Amangkurat II Menata Bengawan Solo
A. Solo sampai Pamekasan.
Amangkurat II atau Sunan Amangkurat lahir pada tahun 1644. Berempat di Kerta ibukota Mataram. Masa pemerintahan Sultan Agung.
Baca Juga:Orang tua Amangkurat II yaitu Sri Susuhunan Amangkurat I. Raja Mataram ini memerintah tahun 1645 - 1677. Ibukota Mataram pindah ke Plered. Sejak tahun 1677 ibukota Mataram pindah Ke Kartasura. Amangkurat II memerintah tahun 1677 - 1703.
Garwa Prameswari Amangkurat II bernama Mas Candra Kirana. Putri bupati Kediri, Tumenggung Purbonagoro. Bangsawan Kediri yang berasal dari trah Daha Singasari dan Jenggala.
Ibukota Mataram Kartasura resmi digunakan pada hari Rabu Pon, 26 Ruwah tahun 1680. Amangkurat II mulai membangun irigasi dari Cakra dan umbul Pengging. Air mengalir ke Bengawan Solo.
Kedua garwa prameswari ini putri Adipati Cakraningrat Bupati Pamekasan. Tiap kali menikah, selalu lewat Bengawan Solo. Baik Ratu Handayawati maupun Ratu Sukaptinah, keduanya menurunkan raja Karaton Surakarta.
Ratu Handayawati menurunkan Sinuwun Paku Buwana V yang memerintah tahun 1820 – 1823. Ratu Sukaptinah menurunkan Sinuwun Paku Buwana VII yang memerintah tahun 1830 – 1858.
Lagu Bengawan Solo.
Bengawan Solo, riwayatmu ini,
sedari dulu jadi perhatian insani
musim kemarau, tak brapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh.
Mata airmu dari Solo terkurung gunung Seribu.
Air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut.
Itu perahu riwayatnya dulu.
Kaum dagang selalu naik itu perahu..
Irigasi yang dibangun raja Amangkurat II sungguh tepat. Mata air Bengawan Sala berasal dari wilayah Karesidenan Surakarta, letaknya di sisi tenggara Pegunungan Seribu. Dari mata air alirannya menuju ke barat daya, menjadi tapal batas bagi Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Wonogiri. Selanjutnya belok ke barat, masuk ke wilayah Wonogiri.
Sampai di Kakap belok ke utara. Di sebelah selatan kota Wonogiri Bengawan Sala dialiri sungai Keduwang, yang mata airnya berasal dari Gunung Lawu. Setelah melewati kota Wonogiri alirannya berbelok ke barat laut, di wilayah ini mendapat aliran dari sungai Dengkeng, mata airnya berasal dari Gunung Merapi.
Di sini aliran sungai bertemu dengan aliran sungai Kedhungbang, dengan sumber mata air berasal dari Gunung Lawu. Begitu aliran sungai sampai di desa Sokawati sebelah utara kota Sragen, Bengawan Sala mengarah ke timur sampai di perbatasan Kabupaten Ngawi dengan Sragen, di situ mendapat aliran air dari sungai Kedungbanteng, dengan mata air dari Gunung Lawu.
Dari tempat inilah aliran Bengawan Sala masuk ke wilayah Kabupaten Ngawi. Aliran airnya lurus ke arah timur. Sampai di kota Ngawi bertemu dengan Bengawan Madiun yang juga dinamakan sungai Gentong. Dari pertemuan kedua aliran sungai ini, Bengawan Sala menjadi sungai yang besar sehingga bisa dilewati perahu sampai di muaranya yaitu laut selatan.
Aliran Bengawan Sala masih terus ke utara sampai di Cepu menjadi muara dari sungai Bathokan yang mata airnya berasal dari Gunung Gamping. Dari sini aliran sungai masuk ke Kabupaten Bojonegoro, sampai di sebelah timur kedistrikan Padangan menjadi muara bagi sungai Gandhongan yang mendapatkan mata air dari Gunung Pandan.
Aliran Bengawan Sala masih terus ke timur dan menjadi muara dari sungai Tidu, mata airnya juga dari Gunung Pandan. Mulai dari kecamatan Malo, aliran air Bengawan Sala terus saja ke timur melewati Kabupaten Tuban, Gresik dan masih terus ke arah timur sampai di kota Sedayu aliran Bengawan Sala masuk ke samudra, di sebelah utara teluk Madura.
B. Sarana Pekerjaan.
Pindahan ibukota Mataram pindah ke Kartasura dinilai strategis. Jalur menuju arah Surabaya mudah. Jalur ke arah Samarang juga gampang. Amangkurat II memang ahli perdagangan dan ekonomi.
Pengusaha tambang emas membuat Amangkurat II kaya raya. Harta benda itulah yang digunakan untuk membangun ibukota Mataram Kartasura. Untuk itu Amangkurat pernah belajar pada John Locke, Galileo Galilei, Izaz Newton dan Rene Descartes. Filsafat barat membuka cakrawala ilmu pengetahuan raja Mataram.
Pembangunan irigasi Bengawan Solo segera mulai.
Bengawan Solo juga menawarkan beragam pekerjaan.
Pada jaman dahulu sebelum ada kereta api, para pedagang dan orang-orang yang akan bepergian melewati Bengawan Sala, naik perahu. Amangkurat tahu hidrologi.
Tanah di pinggir Bengawan Sala bersifat gembur, hal itu disebabkan karena tanahnya bercampur dengan pasir lembut dan biasa disebut wedheg. Para warga yang tinggal di dekat Bengawan banyak yang mengambil wedheg tersebut, digunakan untuk mengurug halaman supaya terlihat bersih. Ada lagi tanah yang terbawa banjir, berhenti di pinggir yang dinamakan waled. Waled dapat dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanaman.
Fungsi ekonomis melekat pada bengawan Solo. Amangkurat II paham betul. Di setren pinggir Bengawan tanaman dapat tumbuh dengan subur. Misalnya tembakau, jagung, terung, krai, semangka, cabe, kacang dan lain-lain. Mata pencaharian penduduk di sekitar bengawan adalah mencari pasir dan kerikil.
Pada musim penghujan jika curah hujannya sudah tinggi, Bengawan Sala selalu banjir. Banjir yang ditimbulkan sampai merendam desa desa di sekitar bengawan. Sawah berhektar-hektar rusak karena diterjang banjir.
Hewan- hewan peliharaan banyak yang mati, penduduknya harus mengungsi karena rumah- rumah banyak yang rusak. Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir bisa mencapai jutaan rupiah. Di bawah ini beberapa daerah di sepanjang aliran Bengawan Sala yang dianggap keramat.
Demi keselamatan Amangkurat II mengundang para Kyai Ulama. Berdoa demi kesejahteraan negeri.
Pangeran Pekik Bupati Surabaya terkenal arif bijaksana. Sejak kecil turut mengasuh Raden Rahmat atau Amangkurat II. Karena Ratu Mas Surabaya, yakni ibu Amangkurat II, yaitu Ratu Mas Surabaya wafat tahun 1647. Pangeran Pekik dan Ratu Wandansari mendidik Raden Rahmat. Hingga menjadi raja Mataram tahun 1677 - 1703.
Bupati Kediri, Tumenggung Purbonagoro bisa menguasai ilmu kanuragan. Maklum masih keturunan Prabu Jayabaya. Ahli nujum Kediri memberi keterangan tentang papan wingit Bengawan Solo.
Di sebelah utara Kota Ngawi, ada tempat yang dinamakan Kerek.
Disebut Kerek, karena jika ada perahu yang mudik, perahunya harus dituntun memakai tali tambang dan ditarik oleh orang yang berjalan di pinggir bengawan. Sebab aliran airnya deras sekali dan posisi bengawan yang sangat miring.
Di sepanjang aliran Bengawan Sala ada lagi sebuah desa, namanya desa Kuwung. Pemimpinnya bernama Kyai Ageng Kuwung.
Pada suatu hari Kyai Ageng sedang berjalan- jalan, melihat kalau di sungai Kurung ada anak laki-laki yang hanyut, tersangkut pada pepohonan. Oleh Kyai Ageng anak tersebut ditolong, ternyata masih hidup.
Hewan peliharaan Kyai Ageng banyak sekali, sehingga penggembalanya juga banyak.
Karena jumlah kerbaunya banyak maka kalau sedang berendam bersama-sama akan terlihat seperti semut. Oleh karena itu bekas tempat yang dipakai untuk berendam menjadi sungai, dinamakan sungai Semut.
Kain yang ada ikatannya, yaitu yang dipakai oleh Jaka Sangsang. Karena Jaka Sangsang sudah dewasa maka langsung dinikahkan dengan Dewi Maya. Tetapi Kyai Ageng merasa malu karena putrinya hanya mendapatkan seorang penggembala. Karena saking malunya Jaka Sangsang hendak dipisahkan dengan Dewi Maya.
Kyai Ageng mendapat akal. Jaka Sangsang disuruh mengabdi di Kraton Pajang. Terlaksana, pada suatu hari Jaka Sangsang diberi surat oleh Kyai Ageng supaya diantarkan ke Pajang.
Dewi Maya yang sudah lama ditinggal suaminya, pada suatu hari pergi dari rumah hendak menyusul ke Pajang. Jalannya harus menyeberangi Bengawan Sala yang pada waktu itu airnya sedang surut, sehingga bisa diseberangi. Jalannya baru sampai di tengah Bengawan Dewi Maya terpeleset jatuh, hanyut dan tenggelam di bagian sungai yang dalam.
Hal ini yang menjadi penyebab kematiannya. Pada saat itu perjalanan Jaka Sangsang sudah sampai di dekat kedhung, melihat ada kerumunan orang. Jaka Sangsang melongok ke kedhung, dan melihat Dewi Maya melambai -lambaikan tangannya minta pertolongan. Jaka Sangsang pun langsung menceburkan diri ke dalam kedhung untuk menolong, tetapi tidak bisa bahkan ikut tenggelam dan meninggal.
Dengan adanya kejadian ini, maka kedhung tersebut diberi nama Kedhung Maya dan menjadi tempat yang keramat. Jika ada perahu yang lewat di tempat itu, para penumpangnya harus diam, tidak boleh berbicara. Sebab jika ada yang berbicara apalagi berbicara sembarangan, perahunya pasti akan tenggelam.
3. Bengawan Guwa Sentana.
Di atas batu ada guanya ; di atas gua ada kuburannya. Tempat tersebut merupakan petilasan Kanjeng Sunan Bonang. Jika ada perahu yang melewati tempat ini, para penumpangnya tidak boleh berbicara dengan keras. Jika dilanggar, perahunya pasti akan celaka yaitu tenggelam atau pecah.
Diceritakan, di puncak gunung Bonang ada seorang pimpinan perampok, namanya Blacak Ngilo. Blacak Ngilo terkenal akan kesaktiannya. Para penduduk Bonang dan sekitarnya merasa sedih, sebab selalu dicuri harta bendanya. Kanjeng Sunan Bonang mendengar keluh kesah masyarakat desa yang selalu diganggu dan dijarah harta bendanya oleh anak buah Blacak Ngilo.
Kanjeng Sunan memuja palu menjadi jago. Kemudian diadu.
Jago Blacak Ngilo kalah, dan berubah ke wujud aslinya. Bermacam -macam kesaktian yang dikeluarkannya, tetapi selalu kalah dengan kesaktian Kanjeng Sunan. Akhirnya keduanya mengadu kesaktian, Blacak Ngilo mengajak main petak umpet. Kanjeng Sunan disuruh mencari dirinya. Blacak Ngilo bersembunyi dengan ambles ke bumi, munculnya di pinggir Bengawan Sala.
4. Bengawan Pasar Sore.
Di desa Jipang distrik Panolan, Kabupaten Blora, ada tempat bekas kraton Adipati Jipang bernama Arya Panangsang. Kratonnya terletak di pinggir Bengawan Sala. Di sebelah barat kraton, Bengawan Sala dibedah dan dibuat bengawan baru diberi nama Bengawan Pasar Sore. Aliran air dari bengawan sampai ke sungai Kecing, kemudian menyatu lagi dengan Bengawan Sala.
Adapun Arya Panangsang adalah putra dari Pangeran Seda Lepen (putra Raden Patah, Sultan Demak).
Pangeran Seda Lepen wafat ketika masih menjadi Sultan di Demak, dibunuh oleh putra Pangeran Trenggono yaitu Pangeran Prawata. Karena sudah membunuh ayahandanya yaitu Pangeran Seda Lepen, maka Pangeran Prawata lalu dibunuh oleh Arya Panangsang. Tetapi hati Arya Panangsang masih belum lega hatinya, dan terus memburu putra-putra Pangeran Trenggana.
Sultan mengetahui niat jahat dari Arya Panangsang. Oleh karena itu Jipang diserang oleh Pajang, dan terjadilah perang. Sebelum peperangan dimulai terdengar suara, siapa yang berani menyeberangi Bengawan Pasar Sore pasti akan kalah perang. Karena sifat dari Arya Panangsang yang berangasan, Bengawan Pasar Sore diseberanginya. Sampai di seberang Bengawan Arya Panangsang ditombak oleh Ki Ageng Pemanahan, mengenai perut sehingga ususnya terburai keluar.
Usus yang menjuntai disampirkan ke kerisnya, tetapi Arya Panangsang belum juga mati, malah mengamuk sejadi- jadinya membuat prajurit Pajang banyak yang mati.
5. Tinggang.
Di Bengawan Pasar Sore ada bagian yang dalam atau kedhung. Namanya kedhung Braja yang mendapat aliran air dari sungai Tinggang. Mata airnya berasal dari gunung Ngancik. Dinamakan Tinggang, menurut cerita pada jaman dahulu ada raksasa yang mati terkena panah Kyai Ageng Prange. Raksasa mati dengan kaki terentang.
6. Bengawan Getas.
Setelah Bengawan Pasar Sore, ada tempat yang juga keramat. Yaitu di tengah -tengah Bengawan Sala, di situ terdapat dua buah pulau yang berjajar.
7. Kedhung Wer Pitu.
Di Bengawan Getas juga ada kedhungnya, namanya Kedhung Wer Pitu.
8. Sobrah Pengantin.
Di pedukuhan Semanding desa Kemiri, ada dua batang pohon besar yang tumbuh berjajar di tengah-tengah Bengawan Sala.
Ada yang mengira jika pohon tersebut terjadi dari pengantin yang hilang. Para tukang perahu jika sedang lewat di tempat itu, harus diam tidak boleh berbincang-bincang. Jika melanggar, perahunya pasti menemui celaka.
9. Kedhung Waliyan.
Biasanya di kedhung ada penunggunya yang berwujud setan gundul bernama Kyai Singajaya. Tinggalnya di pohon asam besar di pinggir kedhung. Pohon asam tersebut menjadi tempat pemujaan bagi orang-orang yang ingin kaya. Selain di pohon asam. Kyai Singajaya tinggal di pohon ingas yang tumbuh di pinggir bengawan di desa Majenon.
Pohon tersebut juga dijadikan tempat pemujaan, yaitu pada saat orang mempunyai hajat dengan menabuh gamelan harus memberi sesaji tempat itu. Jika tidak memberi sesaji, orang yang punya hajat pasti mendapatkan celaka.
Bengawan Sala yang mengalir di dekat dusun Kampak desa Tanggir, ada kedhungnya disebut kedhung Srungga. Di kedhung ini ada seekor buaya yang besar.
Buaya tersebut kejatuhan batu yang besar sehingga tidak bisa bergerak. Selanjutnya buaya ini menjadi penunggu kedhung. Jika musim tanam tiba dan terdengar suara gemuruh dari kedhung tersebut, menurut kepercayaan para petani di desa ini, maka hasil panennya akan berlimpah.
Di sebelah barat kota Bojonegoro, letaknya di pinggir Bengawan Sala, ada desa namanya Tulung. Di desa ini ada makam yang dikeramatkan. Adapun yang dimakamkan di tempat ini bergelar Gusti Raden. Yaitu putra Pajang yang kalah perang ketika melawan Mataram.
Adapun pantangan bagi penduduk desa Tulung yaitu tidak boleh minum-minuman keras, semacam arak (ciu) jika dilanggar maka orang tersebut akan gila dan tidak lama kemudian akan meninggal dunia.
Sebelah timur laut dari kota Banjarnegara di pinggir Bengawan Sala bagian utara terdapat gunung kecil, termasuk dalam wilayah desa Banjarsari. Di tempat ini terdapat Makam Buyut Kencana disebut juga makam Buyut Sanga.
Sebab di makam ini, terdapat sembilan makam yang berjajar-jajar. Menurut cerita, yang dimakamkan di tempat ini adalah putra Pajang yang pergi meninggalkan kerajaan.
Adapun makam Buyut Hirapati diziarahi oleh orang-orang yang menjalankan perahu supaya tidak diganggu oleh buaya. Asal mula makam Buyut Hirapati diziarahi oleh orang yang menjalankan perahu, menurut cerita seperti tersebut di bawah ini.
Pada suatu hari Nyai Buyut Hirapati diantar oleh anaknya untuk mencuci beras di bengawan. Ketika sedang mencuci beras Nyai Buyut diterkam buaya, dan dibawa masuk ke kedhung Depis desa Sima.
Saat itu Ki Buyut melihat jika istrinya dibawa buaya. Kemana pun arahnya Ki Buyut selalu mengikutinya. Akhirnya buaya sampai di kedhung Depis. Tidak lama kemudian Ki Buyut juga sampai di kedhung. Melihat ada gua Ki Buyut langsung masuk. Baru menginjak mulut gua, Ki Buyut sudah merasa jika masuk ke dalam alam lain.
Mulut gua berubah menjadi gapura keraton, Ki Buyut tetap meneruskan perjalanannya dan melihat jika gua berubah menjadi kraton yang sangat indah. Sedangkan buaya-buaya yang ada di situ berwujud manusia. Tetapi Nyai Buyut Hirapati berubah wujudnya menjadi ayam betina putih di dalam sangkar.
Dan meminta buaya yang sudah membawa istrinya, untuk dihukum. Sang ratu buaya pun mempersilahkan apa yang menjadi kehendak Ki Buyut.
Sambil membawa ayam betina putih Ki Buyut pulang. Sampai di rumah ayam betina putih berubah menjadi Nyai Hirapati. Setelah beristirahat sebentar, sambil membawa gembel dan tali tambang yang besar.
Dalam perjalanan mulut buaya selalu dipukuli oleh Ki Buyut dengan gembel, sampai berlumuran darah. Sampai di pinggir bengawan di dekat rumah Ki Buyut, buaya kemudian di bawa naik ke daratan.
Anak cucunya yang menjemput kedatangannya, diperintah untuk memukuli buaya yang baru saja dinaikinya. Mereka pun segera memukuli buaya tersebut. Karena si buaya sudah merasa bersalah dan kesakitan, maka segera minta ampun kepada Ki Buyut.
Sebab saat itu di bengawan ada buaya lain yang sedang mencari mangsa. Setelah berjanji, buaya diberi ampunan, dan segera pergi masuk ke bengawan. Selanjutnya buaya tersebut menjadi penunggu bengawan. Sehingga jika muncul buaya yang lehernya berkalung hitam, orang-orang desa Banjarsari tidak berani pergi ke bengawan.
Dulu bengawan Solo digunakan untuk tapa brata. Misalnya Sinuwun Paku Buwana IX kerap melakukan tapa ngeli.