Umbul Ngabean Pengging
Hari Setu Pon, 7 Maret 2026 diadakan sarasehan ritual Umbul Pengging. BRAy Arum Kusumo Pradopo memimpin jalannya tata cara. Peserta dari para penghayat kejawen. Jawa jiwa kang kajawi.
Pujangga Kyai Yasadipura darah Pengging. Perairan Pengging penuh dengan kharisma spiritual. Umbul Pengging digunakan sebagai sarana siram jamas buat para raja. Demi menjaga alam semesta, agar sami basuki lestari.
Negeri Pengging merupakan leluhur masyarakat Boyolali Pengging. Kraton Pengging berhubungan dengan pujangga Kyai Yasadipura. Trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa tedhaking andana warih.
Sang nata garwanipun kalih: Dewi Soma putranipun Prabu Jayakusuma ing Matahun, kaliyan Dewi Daruni putranipun Ajar Kapyara ing Banyuwangi. Prabu Kusumawicitra apeputra 5, urut sepuh kados ing ngandhap punika: Saking ibu Dewi Soma: Prabu Citrasoma ing Pengging lan Raden Citrasena ing Banten. Saking ibu Dewi Daruni: Raden Citrakusuma ing Blambangan. Ibu Dewi Soma: Dewi Citrawati, krama angsal Raden Welakusuma, putranipun Raden Jaya Amisena ing Pengging. Saking ibu Endhang Bangi: Raden Upacitra. Mereka hidup guyub rukun, saiyek saeka kapti.
Keluarga kerajaan Pengging terus mengabdi pada rakyat. Pada bulan Sura tahun 435 diselenggarakan tata cara sesaji Giri Pawaka yang dipimpin oleh Prabu Citrasoma. Tujuannya untuk menghindari erupsi Merapi. Tempatnya di daerah Musuk, kaki Gunung Bibi. Para kawula pun menjadi ayem tentrem. Tiap tahun sang nata mengadakan upacara adat. Tradisi ini berlangsung terus yang melibatkan warga kawasan Merapi Merbabu. Dilanjutkan pentas wayang purwa dengan lakon Wahyu Purba sejati. Kegiatan ritual ini berbarengan dengan aktivitas kultural. Salikam salikem kehing sengkala padha mingkem.
Kehidupan istana Pengging boleh dikatakan selaras serasi seimbang. Sang nata ing Nagari Pengging, anggarwa Dewi Sriati putranipun Resi Sidikwacana ing wukir Merbabu. Beliau punya garwa 2 peputra 4: Raden Pancadnyana krama angsal Dewi Lasmita, lajeng dados raja pandhita nama Resi Pancadnyana.
Prabu Anglingdriya jejuluk Prabu Dewakusuma, inggih prabu Dewanata ing nagari Pengging. Garwa sepuh nama Dewi Soma putranipun Resi Pancadnyana, garwa enem nama Dewi Sinta putranipun Resi Wrahaspati ing wukir Wangkring. Beliau peputra kados ing ngandhap punika: Dewi Rarasati, krama angsal raden Damarmaya, putra ing Salembi. Prabu Suwelacala, ingkang jumeneng nata ing nagari Medang Kamulan. Prabu Pandayanata, anggentosi ingkang rama jumeneng nata wonten ing nagari Pengging.
Pemimpin dari Pengging selalu melakukan ilmu laku. Misalnya tapa brata di Pesanggrahan Madusita Candi Ampel. Tapa kungkum di kali Serang Karanggedhe.
Sesaji tunggak janggleng di alas Wonosego. Methik pari Gaga di Juwangi. Kegiatan upacara adat ini dilakukan oleh bangsawan Pengging. Mereka berprinsip Arab digarap Jawa digawa. Mrih katarta pakartinging ngelmu luhung. Kang tumrap neng tanah Jawa. Agama ageming aji.
Tanah Pengging tepatnya di kaki Gunung Merapi dan Merbabu.
Sejak dulu kala kawasan ini termasuk gudangnya kreator peradaban. Pernah untuk menyimpan pusaka Nogososro Sabuk Inten. Pengging Banyudono salah satu kecamatan Boyolali. Daerah Pengging populer karena di sinilah Mas Karebet, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya dilahirkan.
Kadipaten Pengging menjadi sentral kebudayaan, yang menjadi penerus kebesaran Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak Bintara. Adipati Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging sepuh adalah menantu Sinuwun Prabu Brawijaya, garwanya bergelar Kanjeng Ratu Pembayun yang melahirkan Ki Kebo Kanigara dan Ki Kebo Kenanga.
Kelak Ki Kebo Kanigara menjadi pertapa di lereng gunung Merbabu, sedang Ki Kebo Kenanga menjadi murid Syekh Siti Jenar, seorang wali yang sakti mandraguna. Komunitas peguron ini yang mempelopori ilmu manung-galing kawula gusti. Kalangan Kejawen menyebut dengan istilah ngelmu kasampurnan, ngelmu kasepuhan, kawruh begja, wikan sangkan paran, sangkan paraning dumadi, urip sejati dan satataning panembah.
B. Tempat Gemblengan Tokoh Kejawen.
Pengging Boyolali tempat gemblengan tokoh Besar Nusantara. Pemimpin besar lahir besar dan dididik di Pengging. Kyai Yasadipura pujangga keturunan keluarga ternama.
Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang, lahir di bumi Pengging. Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati raja Mataram juga lahir di Pengging. Raja dan Pujangga Jawa lahir di kawasan Pengging.
Guru ya digugu ya ditiru. Hasil didikan para dwija sejati ini cukup mengagumkan. Joko Tingkir tumbuh menjadi pribadi yang mumpuni kualitas intelektual, sosial, mental, moral dan spiritual. Kanjeng Sultan Trenggono yang bertahta di Kasultanan Demak Bintara menjodohkan Joko Tingkir dengan Kanjeng Ratu Hemas Kambang atau Ratu Mas Cepaka.
Pada periode selanjutnya Joko Tingkir diwisuda menjadi raja di Kasultanan Pajang Hadiningrat dengan gelar Sultan Hadiwijaya Hamid Amirul Mukminin Syah Alam Akbar. Joko Tingkir berkuasa tahun 1546-1582.
Kitab babad tanah Jawi yang disimpan Karaton Surakarta Hadiningrat adalah data historis yang penting. Kita petik tembang Pangkur yang berasal dari cerita Babad Tanah Jawi, sebagai gambaran masa silam. Ini kisah Ratu Kalinyamat yang berkaitan dengan berdirinya Karaton Pajang. Atas restu Ratu Kalinyamat dan keluarga Kasultanan Demak Bintara, karir Joko Tingkir lancar.
Pangkur
Nimas Ratu Kalinyamat, Tilar wisma amartapa neng wukir, Tapa wuda sinjang rambut, Ing Gunung Danaraja, Apratignya tan arsa tapihan ingsun, Yen tan antuk adiling Hyang, Patine sedulur mami.
Bait tembang di atas melukiskan tekad Kanjeng Ratu Kalinyamat yang membela suami, Pangeran Hadirin. Sebelumnya juga sudah ada korban kakak tercinta, Sunan Prawoto. Pelanggarnya Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan. Krisis politik di Demak bisa diatasi oleh Sultan Hadiwijaya.
Kukusing dupa kumelun, Ngeningken tyas sang apekik, Kawengku sagung jajahan, Nanging sanget angikibi, Sang Resi Kaneka Putra,Kang anjog saking wiyati.
Syair indah tembang Kinanthi di atas merupakan kutipan dari Serat Rama karya Yasadipura. Kitab ini dipuji oleh empu Jawa Kuno sebagai karya sastra yang dapat digunakan untuk membangun budi pekerti luhur.
Dhandhanggula
Dhedhep sidhem prabawaning ratri, Sasadara wus manjer kawuryan, Tan kuciwa memanise, Menggep sri nateng dalu,Sinewaka sanggya pra dasih, Aglar neng cakrawala, Winulat ngelangut, Prandene kabeh kebekan, Saking kehing taranggana kang sumiwi,Warata tanpa sela.
Adegan pathet sanga sebagai wahana maca mobah mosiking kahanan, kutipan tembang dhandhanggula terasa cocok benar.
Hening, sunyi, sepi namun berarti. Senyap dan diam karena wibawa malam. Betul-betul hidup cara Kyai Yasadipura melukiskan keadaan. Layak sekali bila waranggana, wiyaga melantunkan lagu itu.
Belum lagi lakon wayang yang dilukiskan Yasadipura. Serial Bratayuda, Ramayana, Dewaruci dan Bimasuci adalah buah tangan sang Pujangga.
Nama harum beliau dikenang sepanjang masa. Berbahagialah orang Jawa mempunyai leluhur Kyai Yasadipura. Darah kapujanggan mengalir deras pada anak keturunannya. Raden Ngabehi Ranggawarsita, Pujangga Karaton Surakarta Hadiningrat lahir dan dididik di Pengging.
Dhalang terkemuka bernama Ki Panjang Mas adalah keturunan Yasadipura. Keluarga Panjang Mas menurunkan dhalang berbobot yang menyebar di seluruh kawasan Surakarta.
Keturunan Kyai Yasadipura hebat. Tak ketinggalan pula adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita. Beliau adalah cucu Yasadipura. Darah seni leluhur Pengging ini menjadi inspirasi bagi orang Jawa.
C. Jalma Limpat Seprapat Tamat.
Keteladanan tokoh sakti mandraguna dari Pengging Boyolali terkenal sekali. Mereka jalma linuwih waskitha ngerti sakdurunge winarah.
Trah Kyai Yasadipura kesdik paningale lantip panggraitane. Kang cinipta teka, kang sinedya dadi. Bangkit ulah gelaring cipta sasmita. Bontos ing kaeruh agal alus.
D. Umbul Pasiraman
Pengging Kagem Nenuwun Pada Tuhan
1. Umbul Raja atau Umbul NgabeanUmbul Raja disebut juga Umbul Ngabean. Tempat pemandian para raja, dewa dan keluarga.
Air yang mengalir menyebabkan seseorang kuat derajat, lancar naik pangkat dan mendapat semat. Derajat pangkat semat atau kedudukan, kehormatan dan kekayaan seseorang akan berlimpah ruah.
2. Umbul MantenDisarankan pada pasangan manten, agar mau siram jamas. Dengan harapan anak keturunan trah tumerah akan mendapat kewibawaan.
Pasangan yang mau lelaku di umbul manten akan menambah stamina, tenaga dan gairah. Tentu saja terjaga rumah tangga yang harmonis. Khasiat air Umbul Manten lebih dahsyat dari pada obat kuat. Untuk pembuktian barangkali lebih baik untuk dicoba.
3. Umbul DhudhaDigunakan untuk ritual seseorang yang ingin memiliki pasangan. Dinamakan Dhudha karena mudah mendatangkan rasa belas kasihan. Dhudha tidak pernah dicurigai, tak pernah dicemburui dan tidak pernah dipandang sinis. Di mana saja seorang dhudha mendapat perhatian dari saudara dan rekan. Dhudha dekat dengan suasana kasih sayang.
4. Umbul RaraUmbul Rara digunakan untuk panuwunan orang yang memiliki hajat, cita-cita dan kedudukan sosial.Orang melakukan ritual di Umbul Rara rata rata pada waktu malam hari. Mereka melakukan siram jamas di tengah malam saat suasana eneng, ening. Tujuannya supaya segala harapan segera terkabul.
Tata cara Ritual di Umbul Rara ini sudah berlangsung sejak jaman kerajaan Majapahit. Ada makam wigati KRT Soeronegoro adalah pembesar Boyolali. Makam keluarga di Ngambuh Boyolali:R.Ng. WongsodimejoR.Ng. Soeronegoro IIKRT SoeronegoroR.Ng. Soeronegoro IR.Ng. Ronosumarto.Demang Joyosuhardjo.
Pangarsa negeri itu mengenal serat dewaruci sebagai refleksi filosofis. Sedangkan membaca serat Rama untuk memperoleh pedoman hidup. Reriptan Kyai Yasadipura itu jalan menuju kautaman.
Konsep kepemimpinan diulas oleh Kyai Yasadipura lewat ajaran Hasthabrata. Pemimpin yang baik mesti selaras dengan sifat surya, candra, kartika, tirta, samudra, dahana, maruta, kisma.
Ajaran kepemimpinan ini ditulis oleh Yasadipura melalui Serat Rama. Juga disebut dengan sastra cetha.
Para pemimpin selalu dekat dengan alam. Perspektif ekologis ini dihayati oleh Pangarsa Pengging Boyolali. Daftar Bupati Boyolali yang berpegang teguh pada keutamaan memang mengagumkan.
1. RT Sutonagoro 1847-1863. Dilantik Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta.
2. Prawirodirdjo 1863 sampai 1894. Dilantik Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta.
3. RT Dirdjokusumo 1894 sampai 1913. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
4. RT Prawironagoro 1913 sampai 1919. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
5. RT Pusponagoro 1917 sampai 1921. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
6. RT Martonagoro 1921 sampai 1922. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
7. KRT Suronagoro 1922 sampai 1940. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
8. KRT Reksonagoro 1940 sampai 1946. Dilantik Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta.
9. RM Projosuwito 1946 sampai 1947. Jaman Presiden Soekarno.
11. R. Hamong Wardoyo 1947 sampai 1948. Jaman Presiden Soekarno.
11. M. Sastrohanjoyo 1948 sampai 1954. Jaman Presiden Soekarno.
12. RT Boedjonagoro 1954 sampai 1960. Jaman Presiden Soekarno.
13. Suali Dwijosukanto 1960 sampai 1964. Jaman Presiden Soekarno.
14. Letkol Soebani 1964 sampai 1972. Jaman Presiden Soekarno.
15. Letkol Soekardjo 1972 sampai 1979. Jaman Presiden Soeharto.
16. Letkol Thohir 1979 sampai 1984. Jaman Presiden Soeharto.
18. S Makgalantung 1994 sampai 1999. Jaman Presiden Soeharto.19. Setiawan Sadono 1999 sampai 2000. Jaman Presiden Gus Dur.
20. Dr Djaka Sriyanta 2000 sampai 2005. Wakil Bupati KH Habib Masturi. Jaman Presiden Megawati.
21. Drs. Sri Mulyanto 2005 sampai 2010. Wakil Bupati Seno Samudro. Jaman Presiden SBY.
22. Seno Samudro 2010 sampai 2020. Jaman Presiden SBY dan Presiden Joko Widodo.
Ajaran Kyai Yasadipura menjadi pandam pandom panduming dumsdi. Kabupaten Boyolali memiliki sejarah yang sepuh wutuh tangguh ampuh dan berpengaruh. Generasi sekarang tinggal melanjutkan perjuangan para leluhur.
Tanggal 7 Maret 2026 Setu Pon dilakukan tata cara. Berupa sarasehan dan ritual kungkum di Umbul Ngabean Pengging. Doa terkabul, jumbuh kang ginayuh, sembada kang sinedya.
Setu Pon, 7 Maret 2026.
Purwadi