Peguron Tingkir Salatiga
A. Ki Ageng Tingkir
Ki Ageng Tingkir merupakan leluhur utama warga Salatiga. Negeri Pengging leluhur masyarakat yang berhubungan dengan asal usul Ki Ageng Tingkir. Leluhur masyarakat Salatiga adalah para pembesar Pengging. Negeri Pengging menjadi pusat pertemuan geneologi para raja Jawa.
Keluarga kerajaan Pengging terus mengabdi pada rakyat. Pada bulan Sura tahun 435 diselenggarakan tata cara sesaji Giri Pawaka yang dipimpin oleh Prabu Citrasoma. Tujuannya untuk menghindari erupsi Merapi. Tempatnya di daerah Musuk, kaki Gunung Bibi. Para kawula pun menjadi ayem tentrem. Tiap tahun sang nata mengadakan upacara adat. Tradisi ini berlangsung terus yang melibatkan warga kawasan Merapi Merbabu. Dilanjutkan pentas wayang purwa dengan lakon Wahyu Purba sejati. Kegiatan ritual ini berbarengan dengan aktivitas kultural. Salikam salikem kehing sengkala padha mingkem.
Kehidupan istana Pengging boleh dikatakan selaras sera-si seimbang. Sang nata ing Nagari Pengging, anggarwa Dewi Sriati putranipun Resi Sidikwacana ing wukir Merbabu. Beliau punya garwa 2 peputra 4: Raden Pancadnyana krama angsal De-wi Lasmita, lajeng dados raja pandhita nama Resi Pancadnyana. Prabu Pancadriya ing Pengging. Dewi Pancawati, krama angsal Raden Sukarsa, Patih ing Pengging. Raden Selandana. Mereka selalu menjunjung tinggi paugeran.
Pergantian kekuasaan pun berjalan aman tertib. Lengser keprabon madeg pandita. Raden Saputra, anggentosi ingkang rama nama Prabu Anglingdriya ing Pengging. Beliau ajejuluk Prabu Dewa Kusuma inggih Prabu Dewanata. Raden Sucitra nama Arya Darmandriya ing Salembi, ugi nama Prabu Darmakusuma ajejuluk Prabu Dipanata. Raden Suwarna nama Arya Sumandriya ing Sudimara lajeng nama Prabu Mandrakusuma, ajejuluk Prabu Hendranata. Trah Pengging berjalan sesuai dengan tuntunan dan tatanan. Mereka biasa mambaca sastra piwulang.
Sistem nama sesebutan berdasarkan martabat kerabat adat. Prabu Anglingdriya jejuluk Prabu Dewakusuma, inggih prabu Dewanata ing nagari Pengging. Garwa sepuh nama Dewi Soma putranipun Resi Pancadnyana, garwa enem nama Dewi Sinta putranipun Resi Wrahaspati ing wukir Wangkring. Beliau peputra kados ing ngandhap punika: Dewi Rarasati, krama angsal raden Damarmaya, putra ing Salembi. Prabu Suwelacala, ingkang jumeneng nata ing nagari Medang Kamulan. Prabu Pandayanata, anggentosi ingkang rama jumeneng nata wonten ing nagari Pengging.
Tanah Pengging tepatnya di kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Sejak dulu kala kawasan ini termasuk gudangnya kreator peradaban. Pernah untuk menyimpan pusaka Nogososro Sabuk Inten. Pengging Banyudono salah satu kecamatan Boyo-lali. Daerah Pengging populer karena di sinilah Mas Karebet, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya dilahirkan.
Kadipaten Pengging menjadi sentral kebudayaan, yang menjadi penerus kebesaran Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak Bintara. Adipati Handayaningrat atau Ki Ageng Pengging sepuh adalah menantu Sinuwun Prabu Brawijaya, garwanya bergelar Kanjeng Ratu Pembayun yang melahirkan Ki Kebo Kani-gara dan Ki Kebo Kenanga. Kelak Ki Kebo Kanigara menjadi pertapa di lereng gunung Merbabu, sedang Ki Kebo Kenanga menjadi murid Syekh Siti Jenar, seorang wali yang sakti mandra-guna. Komunitas peguron ini yang mempelopori ilmu manung-galing kawula gusti. Kalangan Kejawen menyebut dengan istilah ngelmu kasampurnan, ngelmu kasepuhan, kawruh begja, wikan sangkan paran, sangkan paraning dumadi, urip sejati dan satataning panembah.
B. Joko Tingkir Mesu Budi
Pengging tempat gemblengan tokoh Salatiga. Pemimpin besar lahir besar dan dididik di Pengging. Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya raja Pajang, lahir di bumi Peng-ging. Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati raja Mataram juga lahir di Pengging. Raja dan Pujangga Jawa lahir di kawasan Pengging.
Para alumni padepokan Syekh Siti Jenar mengetahui bahwa wahyu keprabon menitis pada diri Joko Tingkir. Maka semua guru tersebut sama mengasuh dan mendidik Joko Tingkir sebagai layaknya putra seorang raja. Dimaklumi bersama bahwa Joko Tingkir sungguh trahing kusuma rembesing madu, ketu-runan langsung Prabu Brawijaya raja Majapahit.
Guru ya digugu ya ditiru. Hasil didikan para dwija sejati ini cukup mengagumkan. Joko Tingkir tumbuh menjadi pribadi yang mumpuni kualitas intelektual, sosial, mental, moral dan spiritual. Kanjeng Sultan Trenggono yang bertahta di Kasultanan Demak Bintara menjodohkan Joko Tingkir dengan Kanjeng Ratu Hemas Kambang atau Ratu Mas Cepaka. Pada periode selanjutnya Joko Tingkir diwisuda menjadi raja di Kasultanan Pajang Hadiningrat dengan gelar Sultan Hadiwijaya Hamid Amirul Mukminin Syah Alam Akbar. Joko Tingkir berkuasa tahun 1546-1582.
Pangkur
Nimas Ratu Kalinyamat.
Tilar wisma amartapa neng wukir.
Tapa lukar sinjang rambut.
Ing Gunung Danaraja.
Apratignya tan arsa tapihan ingsun.
Yen tan antuk adiling Hyang.
Patine sedulur mami.
Pelaku seni budaya Jawa hampir dipastikan akrab dengan kutipan tembang ini. Cuma jarang sekali yang mau menelusuri asal-usulnya. Tak mengira bahwa tembang ini lahir dari buah pikiran pujangga Pengging, Kyai Yasadipura atau Kanjeng Raden Tumenggung Sastranagara. Beliau adalah pujangga besar Kraton Surakarta Hadiningrat, seorang pujangga arif bijaksana, wicaksana ngerti sadurunge winarah, yang menjadi sumber ilmu di Tanah Jawa.
Kinanthi
Kukusing dupa kumelun.
Ngeningken tyas sang apekik.
Kawengku sagung jajahan.
Nanging sanget angikibi.
Sang Resi Kaneka Putra.
Kang anjog saking wiyati.
Syair indah tembang Kinanthi di atas merupakan kutipan dari Serat Rama karya Yasadipura. Kitab ini dipuji oleh empu Jawa Kuno sebagai karya sastra yang dapat digunakan untuk membangun budi pekerti luhur.
Dhedhep sidhem prabawaning ratri,
Sasadara wus manjer kawuryan,
Tan kuciwa memanise,
Menggep sri nateng dalu,
Sinewaka sanggya pra dasih,
Aglar neng cakrawala,
Winulat ngelangut,
Prandene kabeh kebekan,
Saking kehing taranggana kang sumiwi,
Warata tanpa sela.
Adegan pathet sanga sebagai wahana maca mobah mo-siking kahanan, kutipan tembang dhandhanggula terasa cocok benar. Hening, sunyi, sepi namun berarti. Senyap dan diam karena wibawa malam. Betul-betul hidup cara Kyai Yasadipura melukiskan keadaan. Layak sekali bila waranggana, wiyaga melantunkan lagu itu.
Dhalang terkemuka bernama Ki Panjang Mas adalah keturunan Yasadipura. Keluarga Panjang Mas menurunkan dhalang berbobot yang menyebar di seluruh kawasan Surakarta. Tak ketinggalan pula adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita. Beliau adalah cucu Yasadipura. Darah seni leluhur Pengging ini menjadi inspirasi bagi orang Jawa. Setiap bulan Suro penggiat kejawen siram jamas di Umbul Pengging sekalian nyekar di Pesarean Yasadipuran. Mereka hendak ngalap berkah kepada para leluhur yang berjiwa mulia.
C. Tepa Palupi Tokoh Salatiga
1. Adipati Handayaningrat
Pendiri Kadipaten Pengging adalah Adipati Handayaningrat atau Sri Makurung, menantu Prabu Brawijaya. Adipati Handayaningrat disebut juga dengan nama Ki Ageng Pengging Sepuh.
Putri sulung Prabu Brawijaya yang menikah dengan Adipati Handayaningrat. Makamnya di Kawasan Pengging.
3. Kebo Kenaga
4. Kebo Kanigoro
Guru kejawen yang mengajarkan ilmu kasampurnan. Dia anak Handayaningrat. Selamanya wadat atau tak menikah.
Pengajar ilmu sangkan paraning dumadi. Berkeliling di tanah Jawa untuk menjaga keselamatan dunia.
6. Joko Tingkir
7. Ratu Mas Cempaka
Permaisuri Sultan Pajang yang berasal dari Kasultanan Demak Bintoro. Terkenal sebagai perintis batik motif Sidomukti.
Bupati Pekalongan yang menjadi leluhur Sinuwun Paku Buwono XIII, KRT Padmonagoro pelopor industri batik. Putra bupati Padmonagoro yakni Kyai Yasadipura yang menjadi pujangga kraton Surakarta Hadiningrat.
9. Kyai Yasadipura
10. Ratu Laksmintorukmi
Istri Sinuwun Paku Buwono X yang paling muda. Beliau mengasuh anak-anak Presiden Soekarno. Misal Guntur, Megawati, Rahmawati, Sukmawati dan Guruh Soekarno-putra. Makam Ratu Laksmintorukmi terletak di sebelah makam Kyai Yasadipura.
Guru kejawen yang mengajarkan kawruh manunggaling kawula Gusti. Pengikutnya dikenal dengan sebutan Aboge (Abangan Rebo Wage).
12. Ki Ageng Tarub
13. Ki Ageng Sela
Guru sakti mandraguna yang dapat menangkap petir. Menjadi pelindung petani Jawa. Kerap mengajar di peguron Pengging untuk menjaga kesuburan.
Guru Joko Tingkir yang membekali ilmu tata praja. Berkat didikan Ki Ageng Banyubiru Joko Tingkir dapat menurunkan para raja Jawa.
15. Ki Ageng Pemanahan
D. Tapa Kungkum
Umbul Pasiraman Pengging kagem Nenuwun pada Tuhan. Rawa Pening juga tempat untuk tapa kungkum bagi tokoh Salatiga.
Umbul Raja disebut juga Umbul Ngabean. Tempat pe-mandian para raja, dewa dan keluarga. Air yang mengalir menye-babkan seseorang kuat derajat, lancar naik pangkat dan mendapat semat. Derajat pangkat semat atau kedudukan, kehor-matan dan kekayaan seseorang akan berlimpah ruah.
2. Umbul Manten
3. Umbul Dhudha
Digunakan untuk ritual seseorang yang ingin memiliki pasangan. Dinamakan Dhudha karena mudah mendatangkan rasa belas kasihan. Dhudha tidak pernah dicurigai, tak pernah dicemburui dan tidak pernah dipandang sinis. Di mana saja seorang dhudha mendapat perhatian dari saudara dan rekan. Dhudha dekat dengan suasana kasih sayang.
Umbul Rara digunakan untuk panuwunan orang yang memiliki hajat, cita-cita dan kedudukan sosial. Orang melakukan ritual di Umbul Rara rata rata pada waktu malam hari. Mereka melakukan siram jamas di tengah malam saat suasana eneng, ening. Tujuannya supaya segala harapan segera terkabul.
Ritual di Umbul Rara ini sudah berlangsung sejak jaman kerajaan Majapahit. Ada makam wigati KRT Soeronegoro adalah pembesar Boyolali. Makam keluarga di Ngambuh:
R.Ng Wongsodimejo
RNg Soeronegoro II
KRT Soeronegoro
R.Ng. Soeronegoro I
R.Ng. Ronosumarto.
Demang Joyosuhardjo.
1. RT Sutonagoro 1847-1863. Dilantik Sinuwun Paku Buwono VII, raja Surakarta.
2. Prawirodirdjo 1863 sampai 1894. Dilantik Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta.
4. RT Prawironagoro 1913 sampai 1919. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
5. RT Pusponagoro 1917 sampai 1921. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
7. KRT Suronagoro 1922 sampai 1940. Dilantik Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta.
8. KRT Reksonagoro 1940 sampai 1946. Dilantik Sinuwun Paku Buwono IX, raja Surakarta.
11. R. Hamong Wardoyo 1947 sampai 1948. Jaman Presiden Soekarno.
11. M. Sastrohanjoyo 1948 sampai 1954. Jaman Presiden Soekarno.
13. Suali Dwijosukanto 1960 sampai 1964. Jaman Presiden Soekarno.
14. Letkol Soebani 1964 sampai 1972. Jaman Presiden Soekarno.
16. Letkol Thohir 1979 sampai 1984. Jaman Presiden Soeharto.
18. Makgalantung 1994 sampai 1999. Jaman Presiden Soeharto.
20. Dr Djaka Sriyanta 2000 sampai 2005. Wakil Bupati KH Habib Masturi. Jaman Presiden Megawati.
21. Drs. Sri Mulyanto 2005 sampai 2010. Wakil Bupati Seno Samudro. Jaman Presiden SBY.
Pembesar Boyolali selalu menjaga hubungan baik dengan kota Salatiga. Kabupaten Boyolali memiliki sejarah yang sepuh wutuh tangguh ampuh dan berpengaruh. Generasi sekarang tinggal melanjutkan perjuangan para leluhur. Gomrojog banyu bening. Tuking gunung umbul Cokro Pengging. Mili ngetan tumuju kali Larangan. Kartasura Surakarta. Sakbanjure mili neng bengawan gedhe.
Pengaruh tlatah Salatiga sungguh besar. Kerajaan Demak, Pajang, Mataram, Surakarta berhubungan langsung. Salatiga tampil agung dan anggun.