MEDAN – Silaturahim kebangsaan antara Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Sonny Irawan, SH, MM, dan Ketua Umum Gema Santri Nusa KH Akhmad Khambali, SE, MM, menjadi momentum memperkuat sinergi ulama dan Polri dalam merawat keberagaman serta menjaga persatuan di Sumatera Utara.
Silaturahim ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara kepolisian, ulama, santri, pendidik, dan masyarakat dalam membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya di Sumatera Utara.
Bagi KH Akhmad Khambali, keberagaman bukanlah penghalang persatuan, melainkan kekuatan sosial yang harus dirawat melalui dialog, sikap saling menghormati, dan kerja sama nyata.
Baca Juga:"Sumatera Utara adalah rumah besar bagi kita semua. Perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kekuatan untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan. Kita boleh berbeda dalam identitas, tetapi harus tetap bersatu dalam komitmen menjaga Indonesia," demikian pesan kebangsaan yang disampaikan dalam semangat silaturahim tersebut.
KH Akhmad Khambali Bawa Semangat Kebangsaan Gus Dur
Sebagai Ketua Umum Gema Santri Nusa sekaligus pengasuh Majelis Sholawat Akhsa Nusantara dan Ponpes Tahfizhul Qur'an Roudhotul Ulum, KH Akhmad Khambali dikenal mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, persaudaraan, dan kebangsaan yang sejalan dengan pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Semangat tersebut menempatkan kecintaan terhadap agama dan komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai dua hal yang berjalan beriringan.
Di tengah masyarakat Sumatera Utara yang multietnis dan multikultural, peran ulama dan tokoh agama dinilai penting untuk membangun ruang dialog serta mencegah perbedaan berkembang menjadi konflik.
Baca Juga:Sinergi Polri, Ulama, dan Masyarakat
Pertemuan dengan Kapolda dan Wakapolda Sumut juga menjadi momentum untuk memperkuat kemitraan antara Polri, ulama, tokoh lintas agama, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, pesantren, dan berbagai elemen masyarakat.
KH Akhmad Khambali menekankan pentingnya pendekatan keamanan yang berjalan beriringan dengan pendidikan, dialog, dan pendekatan humanis.
Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi berlanjut dalam kegiatan konkret, seperti dialog kebangsaan, pendidikan toleransi, penguatan literasi digital, pembinaan generasi muda, serta gerakan melawan hoaks dan ujaran kebencian.
Dengan demikian, masyarakat dapat menjadi mitra aktif dalam menjaga keamanan dan memperkuat ketahanan sosial di lingkungannya masing-masing.
Baca Juga:Akademi Da'i Cilik dan Penguatan Karakter Generasi Muda
Kehadiran Ustadz Fadli Sudiro selaku inisiator Akademi Da'i Cilik TVRI Sumatera Utara turut memperkuat dimensi pendidikan karakter dalam silaturahim tersebut.
Pembinaan dai cilik dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang religius, berakhlak mulia, santun dalam berdakwah, serta memiliki wawasan kebangsaan.
KH Akhmad Khambali, yang juga bertindak sebagai pembina Akademi Da'i Cilik TVRI, menekankan bahwa dakwah tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga harus diwujudkan melalui kepedulian sosial, penghormatan terhadap sesama, dan kecintaan terhadap tanah air.
Sinergi antara ulama, pendidik, keluarga, lembaga pendidikan, dan aparat kepolisian diharapkan mampu membentuk generasi yang religius, nasionalis, moderat, serta memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Baca Juga:Menghidupkan Semangat Gus Dur: Kemanusiaan dan Toleransi
Semangat perjuangan Gus Dur mengajarkan bahwa penghormatan terhadap martabat manusia dan keberagaman merupakan bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks Sumatera Utara, nilai-nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap tidak mudah menghakimi kelompok lain, tidak menyebarkan kebencian atas nama agama atau identitas, serta mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan.
"Ulama harus menjadi penyejuk, santri harus menjadi pelopor kebaikan, Polri harus hadir sebagai pelindung masyarakat, dan seluruh elemen bangsa harus mengambil bagian dalam menjaga persaudaraan. Jangan sampai perbedaan dimanfaatkan untuk memecah belah kita. Sumatera Utara membutuhkan kolaborasi, bukan polarisasi; membutuhkan persaudaraan, bukan permusuhan," demikian pesan yang mengemuka dalam semangat gerakan kebangsaan tersebut.
Dari Silaturahim Menuju Kolaborasi Nyata
Baca Juga:Silaturahim kebangsaan ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi penguatan kemitraan antara kepolisian dan masyarakat sipil, khususnya komunitas santri, organisasi keagamaan, serta para pendidik generasi muda.
Sejumlah program yang dapat dikembangkan antara lain dialog kebangsaan lintas agama dan etnis, pendidikan toleransi di pesantren dan sekolah, pembinaan dai cilik, penguatan literasi digital, serta gerakan bersama melawan hoaks dan ujaran kebencian.
Kemitraan Polri dan masyarakat juga perlu diperkuat melalui komunikasi terbuka, kegiatan sosial, dan upaya deteksi dini terhadap potensi konflik dengan tetap menghormati hak serta martabat warga.
Sumut Harmonis, Tanggung Jawab Bersama
Silaturahim antara Kapolda Sumut Irjen Pol Sonny Irawan, Wakapolda Sumut Brigjen Pol Fadillah Zulkarnaen, Ketua Umum Gema Santri Nusa KH Akhmad Khambali, dan Ustadz Fadli Sudiro menjadi pengingat bahwa menjaga keharmonisan Sumatera Utara membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.
Baca Juga:Keberagaman harus menjadi modal pembangunan, perbedaan menjadi ruang pembelajaran, dan agama menjadi sumber nilai kebaikan. Sementara itu, keamanan dan ketertiban harus dibangun melalui sinergi aparat dan masyarakat.
Dengan memperkuat nilai-nilai kebangsaan, keteladanan ulama, pendidikan pesantren, serta pelayanan kepolisian yang profesional dan humanis, Sumatera Utara diharapkan terus berkembang menjadi daerah yang aman, damai, inklusif, dan bermartabat bagi seluruh warganya.
SUMUT HARMONIS: SATU TUJUAN, BERAGAM IDENTITAS, KUAT DALAM KOLABORASI.