Hari Revolusi Kuba menjadi momentum refleksi mendalam mengenai arti penting sebuah keteguhan nasional dalam melawan dominasi asing.
Demikian disampaikan dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Dr. Teguh Santosa, dalam pesan yang diterima redaksi.
Peristiwa heroik tersebut melibatkan sejumlah tokoh penting yang kemudian menjadi legenda dalam sejarah politik modern internasional. Tokoh-tokoh sentral yang terlibat langsung dalam memimpin dan menggerakkan roda revolusi di antaranya adalah Fidel Castro, Ernesto "Che" Guevara, dan Camilo Cienfuegos. Melalui strategi gerilya yang gigih dari pegunungan Sierra Maestra, kelompok pemberontak ini berhasil menghimpun kekuatan rakyat luas.
Perjuangan panjang kaum revolusioner itu mencapai titik kemenangan gemilang pada penghujung Desember 1958. Rezim diktator Fulgencio Batista runtuh total setelah pasukan gerilyawan mendobrak pertahanan utama dan menguasai kota-kota strategis. Kemenangan ini sekaligus menandai tumbangnya pemerintahan boneka yang selama ini didukung penuh oleh kekuatan imperialis asing di kawasan Amerika Latin.
Di tengah situasi geopolitik global saat ini, arti penting Revolusi Kuba menjadi semakin relevan untuk terus digaungkan. Kuba masih harus menghadapi berbagai tekanan berat, terutama berupa embargo ekonomi, finansial, dan perdagangan yang dilembagakan oleh Amerika Serikat selama puluhan tahun. Tekanan sistematis ini dirancang untuk melemahkan sendi-sendi kehidupan masyarakat Kuba secara perlahan.
Kendati demikian, anggota Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Muhammadiyah itu menekankan bahwa semangat 26 Juli terbukti tetap hidup dan menjadi fondasi ketahanan nasional rakyat Kuba. Warisan revolusi memberikan mentalitas pantang menyerah bagi bangsa Kuba untuk tetap berdiri tegak mempertahankan kedaulatan negara. Warisan tersebut memotivasi mereka untuk mandiri di tengah keterbatasan serta gempuran sanksi sepihak yang terus menerus dilancarkan.
Hal ini tercermin dari kontribusi nyata Kuba di bidang kesehatan dan pendidikan global, kendati mereka sendiri sedang mengalami kesulitan akibat blokade.
Melalui momentum peringatan Hari Revolusi Kuba ini, Teguh berharap agar semangat anti-kolonialisme dan kemandirian terus dijaga oleh bangsa-bangsa berkembang. Penolakan terhadap hegemoni sepihak merupakan kunci utama terciptanya tatanan dunia yang lebih adil dan setara.