Akulturasi Budaya Malem Selikuran
Abstract
Tradisional community have local wisdom that can make social harnony. Ceremony activity in Surakarta Palace always give feeling at peace to some people. They are sentana, abdi dalem, businessman, travelling agent, guide, tourist and peasant. Example Malem Selikuran is Islamic traditional program that done to appreciate lailatul qadar. Surakarta Palace divide tumpeng sewu to Moslem community. Tumpeng sewu symbolized the best of time. That is the better that the moon thousand. Specially for peasant Malem Selikur ceremony believed that will come welfare. The peasant that live in village territory think that Surakarta Palace is center of mystic orientation. Therefore they follow Malem Selikuran activity to get happiness or ngalap berkah in palace of Java every time.
A. Pengantar
Islam dianut oleh orang Jawa dengan menyertakan keselarasan budaya. Contoh adat upacara Malem Selikuran diselenggarakan Kraton Surakarta setiap tanggal 21 Ramadhan. Acara penyambutan Malem Selikur ini sudah berlangsung turun tumurun. Kraton Surakarta berdiri tahun 1745 dan sejak itu pula upacara Malem Selikuran diagendakan tiap tahun. Upacara ini bertujuan untuk menyambut datangnya malam lailatul qadar. Saat ini diyakini mempunyai keutamaan lebih dari seribu bulan.
Produk seni budaya yang mengambil tema keislaman terasa merasuk dalam jiwa orang Jawa. Terdapat kearifan lokal yang amat bagus. Upacara yang baku telah mendatangkan pendukung setia yang bersifat partisipatif.
Rutinitas adat yang terprogram, terjadwal dan terkonsep secara matang merupakan produk unggulan budaya. Kontribusi Kraton Surakarta dalam bidang tradisi kultural spiritual terbukti menjadi kekuatan untuk memperkokoh jatidiri bangsa. Aktivitas tradisional ini menjadi wahana sosial yang produktif sekaligus rekreatif, yang selaras dengan ajaran Islam.
Masyarakat adat nusantara pernah mencapai kejayaan dalam sistem politik yang berbeda- beda. Kerajaan Sriwijaya pernah mendominasi Samudera Hindia Selatan. Bangsa ini harus mempunyai kebanggaan historis untuk mendorong maju (Teuku Jacob, 2004 : 150).
Orang Jawa terbiasa dengan perubahan. Perubahan itu hampir mencakup segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Walaupun perubahan itu terjadi hampir merata di seluruh Jawa, derajat perubahan antara lokalitas satu dan lokalitas lainnya serta antara tingkat masyarakat satu dan masyarakat lainnya bersifat variatif (Wasino, 2014 : 3). Kraton Surakarta selalu menjalankan program yang terkait dengan adat istiadat dan sejarah kebudayaan. Warna Islam mendapat tempat yang utama.
Abdi dalem garap umumnya tinggal di daerah sekitar kota Surakarta, Kabupaten Klaten, Sragen, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar dan Wonogiri. Profesi abdi dalem garap sering diturunkan dari leluhurnya. Bapak atau ibunya yang menjadi abdi dalem garap lantas diwariskan untuk anak cucunya. Faktor geneologis menjadi legitimasi seseorang untuk berprofesi sebagai abdi dalem garap. Loyalitas dan dedikasi mereka amat tinggi. Imbalan bagi mereka bukan faktor pokok. Bahkan sebagian dari mereka lebih suka untuk disebut ngalap berkah. Pada umumnya mereka juga punya pekerjaan lain yang lebih tinggi penghasilannya. Mengabdi pada kraton demi mendapat ketentraman hati.
Masyarakat yang masih sangat peduli dengan keberadaan kraton. Hubungan antar mereka merupakan koneksitas yang dibangun oleh solidaritas kultural, kesamaan idiologi, kesadaran estetis serta kepentingan pragmatis. Kenyamanan hidup yang mereka bina berdasarkan paham Jawa yang mereka yakini sebagai budaya adi luhung dan edi peni. Adi luhung berkaitan dengan keluhuran nilai etis filosofis. Konsep edi peni berkaitan dengan nilai puncak keindahan yang selalu mencerahkan. Simbiosis mutualisme antar abdi dalem membuahkan sikap mandiri dan siap dengan derasnya arus perubahan jaman.
Kelompok abdi dalem anon- anon tersebar di seluruh pelosok dunia. Masing- masing wilayah terdapat seseorang yang ditunjuk sebagai koordinator. Mereka terhimpun dalam wadah organisasi Paguyuban Kawula Kraton Surakarta atau PAKASA. Mereka sebagai abdi dalem anon-anon mendapat kehormatan untuk berpartisipasi dalam mengembangkan kebudayaan yang bersumber dari Kraton Surakarta Hadiningrat.
Abdi dalem kraton selalu siap sedia untuk menjalankan tugas. Ketika kraton dengan tertatih-tatih berupaya untuk bisa tetap bertahan, keberadaan para abdidalem adalah salah satu yang menjadi daya tahannya. Menjadi salah satu energi hidupnya. Meski sudah tidak sebanyak ketika kraton masih memiliki otoritas penuh, namun masih ada beberapa bebadan atau departemen kraton yang tetap dipertahankan. Paling tidak, departemen itu untuk mengurusi adat tradisi yang tetap dilestarikan dalam kehidupan budaya kraton. Nah kecuali ada pengageng atau pimpinan, di setiap bebadan juga ada abidalem garap (Wisnu Kisawa, 2012 : 123).
Dengan kesadaran penuh, mereka selalu menggunakan busana kejawen jangkep. Mulai dengan menggunakan kain, beskap dan tentu lengkap dengan keris dan blangkon. Dengan ada yang sampai menempuh jarak berkilo- kilometer, tentu dibutuhkan semangat yang lebih untuk tetap menggunakan busana adat Jawa (Wisnu Kisawa, 2012 : 203). Dengan menenteng tas mereka segera berganti pakaian kebesaran. Beskap putih untuk yang bertugas masuk di Masjid Agung. Sedang yang bertugas beskap hitam untuk arak- arakan sambil nabuh terbang laras madya. Jarik, blangkon, beskap, samir, lambang radya laksana, sabuk timang, sabuk epek menambah daya tarik dan wibawa. Kelihatan mereka menikmati peran budaya. Sebagian dari mereka mengungkapkan rasa bangga.
Ilmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran itu. Dengan menggunakan kekuatan intelegensinya dan dengan dibimbing oleh hati nuraninya, manusia dapat menemukan kebenaran- kebenaran dalam hidupnya (Solichin, 2010 : 266). Upacara Malem Selikuran dimulai. Sebelum para pimpinan mengatur anak buahnya. Barisan pembawa pusaka, prajurit wiyaga laras madya, samroh, terbangan, sindhen, pengawal, pemikul tumpeng, ulama, santri dan pengageng kraton siap untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Berhubung tradisi ini dilakukan rutin setiap tahun, masing -masing petugas dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi. Semua tugas dilakukan secara sukarela dan ikhlas, demi ngalap berkah dari Allah Swt. Cita cita dan tindakan yang disertai keikhlasan.
Agama dianut orang Jawa dengan bingkai nilai budaya. Malam Selikur Puasa termasuk salah satu tatacara adat di Kraton Surakarta. Adapun asal usulnya dari para Wali, lantas menjadi pedoman di Kraton Demak, sampai pada Kraton Mataram, Kartasura, Surakarta, hingga kini terus dilestarikan.
Tata cara demikian disebut Wahyu Allah yang diberikan kepada hamba sahaya melalui Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tersebutlah dalam serat Ambiya bahwa bersamaan dengan bulan puasa tanggal malem ke duapuluhsatu, itulah kembalinya Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Beliau turun dari Redi Nur dengan disambut oleh para sahabat yang membawa obor. Dinyalakan supaya menerangi jalan yang menuju kediaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Demikian pula mereka yang membawa makanan minuman seperlunya guna menghormati kedatangannya. Tradisi tersebut dilakukan setiap tanggal ganjil.
Bagi Kraton Surakarta meneruskan tatacara demikian, yang selanjutnya menjadi adat pesta pora itu dinamakan dengan Malam Selikuran. Sampeyan dalem Ingkang Sinuhun melaksanakan hajad Dalem Selikuran atau wilujengan selikuran. Setelah didoakan abdi dalem juru Suranata, kemudian dibagikan pada sekalian par sentana atau abdi dalem yang sedang sowan menghadap.
Pada jaman pemerintahan Sampeyan dalem Ingkang Mulya saha Wicaksana Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalipatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Nagari Surkarta Hadiningrat, beliau menggagas agar sekalian rakyat menonton keramaian, maka tatacara Maleman Sekaten dipusatkan di Alun -alun utara serta masjid Agung Kraton Surakarta. Adapun Malam Selikuran atau tatacara Maleman Sriwedari dipusatkan di Taman Sriwedari atau Kebonraja
Ting- ting hik
Jadah jenang wajik
Ja lali tinge kobong
Ja kobong kobong tinge
Kobonga clupakane
Tempat upacara di Masjid Agung. Dilakukan di dalam kraton lalu tumpeng seribu diarak menuju Masjid Agung kraton Surakarta Hadiningrat.
D. Mencari Nilai Kearifan Lokal.
Nilai kearifan lokal dikaji untuk mengatasi problematika mutakhir. Pengalaman budaya kolektif memberi solusi. Terjadi keseimbangan antara gagasan tradisional dan modern.
Bergada yang berpakaian celana hitam, kemeja hitam dan blangkon adalah barisan semut ireng. Mereka membawa lampu petromax, ting, tombak, pusaka, pedang. Badannya kekar, kuat dan rosa. Untuk mengangkat beban berat kelihatan terbiasa. Tidak ada keluh kesah, beban berat, sambat sebut, ungkapan rasa sulit. Mereka suka gembira. Rasa rindu untuk bertugas demi kraton sebagai sarana ngalap berkah. Sumber daya manusia kraton sungguh berlimpah ruah. Jalan hidup yang ditempuh adalah berbakti pada kraton. Barangkali barisan semut ireng selalu mengingat ajaran leluhur.
Tembang dhandhanggula memberi semangat, agar semua abdi dalem mempunyai harapan untuk menyongsong masa depan. Sekecil apapun posisi, status dan pangkat abdi dalem, namun tetap diperlukan dan amat bermakna. Asalkan saja pekerjaan yang diemban benar- benar dilakukan sepenuh hati. Tidak perlu minder. Kapasitas dan kapabilitas dalam hidup bermasyarakat saling melengkapi. Gelar raja Kraton Surakarta menunjukkan sikap andhap asor.
Nama raja Surakarta yaitu Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sri Susuhunan Senapati ing Ngalaga Khalifatullah Sayidin Ngabdurrahman Panatagama Ingkang Jumeneng ing Kraton Surakarta Ingkang Kaping Tiga Welas. Untaian kata Sampeyan Dalem bermakna telapak kaki. Untuk menyebut Sinuwun selalu menunjuk pada posisi bagian bawah kaki. Di sini raja mempunyai amanat yang berat yakni melestarikan adat istiadat yang diwariskan turun -temurun.
Lampu hias terdiri dari petromax, strong king, ting, teplok dan obor. Untuk abdi dalem yang tinggal di wilayah pedesaan dianjurkan untuk menyalakan colok. Colok atau obor yang terang benderang dinyalakan di pinggir pintu, regol, gapura, pawuhan, dapur, senthong dan pojok rumah. Seolah-olah mereka berpesta pora dengan makhluk halus di sekitar rumah, untuk menyapa harmoni. Berbeda dengan kraton tentunya. Karena semua fasilitas, tenaga, dana, instruksi, dukungan pasti tersedia cukup. Intinya mereka sama-sama mangayu bagya, datangnya malam lailatul qadar yang dinanti -nantikan.
Gendhing Lare Angon tersebut mengandung pitutur luhur agar seseorang selalu ingat kepada kewajibannya. Lare Angon berarti anak yang sedang menggembala. Tugas seorang penggembala yaitu menjaga agar ternaknya bisa tumbuh gemuk dan bisa beranak pinak. Seseorang yang sedang menggembala mesti mempunyai sifat asah, asih, asuh.
Iringan selanjutnya yaitu berupa kesenian samroh. Musiknya terdengar meriah. Terdiri dari terbang yang banyak jumlahnya. Ditambah kecer. Kalau ditabuh bareng menjadi ramai sekali. Paguyuban seni samroh dari Purwodadi diundang setiap tahun. Koordinatornya adalah Pakasa Grobogan yang mengurusi Makam Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Sela. Pemusik samroh rata -rata anak remaja. Jelas mereka bersemangat. Mereka berpakaian layaknya santri, peci haji, baju koko putih dan sarungan. Lagu- lagu yang dibawakan kebanyakan syair- syair pujian khas pondok pesantren. Shalawat badar diiringi dengan terbang. Suasana benar-benar bernuansa keislaman. Cara nabuhnya trampil, cekatan dan meriah.
E. Penghayatan Adat Islam Jawa.
Orang Jawa melakukan upacara adat bernuansa simbolik. Praktik Islam Jawa selaras dengan nilai budaya. Keselarasan sosial dijunjung tinggi.
Ummat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Sebagian menjalankan i'tikaf di masjid. Refleksi dan introspeksi kehidupan dilakukan untuk meningkatkan derajat ketakwaan. Bersamaan dengan itu pula turun lailatul qadar, yakni malam yang mempunyai keutamaan lebih dari seribu bulan. Orang Jawa menangkap keutamaan seribu bulan dengan menyediakan tumpeng yang berjumlah lebih dari seribu buah. Tumpeng sewu dimasak oleh abdi dalem membuat aneka masakan. Panganan itu terdiri ketan, sega golong, kuluban, telur dan ikan asin. Rasanya enak dan gurih. Lebih dari itu tumpeng sewu mengandung barokah yang membawa kemakmuran, keberuntungan dan kebahagiaan.
Pemimpin Kraton Surakarta memberi sambutan singkat. Lantas memberi dhawuh kepada abdi dalem ulama agar mendoakan keselamatan kraton Surakarta dan isinya. Para raja, punggawa dan kawula didoakan agar bahagia di dunia sampai akhirat. Tanah Jawa diharapkan selalu gemah ripah loh jinawi atau Baldhatun thoyibatun warobun ghofur.
Tumpeng sewu yang dibagikan sama dibawa pulang sebagai berkat. Makanan disuruh mencicipi buat sekalian keluarga. Diyakini akan mendatangkan suasana ayem tentrem dan rejeki mengalir deras. Keluarga dijauhkan dari malapetaka dan marabahaya. Semua penghalang akan menyingkir. Tanaman di sawah tumbuh subur. Panen berlimpah ruah. Hasilnya bisa dinikmati oleh sesama dan handai taulan. Kraton Surakarta sebagai orientasi untuk Jawa berpengaruh atas dunia batin masyarakat. Tradisi penyambutan malam lailatul qadar ini merupakan wujud untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
F. Kesimpulan
Generasi muda hendaknya turut mempelajari dan mengikuti upacara penyambutan malam lailatul qadar yang diselenggarakan tiap sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Dengan melibatkan diri dalam aktivitas kraton, maka dapat diperoleh pemahaman yang integral dan komprehensif budaya warisan nenek moyang. Kearifan lokal tentu berjalan beriringan dengan kecerdasan global. Budaya modern yang berjalan selaras dengan budaya tradisional merupakan jawaban yang jitu untuk menjawab tantangan pada masa mutakhir. Komunitas yang maju senantiasa menyambung tradisi empiris yang telah teruji.
Pemimpin masyarakat adat perlu menjadikan semua tradisi sebagai modal untuk membuat program pembangunan mental spiritual bangsa. Kenyataannya tradisi yang sudah berjalan di Kraton Surakarta dan adat istiadat di kerajaan seluruh nusantara bertahan dan dihayati oleh pengikutnya. Jatidiri dan kepribadian bangsa Indonesia semakin kokoh dengan panduan seni budaya tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Warna Islam memengaruhi adat istiadat masyarakat tradisional di kepulauan nusantara.
Abdul Munir Mulkhan, 2003. Dari Semar ke Sufi Kesalehan Multikultural sebagai Solusi Islam. Yogyakarta : Al-Ghiyats.
Aliyah Rasyid Baswedan, 2014. Wanita, Karier & Pendidikan Anak. Yogyakarta : Ilmu Giri.
Bram Palgunadi, 2002. Serat Kandha Karawitan Jawi. Bandung : ITB.
Djabaruddin Djohan, 2006. Perjalanan Panjang Menuju Keluarga Bahagia. Jakarta.
Soetarno, 2002. Pakeliran Pujosumarto Nartosabdo dan Pakeliran Dekade 1996-2001. Surakarta : STSI Press.
Solichin, 2010. HMI Candradimuka Mahasiswa. Jakarta : Sinergi Persadatama Foundation.
Suryo S. Negoro, 2001. Kejawen Membangun Hidup Mapan Lahir Batin. Surakarta : CV. Buana Raya.
Suyono, 2000. Cengkok Gambangan Wasitodiningrat. Yogyakarta : Yayasan untuk Indonesia.
Toto Sugiharto, 2014. Jalan Budaya Bocah Bajang. Tegar dalam Prinsip Luwes dalam Penampilan. Yogyakarta : Hikam Pustaka.
Ully Hermono, 2014. Gusti Nurul Streven Naar Geluk (Mengejar Kebahagiaan). Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.
Winarno Kusumo, 2015, Sejarah Malem Selikur Pasa. Surakarta: Sasana Wilapa.