Medan - Tumbuh dan berkembang di keluarga yang sadar akan pentingnya menjaga dan menciptakan lingkungan yang aman dan sehat, Miftahussakdan (Sakdan), mahasiswa semester 7 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU), kerap aktif dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan, melalui komunitas SavEnvironment, edukasi
masyarakat, serta kajian solusi lingkungan secara ilmiah.
Kepedulian yang tumbuh dari keluarga, terutama sosok ibu yang menjadi role model baginya, menjadikannya pribadi yang memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kesehatan lingkungan.Sejak pandemi Covid-19, ibunya terbiasa mengelola sampah dengan menanam kembali sisa makanan di halaman belakang rumah untuk dijadikan pupuk alami. Hal tersebut kemudian menjadi kebiasaan yang Sakdan juga terapkan. Ia sadar bahwa sisa makanan sekalipun merupakan sumber daya, bukan hanya sekedar sampah.
"Kalau ada sampah sisa tulang ikan atau makanan itu kami tanam di belakang rumah, jadi memang mama yang dari awal sudah menerapkan hal ini, setiap mama nyuruh aku untuk buang sampah sisa makanan, nah itu aku langsung tau itu harus ditanam di belakang rumah"ujar Sakdan. Kesadaran tersebut kemudian ia wujudkan melalui tindakan nyata. Bersama enam rekannya, Sakdan mendirikan SavEnvironment, komunitas yang berfokus pada isu lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu program yang sudah dilaksanakan, yaitu dengan menggerakkan relawan untuk bekerja bersama warga di kawasan Kota Medan yang terdampak masalah lingkungan, tepatnya di Kampung Aur, Medan Maimun, yang termasuk kawasan padat penduduk yang kerap terkena banjir.
Hingga kini, Sakdan masih aktif dalam komunitas dan memiliki tanggung jawab pada bagian extension, yakni menjalin kerja sama dengan kampus dan komunitas di kota lain agar gerakan SavEnvironment dapat berkembang hingga ke luar Sumatera Utara. Tidak hanya itu, sebagai mahasiswa yang memiliki minat besar dalam kesehatan lingkungan,
Sakdan turut ikut serta dalam mendukung penelitian dosennya terkait inovasi Larvasida alami, sebagai alternatif dari bahan kimia untuk membasmi jentik nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) yang dibuat dengan memanfaatkan biji jarak. Melalui edukasi yang diberikannya kepada masyarakat mengenai informasi seputar Larvasida alami dan kegiatan
pengabdian masyarakat dalam menerapkan proses pembuatan Larvasida alami tersebut. Di sisi akademik, Sakdan turut menulis kajian literatur (literature review) sebagai upaya solusi lingkungan berbasis ilmiah. Salah satunya, Biochar, yaitu arang yang berasal dari pemanasan sisa makanan dan sampah organik lainnya, yang membantu dalam penyerapan
karbon dioksida (CO₂) guna mengurangi emisi gas rumah kaca. Ternyata, rumah menjadi tempat pertama bagi Sakdan untuk belajar dan menumbuhkan kesadaran terhadap kesehatan lingkungan hingga membentuk dirinya yang aktif berdampak bagi masyarakat melalui aksi nyata peduli lingkungan.