Jakarta | Garda.id
Di tengah panggung terdapat matras pencak silat berukuran sekitar 4 × 4,5 meter. Penonton duduk bersila mengelilingi arena dalam dua-tiga baris di setiap sisi. Barisan terdepan berjarak hanya beberapa sentimeter dari arena.
Di setiap sudut matras terdapat mikrofon dengan tiang pendek, ditempatkan rendah dan diarahkan ke permukaan matras.
Tiga orang yang akan menjadi pusat pertunjukan mula-mula duduk di antara penonton barisan depan. Ketika pertunjukan dimulai, mereka masuk ke arena, menyalami beberapa penonton terdekat, lalu mengambil posisi kuda-kuda dan berhadapan.
Gerakan tubuh mulai berlangsung. Ada serangan dan tangkisan, tangkapan, kuncian, jatuhan dan lompatan. Tubuh menghantam matras. Kaki menghentak. Kain bergesekan. Tangan menepuk tubuh. Napas para pesilat mulai memburu.
*Silek di Tengah Musik*
Yang sedang disaksikan penonton tampaknya adalah silek. Silek adalah istilah dalam tradisi Minangkabau untuk seni bela diri yang secara umum dikenal sebagai silat. Pencak silat sebagai tradisi Nusantara sendiri telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2019.
Rabu (23/9/2026) malam itu, silek hadir dalam panggung komposisi musik. Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2026, yang berlangsung pada 23–27 September di Taman Ismail Marzuki.
Emri adalah seniman tari yang juga mengajar di ISI Padangpanjang, sedangkan Da At merupakan alumni ISI Padangpanjang dan pembuat alat-alat musik tradisional Minangkabau. Keduanya telah menekuni tradisi silek sejak lama.
Pada pertemuan pertama, gerakan mereka masih mudah dibaca sebagai pertarungan. Namun bersamaan dengan gerakan itu muncul bunyi yang tidak datang dari alat musik.
Pada awalnya, bunyi-bunyi tersebut mungkin terasa sebagai akibat dari gerakan. Namun semakin pertunjukan berlangsung, bunyi itu mulai menarik perhatian dengan sendirinya.
*Bunyi dari Gerakan*
Pertemuan kedua, Emri dengan Uncu, membawa pengalaman serupa. Gerakan mereka berubah mengikuti respons satu sama lain. Satu tindakan memancing tindakan berikutnya, dan setiap tindakan membawa bunyinya sendiri.
Tidak ada lawan yang harus direspons. Namun bunyi tetap muncul dari setiap tindakan.
Langkah kaki, gesekan kain, tepukan tangan pada tubuh dan pakaian, hentakan kaki serta napas membentuk rangkaian bunyi yang terus bergerak mengikuti tubuh Da At.
Pertanyaan itu menjadi penting karena sejak awal Uncu menempatkan tubuh, gerak dan bunyi dalam satu kerangka penciptaan komposisi. Dalam sesi diskusi karya seusai pertunjukan, ia kemudian menjelaskan cara berpikir yang menjadi dasar karyanya dengan kalimat sederhana:
"Yang dikomposisi bukan nada. Tapi tindakan."
Gerakan yang telah disusun dan dilatih dapat menjadi bagian yang tetap, sementara respons terhadap lawan membuka ruang perubahan saat pertunjukan berlangsung. Serangan dapat menjadi pemicu, tangkapan dan pelepasan membentuk hubungan antartindakan, sedangkan perubahan posisi, kecepatan, tenaga dan jarak menghasilkan perubahan bunyi.
Dengan cara itu, silek tidak sekadar menjadi tontonan yang diiringi musik. Gerak dan tindakan tubuhnya sendiri ditempatkan sebagai bagian dari komposisi.
Dalam sistem tersebut, tubuh bukan sekadar alat untuk memainkan komposisi yang telah dibuat sebelumnya. Tubuh menjadi tempat komposisi berlangsung.
Gagasan ini merupakan bagian dari perjalanan artistik Uncu bersama Candasuara, yang ia dirikan pada 2016. Kelompok yang berbasis di Sumatera Barat itu memusatkan penciptaannya pada seni ketubuhan Minangkabau, khususnya silek dan randai, sebagai sumber penciptaan musik.
Eksplorasi hubungan tubuh, bunyi dan teknologi kemudian juga muncul dalam sejumlah kolaborasinya. Salah satunya melalui karya Panjago, bersama Rani Jambak, istrinya, dan Prof. Scott Wilson dari University of Birmingham. Dalam karya tersebut, gerak silek Uncu ditangkap kamera dan sensor gerak, lalu diolah menjadi body sound yang dipertemukan dengan musik elektronik dan live coding, sementara visualnya dikerjakan oleh Jean David Caillouet.
Uncu dan Rani juga mengelola Rumah Gagas, sebuah laboratorium dan ruang kreatif untuk pertunjukan kontemporer dan eksperimental.
Gagasan tersebut hadir dalam Pekan Komponis Indonesia, sebuah program yang memiliki sejarah panjang. Agenda tahunan Dewan Kesenian Jakarta ini telah berlangsung sejak 1979, ketika masih bernama Pekan Komponis Muda.
Puluhan tahun kemudian, PKIna 2026 mengambil tema Tala–Talu: Listening, Remapping, Extending. Tema tersebut membuka ruang bagi berbagai bentuk penciptaan dan pemikiran musik.
*Mendengar yang Bergerak*
Gagasan Uncu bersinggungan dengan pertanyaan yang lebih lama dalam musik eksperimental: apa sebenarnya yang membuat sesuatu dapat disebut musik?
John Cage pernah menggeser pertanyaan tersebut melalui 4'33". Dalam karya itu, David Tudor duduk di depan piano tanpa memainkan nada, sementara suara-suara yang muncul dari lingkungan pertunjukan menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan.
Hentakan kaki, gesekan kain, tepukan tubuh, napas dan benturan yang biasanya menjadi bagian dari gerakan silek ditempatkan sebagai materi musik.
Cara berpikir ini dapat ditempatkan dalam percakapan yang lebih luas tentang soundscape yang dikembangkan R. Murray Schafer. Jika lingkungan dapat dipahami sebagai lanskap bunyi, gagasan itu dapat diperluas untuk melihat tubuh sebagai ruang kecil yang terus menghasilkan berbagai bunyi dari gerak dan aktivitasnya.
Seorang penonton dalam sesi diskusi karya bercerita bahwa ia sempat memejamkan mata agar lebih berkonsentrasi mendengarkan. Ketika penglihatan disisihkan, bunyi gesekan, hentakan, napas dan benturan tubuh terasa memiliki susunan tersendiri.
Jarak penonton dengan arena membuat pengalaman itu semakin kuat. Ketika tubuh terlempar hanya beberapa sentimeter dari mereka atau benturan keras tiba-tiba terdengar, penonton tidak sepenuhnya berada dalam posisi pengamat yang berjarak.
*Kembali ke Arena*
Pada bagian terakhir, tiba saatnya Da At berhadapan dengan Uncu.
Kali ini Da At membawa sebilah kuku alang, senjata tradisional berbentuk belati yang cukup besar dan mengilap di bawah cahaya lampu, sementara Uncu bertangan kosong.
Yang terdengar bukan sekadar suara dari sebuah pertarungan. Ada langkah, napas, gesekan kain, benturan, jeda, respons dan perubahan tenaga. Semuanya lahir dari tindakan tubuh yang sejak awal ditempatkan sebagai bagian dari sistem komposisi.
Langkah, napas, gesekan kain, benturan dan jeda yang terdengar di arena malam itu tidak lagi sekadar menyertai gerakan silek sebagai bagian dari tradisi leluhur yang diwariskan melalui tubuh. Semuanya menjadi bagian dari cara lain membaca tubuh, sekaligus mendengarkan musik.rel