2. Prabu Jayengrana 463 – 492
4. Prabu Inu Kertapati 537 – 568
5. Prabu Suryawisesa 568 – 589
7. Prabu Priyambada 614 – 635
8. Prabu Kuda Wisrengga 635 – 672
10. Prabu Kalana Jayengsari 697 – 725
11. Prabu Dhawuk Marma 725 – 753
13. Prabu Suryo Hamiluhur 784 – 809
14. Prabu Banjaransari 809 – 840
16. Prabu Gondo Kusumo 873 – 897
17. Prabu Jaka Saputra 897 – 926
19. Prabu Darma Kusuma 935 – 948
20. Prabu Darmajaya 948 – 988
22. Prabu Airlangga 1010 – 1042
23. Prabu Samara Wijaya 1042 – 1071
25. Prabu Samara Wangsa 1098 – 1121
26. Prabu Samara Kusuma 1121 – 1140
28. Prabu Kameswara Citra 1168 – 1187
29. Prabu Kameswara Sigit 1187 – 1199
31. Prabu Kameswara Dhandhang 1220 – 1236.
32. Prabu Kameswara Susuruh 1236 – 1264
Semangat Kerajaan Jenggala terus berlanjut. Muncul dinasti Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Surakarta Hadiningrat.
E. Kerajaan Singosari.
1. Isana Rajasa 1129 1148
2. Isana Yudarajasa 1148 1175.
4. Akuwu Tunggul Ametung 1184 1222
5. Rajaya Amurwabumi 1292 1247
7. Panji Tohjaya Wisnumurti 1252 1254
8. Wisnu Wardana Ranggawuni 1254 1256.
9. Kertanegara Syiwa Budha 1267 1291
10. Wijaya Kertabuana 1291 1292
F. Kerajaan Majapahit.
Berdirinya kerajaan Majapahit dengan tahun sengkalan. Watu mungal katob tunggal, yang berarti 1301 Saka.
Berturut turut narendra agung kerajaan Majapahit yang berbudi luhur. Mereka adalah pemimpin besar, yang berhasil mengangkat harkat martabat rakyat.
1. Raden Wijaya atau Brawijaya I 1293 – 1309.
3. Tri Buana Tungga Dewi 1328 – 1350.
4. Hayamwuruk atau Brawijaya III 1350 – 1389.
6. Dewi Suhita 1400 – 1427.
7. Kertawijaya atau Brawijaya IV 1427 – 1438 .
9. Kertabumi atau Brawijaya V 1457 – 1478.
Sinuwun Prabu Brawijaya V muksa ing Gunung Lawu. Putra sejumlah 117 orang. Rata rata menjadi pemimpin di kabupaten Tanah Jawa.
Berdirinya Kraton Demak Bintara dengan sengkalan. Geni mati siniram janma. Berarti tahun 1403 Saka atau 1478 Masehi.
Demak Bintara merupakan kelanjutan Majapahit. Gamelan Kyai Sekar Delima diboyong ke Demak sebagai warisan pusaka.
Sinuwun Prabu Brawijaya V raja yang sakti mandraguna. Putranya adalah para penguasa kerajaan di Jawa selanjutnya. Permaisuri berjumlah 3 orang yakni Ratu Cempa, Ratu Dworowati dan Ratu Wandan Kuning.
Raja Brawijaya V melalui Ratu Cempa melahirkan Raden Patah yang menjadi raja Demak Bintara. Para raja Demak Bintara yaitu :
2. Pati Unus atau Adipati Yunus atau Sultan Bahrullah Syah Alam Akbar II, 1506-1518.
3. Sultan Trenggana atau Sultan Malikul Mukminin Syah Alam Akbar III, 1518-1536.
5. Sultan Arya Kilen atau Sultan Abdul Mukmin Syah Alam Akbar V, 1545- 1546.
Raden Patah beristri tiga putri.
1. Ratu Mas Panggung, putri Sunan Ampel.
2. Raden Ayu Kirana
3. Raden Ayu Wulan.
Ratu Mas Panggung juga melahirkan Sultan Trenggana. Raja Trenggana menikah dengan Ratu Maloka melahirkan Ratu Mas Cepaka.
Trah Sunan Ampel berkuasa di Kraton Jawa. Ratu Mas Cepaka adalah Permaisuri Sultan Hadiwijaya raja Pajang.
H. Kerajaan Pajang.
Wibawa Majapahit amat terasa. Prabu Brawijaya V melalui Ratu Dworowati nanti menurunkan Ratu Pembayun.
Mas Karebet diasuh Nyi Ageng Tingkir. Maka dijuluki Joko Tingkir. Jadi raja Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya Kamidil Syah Alam Akbar Panetep Panatagama. Beliau adalah raja Pajang yang populer. Memerintah Pajang tahun 1546- 1582. Pajang lantas dipimpin Pangeran Benawa tahun 1582 - 1605.
Raja Pajang yang memerintah yaitu
2. Pangeran Pangiri tahun 1582 1584.
3. Pangeran Benawa Sultan Prabuwijoyo 1584 1605.
5. Pangeran Radin 1621 1646.
Secara kultural Pajang melebur menjadi Mataram. Penyatuan ini setelah Ratu Banuwati, putri Pangeran Benawa menikah dengan Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati. Raja Mataram ini memerintah tahun 1601 - 1613. Tapi secara faktual masih berjalan sebagai kerajaan mitra.
Pernikahan Prabu Hadi Hanyakrawati dengan Ratu Banuwati melahirkan Sultan Agung. Bercucu Sunan Amangkurat Agung. Menikah dengan Ratu Wiratsari putri Pangeran Radin anak Pangeran Benawa.
Ratu Wiratsari garwa prameswari Sinuwun Amangkurat Agung. Lahir Gusti Raden Mas Drajad. Kelak bergelar Sinuwun Paku Buwana I yang memberi tahun 1708 - 1719.
I. Kerajaan Mataram
Kerajaan Mataram dipimpin oleh narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati.
1. Panembahan Senapati 1582 1601.
2. Prabu Hadi Hanyakrawati 1601 1613.
4. Sunan Amangkurat I 1645 1677.
5. Sunan Amangkurat II 1677-1703
7. Sinuwun Paku Buwana I 1708 1719.
8. Sunan Amangkurat IV 1719 1726.
Pemerintahan Sinuwun Paku Buwana II terjadi pindahan ibukota. Dari Kartasura ke Surakarta. Nama kerajaan Mataram berganti menjadi Surakarta Hadiningrat.
J. Karaton Surakarta Hadiningrat.
Tumenggung Honggowongso bertugas selaku pimpinan para arsitek. Beliau berasal dari Kutowinangun Kebumen. Kelak bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Adipati Arumbinang.
1. Sinuwun Paku Buwana II 1745 1749
3. Sinuwun Paku Buwana IV 1788 1820.
4. Sinuwun Paku Buwana V 1820 1823.
6. Sinuwun Paku Buwana VII 1830 1858.
7. Sinuwun Paku Buwana VIII 1858 1861.
9. Sinuwun Paku Buwana X 1893 1939.
10. Sinuwun Paku Buwana XI 1939 1945.
12. Sinuwun Paku Buwana XIII 2004 - 2025.
13. Sinuwun Paku Buwana XIV 2025 - sekarang.
Pura Mangkunegaran berdiri tanggal 17 Maret 1757. Berdasarkan perjanjian Salatiga.
Pura Paku Alaman berdiri pada tanggal 17 Maret 1813. Berdasarkan perjanjian Tuntang di Semarang.
Dalam sejarahnya Karaton Jawa memberi inspirasi bagi para raja Jawa. Agar selalu berpegang teguh pada ajaran leluhur. Yakni ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Sebagaimana ajaran pujangga.
Pujangga kerajaan memang kondang. para raja membina pujangga Jenggala, Daha, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang dan Mataram. Trahing kusuma rembesing madu memimpin tanah Jawa, dengan prinsip ber budi bawa laksana. Sehingga tercipta masyarakat adil makmur.
Kitab babad merupakan sumber ajaran hidup. Nenek moyang mewariskan wulangan wejangan wedharan.