Kegiatan yang berlangsung di ballroom Marianna Resort tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh adat dan budaya, pelaku pariwisata, media, serta tamu undangan dari berbagai daerah.
Baca Juga:
Rekor tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan Naniura, kuliner khas Batak yang telah diwariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai sejarah serta budaya yang kuat di kawasan Danau Toba.
"Naniura bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya Batak. Kami ingin memperkenalkan kembali kekayaan kuliner ini kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk wisatawan yang datang ke Danau Toba," kata Ketut Gunarta.
Baca Juga:
Naniura dikenal sebagai hidangan ikan segar yang diolah tanpa menggunakan api. Proses pematangannya dilakukan dengan perasan jeruk khas Batak dan racikan rempah-rempah tradisional sehingga menghasilkan cita rasa yang khas.
"Melalui kegiatan ini, kami berharap Naniura tidak hanya dikenal sebagai kuliner khas Batak, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman wisata yang dicari wisatawan saat berkunjung ke Danau Toba dan Pulau Samosir," ujarnya.
Selain penyajian 1.001 Naniura, acara juga dimeriahkan pertunjukan musik tradisional dan tari Tor-Tor yang menghadirkan nuansa budaya Batak. Para tamu juga diajak mengenal sejarah dan filosofi Naniura melalui sesi Storytelling Naniura yang ditampilkan secara visual melalui videotron.
Sejumlah perwakilan pemerintah daerah yang hadir memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Mereka menilai sinergi antara sektor pariwisata dan pelestarian budaya menjadi langkah strategis dalam memperkuat daya tarik Danau Toba sebagai destinasi wisata unggulan nasional.
Pada kesempatan yang sama, Marianna Resort juga memperkenalkan Naniura sebagai salah satu menu unggulan di restoran The Rise. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen resort dalam mengangkat kuliner lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata dan gastronomi di kawasan Danau Toba.