Medan – Nama almarhum H. Syamsul Arifin menempati ruang tersendiri dalam ingatan masyarakat Sumatera Utara. Di tengah kemajemukan etnis, agama, dan budaya yang kompleks, Syamsul Arifin dikenang bukan hanya sebagai pemimpin formal, tetapi sebagai sosok yang mampu membangun jembatan sosial lintas suku melalui pendekatan kemanusiaan dan komunikasi politik yang inklusif. Dari pengalaman itulah lahir julukan yang terus melekat hingga kini: "Sahabat Semua Suku."
.
"Beliau hadir apa adanya di tengah masyarakat. Dalam pergaulan sehari-hari, tidak ada jarak antara dirinya dengan rakyat, apa pun suku dan latar belakangnya," ungkap Daud.
Kepemimpinan Inklusif di Tengah Keberagaman
Bagi Syamsul Arifin, keberagaman bukanlah potensi konflik, melainkan modal sosial dan kekuatan kepemimpinan. Ia memahami betul sosiologi politik Sumatera Utara yang keras di permukaan, namun sesungguhnya hangat dan sarat nilai kebersamaan.
Lahirnya Julukan "Sahabat Semua Suku"
Julukan "Sahabat Semua Suku" pertama kali diucapkan oleh almarhum Latupariska, Ketua FKPPI Sumatera Utara, dalam sebuah pertemuan di rumah Syamsul Arifin. Saat itu, rumah almarhum dipenuhi masyarakat dari berbagai kalangan, profesi, dan etnis.
Dialog sebagai Pilar Kepemimpinan
Dalam memimpin, Syamsul Arifin tidak mengedepankan pendekatan kekuasaan semata. Ia memilih jalur dialog dengan tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Dalam situasi yang sensitif, ia hadir langsung di lapangan, bukan bersembunyi di balik birokrasi dan prosedur administratif.
Kedekatan Emosional dengan Rakyat
Kedekatan emosional dengan masyarakat menjadi salah satu ciri paling menonjol dari kepemimpinan Syamsul Arifin. Ia dikenal rajin menghadiri undangan masyarakat, baik dalam suasana suka cita maupun duka cita. Mengunjungi keluarga yang berduka dilakukan dengan ketulusan, tanpa protokoler yang berlebihan.
Politik Kepercayaan, Bukan Politik Identitas
Kemampuan Syamsul Arifin membangun koalisi lintas kelompok—elit politik, birokrasi, hingga akar rumput—menjadi keunggulan yang jarang dimiliki. Dukungan yang diterimanya datang secara alami, lintas partai, lintas suku, dan lintas agama.
Memimpin dengan Hati
Bagi penulis, Syamsul Arifin adalah contoh bahwa memimpin Sumatera Utara—bahkan sebuah bangsa—tidak cukup hanya dengan kekuasaan. Kepemimpinan sejati harus dibangun dengan hati, empati, dan ketulusan.
oleh :
Penulis: Dr. H. Muhammad Daud, S.Ag., MA., Gr.