MEDAN | GARDA.ID
Di balik meja seduh, barista Tona terlihat santai meracik kopi. Bubuk kopi ditakar, lalu air panas dituangkan perlahan. Uap tipis naik dari cangkir, membawa aroma kopi yang khas.
"Gak ada kopi, gak ada cerita," ujar Tona sambil menutup seduhan kopinya.
Menurutnya, kopi yang disajikan berasal dari arabika dataran tinggi Gayo Highlands. Kopi ini dikenal memiliki karakter rasa yang cukup kuat.
"Rasanya dominan asam, pahit, tapi ada manisnya juga," jelasnya.
Perpaduan rasa itu membuat kopi terasa seimbang di lidah. Asamnya terasa segar di awal tegukan, lalu pahitnya muncul perlahan sebelum meninggalkan sensasi manis di akhir.
Baca Juga:
"Memang terasa banget kopinya," ucap mereka.
Sementara itu, CEO Sumut24, Anto Genk, yang akrab disapa Anto Genk, mengatakan kedai kopi seperti ini memang punya daya tarik tersendiri.
Menurutnya, kedai kopi bukan sekadar tempat minum kopi, tetapi juga ruang berkumpul yang hangat untuk berbagi cerita.
"Kedai kopi memang selalu hangat dengan cerita. Tempat seperti ini juga jadi salah satu favorit tempat nongkrong," ujarnya.
Di kota seperti Medan, budaya ngopi memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Secangkir kopi sering kali menjadi penghubung pertemuan, diskusi, hingga persahabatan.