Ada yang berbeda di Terminal 3 Soekarno-Hatta pada suatu pagi di pertengahan tahun ini. Seorang ibu asal Jawa Tengah, baru tiba dari Malaysia setelah tiga tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga, tidak lagi berdiri berjam-jam di antrian panjang dengan koper lusuh dan mata yang lelah. Ia melangkah, memindai, dan lolos. Cepat. Bermartabat.
Itulah wajah kecil dari sesuatu yang sedang berubah besar.
Pintu Gerbang yang Pernah Menakutkan
Tidak ada salahnya kita jujur terlebih dahulu. Selama bertahun-tahun, nama "imigrasi" kerap membawa asosiasi yang tidak menyenangkan: antrean mengular, dokumen yang hilang entah ke mana, hingga bisik-bisik tentang pungutan yang tidak pernah tertera di loket mana pun. Bagi sebagian orang asing, kesan pertama tentang Indonesia justru terbentuk di koridor-koridor bandara yang sumpek itu.
"All Indonesia" adalah salah satu buah dari keberanian itu.
Lebih dari Sekadar Aplikasi
Program Aksi ke-6 soal penguatan layanan berbasis digital, dan Program Aksi ke-7 tentang perluasan *autogate*, bukan semata efisiensi teknis. Keduanya adalah investasi pada kepercayaan. Setiap menit yang dihemat di antrian adalah satu menit yang dikembalikan kepada manusia, untuk memeluk keluarga yang menunggu, atau segera melanjutkan perjalanan yang memang tidak seharusnya dipersulit.
Bagi investor asing yang kini bisa menyelesaikan urusan izin tinggal tanpa harus bolak-balik ke kantor imigrasi, ini adalah sinyal bahwa Indonesia serius menempatkan diri sebagai destinasi yang kompetitif. Bagi turis yang datang membawa rasa ingin tahu tentang Bali atau Labuan Bajo, kesan pertama yang mulus adalah separuh dari pengalaman yang akan mereka ceritakan pulang.
Namun ada lapisan yang lebih dalam dari sekadar kenyamanan. Dan di sinilah "All Indonesia" memperlihatkan dimensi kemanusiaannya yang paling penting.
Indonesia adalah salah satu pengirim pekerja migran terbesar di dunia. Jutaan dari mereka pergi dengan harapan, dan pulang, jika beruntung, dengan tabungan. Tapi tidak sedikit yang pulang dengan luka: ditipu agen ilegal, terjebak dalam jeratan perdagangan manusia, atau sekadar tidak tahu ke mana harus mengadu.
Ini bukan hanya soal teknologi. Ini soal keberpihakan.
Optimisme yang Tidak Naif
Optimisme yang sehat bukan berarti menutup mata terhadap tantangan-tantangan ini. Justru sebaliknya, hanya dengan mengakui jarak antara cita-cita dan kenyataan, kita bisa mengukur seberapa serius komitmen itu dijalankan.
Tapi ada alasan kuat untuk berharap. Ketika sebuah kementerian bersedia menempatkan perlindungan pekerja migran dan pemberantasan perdagangan manusia dalam satu napas yang sama dengan digitalisasi layanan, itu bukan retorika biasa. Itu adalah pilihan nilai.
Pada akhirnya, sistem keimigrasian sebuah negara adalah cermin. Ia memantulkan sejauh mana negara itu menghargai manusia, baik warganya sendiri yang pulang kelelahan dari perantauan, maupun tamu-tamu yang datang dengan harapan untuk mengenal lebih dalam tentang tanah dan budaya kita.
"All Indonesia" adalah langkah untuk memastikan bahwa cermin itu tidak lagi retak.
*Abdullah Rasyid adalah mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN dan Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan.*