Produk turunan tembakau berupa cerutu kini mulai merambah pasar dengan berbagai varian dan harga. Cerutu Helvetia Premium dipasarkan seharga Rp500.000, sementara Helvetia 1 dan 2 dibanderol Rp600.000. Selain itu, terdapat varian Seintis dengan harga Rp200.000 serta produk terbaru, cerutu King Henry, yang ditawarkan seharga Rp150.000.
Distribusi cerutu ini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, seperti Bali, Bandung, Surabaya, Jakarta, dan Medan. Bahkan, produk tersebut juga mulai menembus pasar internasional, termasuk China, Jepang, dan Malaysia.
Manager Unit Tembakau, Henri Hutabarat, SP, menyampaikan harapannya agar komoditas tembakau dapat kembali mencapai masa kejayaannya. Ia menekankan pentingnya hilirisasi produk, khususnya melalui produksi cerutu, sebagai strategi untuk memperluas pasar lokal dan global.
Saat ini, masyarakat setempat telah terlibat langsung dalam seluruh proses produksi, mulai dari penanaman hingga menjadi cerutu siap jual. Dalam satu hari, produksi dapat mencapai sekitar 90 batang cerutu.
Pengembangan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus mengangkat kembali citra tembakau sebagai komoditas unggulan daerah. Red