Ludruk Panca Marga Nganjuk
A. Seni Pandan Wilis
Ludruk Panca Marga digemari oleh masyarakat Nganjuk. Tahun 1970 - 1990 pernah laris tanggapan. Panggung tobong dipenuhi penonton. Mereka berasal dari penduduk sekitar gunung Wilis dan gunung Pandan.
Paguyuban ludruk Panca Marga ditunggu tunggu pentas. Ada ludruk Sari Murni, ludruk Kopasgat, ludruk enggal tresno, ludruk Panca bakti. Tiap hari kelompok seni mendapat pekerjaan pentas. Suasana betul betul suka gembira.
Seni ludruk berkembang di kawasan Jawa Timur sejak kota Surabaya dipimpin oleh Pangeran Pekik pada tahun 1618. Pementasan seni ludruk mengambil lakon kehidupan sehari-hari. Tokohnya terdiri dari lurah, carik, kamituwa, jagatirta, jagabaya dan kebayan.
Cerita tentang perjuangan Arya Wiraraja dipentaskan di Tambaksari Surabaya pada tahun 1813. bertindak sebagai sponsor yakni Raden Ajeng Sukaptinah putri Bupati Pamekasan Madura. Tujuan pentas ludruk kali ini agar arek-arek Surabaya mewarisi nilai kepahlawanan yang pernah dilakukan oleh Arya Wiraraja dalam membantu berdirinya kerajaan Majapahit.
Untuk memperoleh momen tentang seni ludruk perlu kiranya diulas tentang latar belakang, iringan musik, kidungan, dan sejarah pertunjukan. Seni adalah ungkapan perasaan manusia yang berwujud keindahan. Seni edi peni merupakan ciptaan yang mengandung unsur puncak-puncak rasa indah. Seni adi luhung merupakan cipta rasa yang mengandung nilai keluhuran. Gabungan antara seni edi peni dan seni adi luhung menjadi pendukung utama terbentuknya kebudayaan.
Dalam masyarakat desa pun kesenian menjadi alat untuk menjaga kesuburan dan suasana ayem tentrem. Tiap waktu panen padi petani nanggap seni tayub. Tujuannya unutk menghormati Dewi Sri. Masyarakat Jawa percaya bahwa Dewi Sri merupakan penguasa tanaman padi. Pentas seni gambyong tayub berorientasi pada kehidupan petani. Kegiatan merti dhusun, bersih desa, nyadran mesti menampilkan kesenian. Nanggap wayang purwa dianggap akan mendatangkan keselarasan dengan lingkungan.
Pementasan seni yang ditujukan untuk hiburan semata. Masyarakat memang memerlukan kesenangan yang bersifat rekreatif. Setelah bekerja berhari-hari, mereka haus hiburan untuk melepaskan lelah. Rasa penat, lungkrah, susah terobati dengan hadirnya kesenian. Fungsi pendidikan dalam seni terletak pada teks-teks yang memuat ajaran, piwulang dan pembinaan. Diharapkan peserta didik akan tercerahkan jiwanya setelah mempelajari nilai luhur seni. Dalam bidang ritual, kesenian menjadi sarana masyarakat untuk mencapai ketentraman lahir batin.
Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan- garapan menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.
Seni gamelan Jawa mengandung nilai-nilai historis dan filosofis bagi bangsa Indonesia. Dikatakan demikian sebab gamelan Jawa merupakan salah satu seni budaya yang diwariskan oleh para pendahulu dan sampai sekarang masih banyak digemari serta ditekuni. Secara hipotetis, sarjana Brandes (1889) mengemukakan bahwa masyarakat Jawa sebelum adanya pengaruh Hindu telah mengenal sepuluh keahlian, di antaranya adalah wayang dan gamelan.
Kini siapapun yang berminat dapat memilikinya sepanjang bukan gamelan -gamelan Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka. Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.
Istilah gamelan telah lama dikenal di Indonesia, sudah disebut pada beberapa kakawin Jawa kuno. Arti kata gamelan, sampai sekarang masih dalam dugaan-dugaan. Mungkin juga kata gamelan terjadi dari pergeseran atau perkembangan dari kata gembel. Gembel adalah alat untuk memukul. Karena cara membunyikan instrumen itu dengan dipukul-pukul.
Dengan kata lain gamelan adalah suatu benda hasil dari benda itu digembel-gembel atau dipukul -pukul. Musik-musik etnis di Indonesia 90% jenis musik perkusif, artinya untuk memainkannya dipergunakan alat pukul. Gamelan -gamelan kuna yang masih ada, seperti Gamelan Megamendung (dari Kanoman Cirebon), Kyai Guntur Laut (dari Majapahit), dan Gamelan Sekaten jumlah unitnya masih sedikit.
Manusia memang selalu tidak puas kepada apa yang sudah ada. Kita selalu ingin mengembangkan apa yang sudah ada. Alat musik etnis ritualis menjadi alat musik religius, kemudian menjadi musik sarana, yaitu gamelan untuk dakwah, untuk sarana pendidikan, untuk media penerangan. Pada jaman gamelan sebagai sarana ini jumlah unitnya selalu mengalami penambahan, antara lain ditambah macam- macam kendang, macam- macam alat musik petik, macam- macam alat musik gesek, bahkan tambur, terbang, jedor, bedug dan lain-lain masuk ke dalam anggota musik gamelan.
Adi artinya baik, Guna artinya kepandaian, ilmu pengetahuan atau manfaat, Sarana artinya alat, Bina artinya membangun, membimbing atau mendidik, sedangkan Bangsa adalah orang- orang yang bertempat tinggal di suatu tempat yang mempunyai kedaulatan sendiri dan berpemerintahan sendiri.
Arti kata secara bebas "Apabila gamelan itu digunakan dengan sebaik-baiknya bisa sebagai alat untuk mendidik bangsa". Adalah suatu kenyataan bila kita mendengar uyon -uyon rasanya seperti kita dibawa ke alam impian yang serba nikmat, lupa segala-galanya.
B. Teater Ludruk
Kesenian dapat menjadi cermin masyarakat pendukungnya. Bahasa, tari, drama, sastra, dan hiasan mudah ditemukan dalam panggung seni sandiwara. Kesenian sandiwara sering kali dijadikan sebagai ungkapan cita-cita kolektif yang sedang berkembang. Curahan hati yang diekspresikan dalam bentuk drama pada umumnya dilakukan secara fleksibel.
Meskipun menggunakan bahasa Jawa krama, tetap terdapat warna kental bahasa Jawa Timuran. Bahasa ini dikenal agak kasar, namun merakyat. Unggah-ungguhing basa tidak diperhatikan secara njlimet. Titik tekannya adalah asek komunikatif. Rakyat awam gampang sekali memahami bahasa seni ludruk.
Pesan-pesan pendidikan kerap kali dimunculkan dalam bahasa ludrukan. Misalnya dalam kidungan Jula-Juli, di samping diungkapkan melalui humor, tetapi tidak jarang diselipkan ajaran-ajaran moral bagi masyarakat. Kadang-kadang kidungan Jula-juli itu memakai bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Jawa, sehingga tampak lebih familiar.
Aku seorang seniman
Berasal dari Surabaya
Aku sedang siaran
Untuk menghibur anda semua
Joget mari joget
Joget aja ngaget
Joget mari joget
Tra la la la la la
Purwodadi iku kuthane
Sing dadi rak nyatane
Cekap semanten kidungan kula
Menawi lepat nyuwun ngapura
E ela elo sawone dipangan uler
E ela elo bocah bodho aja ngaku pinter
Ludruk Kopasgat pada tahun 1983 pentas di desa Mojorembun Rejoso Nganjuk Jawa Timur. Penonton diwajibkan untuk membayar karcis seharga Rp. 100. Uang segitu kalau dibelikan beras bisa mendapat 4 kg. Jadi harganya untuk beli karcis mahal juga. Meskipun mahal karcis terjual habis. Penonton selalu datang berjubel.
Kata-kata mutiara Jawa yang berbunyi becik ketitik ala ketara menjadi peagngan utama seorang penyusun lakon ludruk. Lakon atau cerita biasanya menampilkan suri teladan bagi masyarakat. Kejahatan mesti dikalahkan oleh kebenaran. Pengkhianatan tak mungkin lestari, oleh jiwa perjuangan. Bagi penonton ludruk lakon yang baik mesti memberi pencerahan jiwa.
Muncullah tokoh Carik, Kamituwa, Bayan, Jogoboyo, Jogosuto dan Modin. Konflik itu dilanjutkan dengan persekongkolan dengan pihak luar, sehingga berjalan lebih seru. Bisa muncul tokoh dukun santet, perempuan nakal, juragan kaya atau begal kampung.
Dapat ditebak akhir dari cerita itu pasti tokoh protagonis yang dimenangkan. Para penonton pun merasa lega. Struktur cerita happy ending selalu diharapkan oleh penonton. Oleh karena kesedihan dan air mata diobati oleh anugerah dari gelak tawa. Dendam dan kebencian akibat ketidakadilan bisa dibalas secara seimbang.
Cerita ludruk yang mengandung nilai heroisme dapat dijumpai dalam lakon Sogol Pendekar Sumur Gumuling. Perjuangan Sogol yang membela kebenaran dan keadilan patut menjadi suri teladan. Sogol tidak rela apabila wilayahnya diperas dan ditindas oleh antek-antek penjajah. Para pemimpin pribumi yang kerap menghisap darah rakyat berhadapan dengan Sogol.
Ada dukun Kyai Mukhti dan Bayan Sarmidin yang beraliansi untuk membinasakan Sogol. Berkta kesaktian Sogol, keduanya pun tewas akibat polah tingkahnya sendiri. Di sini penonton disuguhi adegan perjuangan yang bernuansa kebangsaan. Tema keagamaan juga digarap para sutradara ludruk. Biasanya menampilkan tokoh pesantren yang sedang melawan gerombolan penjahat.
Hampir semua cerita rakyat yang berada di wilayah sekitar dapat dijadikan sebagai sumber lakon. Lakon Warah Suramenggala dan Suminten Edan adalah cerita yang banyak digemari oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya daerah Ponorogo dan sekitarnya.
Pentas ludruk jarang menampilkan adegan sejarah konvensional dengan latar keraton. Pemainnya akan kaku berperan sebagai raja dan punggawa. Mengapa demikian? Karena ada konversi umum bahwa adegan kerajaan itu harus menggunakan unggah-ungguh basa dengan sempurna. Krama inggil, mady dan ngoko menjadi syarat mutlak dalam adegan istana, semua dengan tuntutan adegan formal keraton.
Johar Manik, Karso Brandhal, Kopo Genthiri, Lahar Blitar, Lutung Kembar, Maling Caluring, Misteri Gunung Merapi, Mliwis Hitam, Naga Baruklinthing, Nyai Dasimah, Nyai Blorong, Pendhekar Randhu Gumbolo, Pendhekar Selogiri, Pedhut Mataram, Putri Dhuyung, Roro Kembang Sore, Ratapan Perawan Buta, Pak Sakerah Tampon Pajaran, Sangkuriang, Sarip Tambakyasa, Sampek & Ing Tay, Selor Lancuran Mergasana, Seruling Wasiat, Si Pietung, Si Buta Melawan Jaka Sembung, Sogol, Sunan Kalijaga, Sungging Purbengkara, Sundel Bolong, Tutur Tinular, Wahyu Nogososro, Warok Suromenggolo.
Cerita ludruk dengan bahasa kerakyatan cukup memberi hiburan yang segar dan bersemangat. Gelak tawa yang dilontarkan para pelawak selalu mendatangkan gelak ketawa yang terpingkal pingkal. Tari Remong tanda pentas ludruk dimulai. Tak lupa selingan dari para tandak.
1. Pesta Perkawinan
Raja membicarakan dengan permaisurinya perkawinan Panji yang akan datang, Panji yang selama ini tidak mau kawin. Karena itu raja agak heran juga mendengar pemberitahuan Prasanta, yang sementara itu sudah datang kepadanya. Diadakan persiapan untuk perkawinan. Diadakan pesta besar. Malam hari orangpun tidur. Sri berniat buat sementara tidak akan menerima Panji, sebab Sri belum menjelma kembali. Ia pun tidur.
Dikiranya mereka itu Panji dan kekasihnya, lalu ditikamnya keduanya. Tapi mereka adalah Sri dan Unon. Gempar dalam keraton. Waktu sedang sekarat, Sri masih sempat minta minum. Panji berbisik dalam telinga keduanya, supaya mereka menjelma kembali, masing masing dalam putri Kadiri dan peteri Urawan. Kedua perempuan itu meninggal tidak lama kemudian. Panji tak henti2nya menangisi kekasihnya yang sudah pergi. Tatkala orang bersedia-sedia hendak membuat janji untuknya, api unggun untuk membakar mayatnya sudah siap.
Sebelum Panji menaruh myat Sri dalam api, mayatnya itu hilang dalam tangannya tanpa bekas. Saat ini diceritakan tentang raja Daha. Ia mempunyai tiga orang isteri, yang tua bernama Dewi Rago, yang kedua : Bentari, yang ketiga, Laras sih. Ketiga tiganya sedang mengandung. Bentari memfitnah Rago, kalanya Rago, katanya Rago tidak setia dalam perkawinannya. Raja percaya saja dan Rago dikirimnya ke tempat yang sunyi.
Pun raja Urawan mendapat anak, mula-mula seorang anak perempuan bernama Wadal wredi (dalam dongeng biasa Kadal-wredi) alias Retna Cindaga. Setelah itu seorang lagi anak perempuan, yaitu penjelmaan kembali Unon, bernama Kumudaningrat, yang menderita penyakit beser (yaitu sering buang air kecil, tapi sedikit-sedikit). Kemudian seorang anak laki-laki, Arya Panjangkringan alias Sinjanglaga, yang banyak cacat tubuhnya, seperti dagunya terlalu pendek, pincang, dan sebagainya.
Raja Singasari pun mendapat seorang anak perempuan, bernama Mertasari. Mengenai penjelmaan kembali Sri-yaitu putri yang ditukar dengan anjing-anak itu hanyut disungai, dibungkus dengan tikar. Pada suatu tempat ia terkait dan ditemukan oleh seorang seorang lurah Bantrang, yang mempunyai firasat, bahwa anak itu bukan sembarang anak, tapi anak raja.
Pada istri-istrinya yang lain pun raja Kadiri mendapat pula anak : Tamiajeng, keduanya puteri, yang terkecil adalah seorang anak laki-laki, bernama Prabusekar (mestinya : Prabatasekar atau Gunungsari). Kedua putri Kadiri itu sudah dewasa.
Pangeran Jenggala Manik tak terhibur hatinya mengingat kekasihnya yang sudah meninggal. Berkali-kali ia dianjurkan oleh orang tuanya untuk kawin, tapi ia tetap menolak. Saat ini Kilisuci dikirim oleh kakaknya untk mendesak Panji supaya kawin, yaitu dengan putri Kadiri, Tamiaji, yang amat elok parasnya. Putri yang terkenal di wilayah Nganjuk.
Akhirnya Panji mengalah.
Kini Kilisuci pergi ke Kadiri untuk menyunting. Sementara itu Panji bersenang-senang di dalam taman. Di mana-mana ia mendengar orang memuji keelokan putri Kadiri. Ia pergi kepada ayahnya untuk meminta supaya perkawinan itu segera dilangsungkan, karena ia mengira bahwa putri Kadiri itu mungkin penjelmaan kembali Sri. Ayahnya berjanji, tapi ia menunggu dulu kedatangan saudaranya, Kilisuci, yang memajukan lamaan. Lamarannya itu diterima dan tiga hari kemudian ia kembali ke Jenggala Manik untuk memberitahukan kabar baik tentang perjalanannya itu. Segera diadakan persiapan untuk berangkat ke Kadiri.
Dalam pada itu tentara Jenggala Manik sampai dikota Kadiri. Sang Pangeran pergi ke keraton. Setelah pertemuan, paa tamu dari Jangga la di tempatkan dibeberapa bagian keraton. Penjelmaan Sri tumbuh dengan subur pada ki Batrang. Ia diberi nama Wara Temon (Anak-dapat), digambarkan keindahan rupanya. Disini kita menemui penyisipan yang amat mengganggu dalam cerita yang memang sudah buruk dan bertele-tele itu.
Keelokan Temon jadi amat terkenal di desa-desa berdekatan. Tiap lelaki, tua maupun muda, jatuh cinta padanya. Demikian juga seorang kepala pencuri, bernama Gajah-gumanglar, yang amat kuat dan tidak dapat dilukai. Segala apa yang diperolehnya dengan mencuri dan merampok, diberikannya kepada Bantrang, sehingga yang tersebut kemudian ini menjadi kaya dalam waktu singkat. Tapi karena gadis itu selalu menolak meladeni pencuri itu, Bantrang selalu menjawab permintaannya dengan mengelak.
3. Pesanggrahan Tambak Baya
Panji terus bersedih hati di taman mengingat penjelmaan Sri. Doyok dan Prasanta berlucu-lucu tidak pada tempatnya di antara mereka sendiri. Saat ini Prasanta bercerita tentang pengalaman isteri raja Kadiri yang tertua kepada Panji. Panji menganggap pemberitahuan itu sungguh-sungguh dan ingat akan berbagai kemungkinan.
Raja segera menyuruh susun sepucuk surat untuk menyunting penganten perempuan itu. Dua orang raja taklukan membawa surat itu kepada raja Kadiri. Sambil menunggu balasan, sang raja bersenang-senang dalam hutan yang dekat dengan berburu.
Raja Kadiri bersedia menerima tamu, patih menceritakan kepadanya tentang kedatangan Jajalalana. Para utusan yang membawa surat diberitahukan kedatangaannya dan diminta masuk. Disusun surat balasan, persiapan-persiapan dilakukan untuk menghadapi perang. Raja kembali ke Kraton dan memberitahu permaisuri tentang maksud Jajalalana. Puterinya, sang mempelai, ketika ditanyakan apakah mau kawin dengan Jajalalana, menjawab bahwa ia tidak mau.
Orang berkerumun. Doyok berlucu-lucu lagi. Panji tertarik perhatiannya dan disuruhnya panggil orang yang menjual sumping itu. Setelah ia melihat penjual sumping itu, ia merasa terhibur. Dibelinya sumping itu dan ia senantiasa teringat kepada pembuatnya. Bagaimanakah konon rupanya? Esok paginya Panji bersama panakawan (pelayan- pelayan) pergi ke hutan untuk berburu.
Rara Temon menunggu dengan tak sabar saudaranya pulang, akhirnya ia datang dengaan uang, hasil penjualan sumping. Sementara ia menceritakan kepada Wara Temon bagaimana terjadinya jual beli itu, datanglah Gajah-gumanglar hendak memaksakan kemauannya. Tapi kali inipun ia ditolak dengan janji-janji. Temon makin mengharapkan kedatangan Panji.
Panji dan Temon kini masuk rumah bersama-sama. Para panakawan duduk di pintu. Bantrang dan isterinya kembali dari pasar. Prasanta memenangkan hatinya katanya sang Pangeran sedang di dalam bersama anaknya. Dalam pertemuan Panji dengan Bantrang, Bantrang menceritakan pengalaman -pengalaman Temon. Selanjutnya Bantrang duga juga menceritakan tentang Gajah-gumanglar. Panji berjanji akan membinasakannya kalau dia datang lagi. Baru saja Panji habis bicara, muncullah Gajah, berseru dari jauh supaya Temon menyongsongnya. Menyusul perkelahian antara dia dan Panji, dalam perkelahian itu tentu saja Gajah kalah. Gajah mati kena panah.
Saat ini Temon dibawa oleh sang Pangeran ke kota. Prasanta disuruh brjalan dahulu, untuk memberitahukan, bahwa putri raja yang hanyut dahulu, sudah ditemukan kembali. Suatu rombongan yang besar menjemput sang puteri. Waktu bertemu, Kilisuci memeluk sang puteri. Dimulailah perjalanan pulang ke kota. Kanjeng Sinuwun raja mengenali puterinya dan bertanya kepada Bantrang bagaimana jalannya peristiwa.
Mendengar kata-kata itu raja Kadiri amarah kepada isterinya yang kedua, hendak ditikamnya isterinya itu. Narada tiba-tiba muncul dan menahan raja berbuat demikian, katanya segalanya itu terjadi karena kemauan para Dewa. Pun hari kelahiran Sekartaji adalah kemauan para Dewa.
Temon setelah dikenali ikut pula membantu dalam kejadian yang menyedihkan dengan sang puteri. Setelah para Panakawaan berlucu-lucu, Narada menghilang lagi. Diadakan pesta besar. Kemudian menyusul perang besar melawan raja seberang yang berakhir dengan kematian. Jajalalana, suatu kejadian yang kita dapati dalam tiap cerita Panji.
Ketika raja Kadiri duduk di setinggil, Panji datang mempersembahkan kepala raja seberang yang dipenggal. Kepala raja itu kemudian dipertontonkan di atas tiang. Banyak haarta rampasan yang dibagi-bagikan kepada orang banyak. Dalam pada itu tibalah para Pangeran dari Jenggala Manik. Disebutkan nama-nama mereka. Mereka itu membawa bermacam-macam kendaraan, yang akan dipergunakan oleh Panji dan anak buahya, karena raja Jenggala Manik ingin melihat Panji kembali. Tapi para paangeran harus istirahat sebentar.
Sang Putri dalam keraton bertanya kepada dayang-dayangnya, bagaimana akhir pertempuran. Dijawab : Panji menang. Sang Putri datang kepada Panji. Panji berkasih-kasihan. Sadulumur hendak berkasih-kasihan pula seperti Panji, dipanggilnya seorang emban dan hendak diperkosanya.
Setelah bertemu, mereka kembali kepaseban dan masuk ke dalam keraton. Seri ratu menyambut puterinya dengan isterinya. Kilisuci pun hadir. Apabila raja beserta keluarga duduk dibagian lain keraton, isteri patih datang membawa persembahan kepada Pangeran. Sekrang raja berpendapat, bahwa Prasanta pun harus kawin pula. Bukankah Panji saat ini sudah beristeri? Pilihannya jatuh pada anak angkat isteri patih (Kanistren).
Pada suatu hari, tatkala raja sedang duduk pula diluar, diperintahkannya Panji pergi ke kakeknya, raja Keling. Untuk itu banyak kapal disediakan. Setelah selesai semua, sang raja mengantarkan putranya beserta anak buah ke pelabuhan, Panji naik kapal beserta isterinya. Setelah sampai dilaut luas, kapal diserang badai. Para penumpang kacau balau. Kapal-kapal cerai berai, bahkan terpisah. Tandrakirana terdampar di pulau Bali, sedangkan Panji hanyut ke tanah Dayak.
Panji memberi nama Jayaleksana kepada Punta, Jaya-sentika kepada Kartala dan Judapati kepada Pamade. Kebetulan ketiga saudaranya itu tidak terpisah dari Panji. Atas usul Jayasantika mereka mula-mula akan menaklukkan kerajaan Cemara Rencana itu mereka laksanakan.
Raja Cemara sedang duduk dipaseban, dikelilingi oleh para pembesar. Sekonyong-konyong datang orang mengamuk. Setelah bertengkar mulut, mulailah perkelahian. Raja Cemara menyerah kepada Panji. Seorang saudaranya perempuan (atau anaknya) diserahkannya kepada Panji. Putri itu bernama Sureng-rana. Malam hari Panji berkasih-kasihan dengna isterinya yang baru.
Putraku si Andhe- andhe Lumut,
Tumuruna ana putri nggah- unggahi
Putrine sing ayu rupane,
Kleting Biru kang dadi asmane
Bu sibu kula boten purun,
Bu sibu kula boten mudhun
Nadyan ayu sisane si yuyu kangkang
Putraku si Andhe- Andhe Lumut,
tumuruna ana putri kang ngunggah unggahi,
putrine sing ayu rupane,
Kleting Abang iku kang dadi asmane.
Bu sibu kulu mboten purun,
bu sibu kula mboten mudhun,
nadyan ayu sisane Si Yuyu Kangkang.
Putraku Si Andhe- Andhe Lumut,
tumuruna ana putri kang ngunggah unggahi,
putrine sing ayu rupane,
Kleting Ungu iku kang dadi asmane.
Bu sibu kulu mboten purun,
bu sibu kula mboten mudhun,
nadyan ayu sisane Si Yuyu Kangkang.
Putraku Si Andhe Andhe Lumut,
tumuruna ana putri kang ngunggah unggahi,
putrine sing ala rupane,
kleting kuning iku kang dadi asmane.
Bu sibu kula inggih purun,
bu sibu kula inggih mudhun,
nadyan ala nanging pribadine sae.
Pada akhirnya kejujuran mendapat imbalan kemuliaan. Pengajar Sastra Jawa yang tangguh, unik, sepuh, adalah pembina yang mengkaji Serat Suluk Wujil. Dalam sehari-hari kita berusaha untuk mengamalkan ilmu makrifat warisan Sunan Bonang. Andhe-andhe Lumut mengandung ajaran tentang kesucian.
Ludruk dengan iringan Jula juli menambah suasana semakin hidup. Iringan gamelan kebanyakan disajikan dalam bentuk laras slendro. Tiap adegan menggunakan iringan khas. Misalnya ludruk Pancamarga di Nganjuk, ludruk Sari Murni Jombang dan ludruk Karya Bakti Mojokerto. Seni ludruk ini telah berhasil menampilkan kesenian rakyat yang bermutu.
Rabo Pon, 25 Pebruari 2026.
Purwadi