APBD Kota Padangsidimpuan Belum Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi, Saatnya Transformasi Fiskal
Kota Padangsidimpuan dinilai masih menghadapi tantangan serius dalam menjadikan APBD sebagai instrumen penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Alih-alih menjadi mesin pembangunan, struktur APBD saat ini masih didominasi belanja rutin yang bersifat konsumtif.
APBD sejatinya bukan sekadar dokumen administrasi keuangan tahunan, melainkan instrumen strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperluas lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca Juga:
Belanja Rutin Masih Mendominasi
Berdasarkan struktur APBD Kota Padangsidimpuan, belanja operasi tercatat mencapai 86,89 persen dari total belanja daerah. Dari angka tersebut, belanja pegawai mencapai 52,65 persen.
Kemandirian Fiskal Masih Rendah
Dari sisi pendapatan, tingkat kemandirian fiskal Kota Padangsidimpuan tercatat hanya 20,34 persen. Artinya, ketergantungan terhadap dana transfer dari pemerintah pusat dan provinsi masih sangat tinggi.
Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) per kapita berada pada kisaran Rp496.665 per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi daerah masih belum tergarap secara optimal.
Baca Juga:
Perlu Reformasi Struktur APBD
Kondisi tersebut menegaskan perlunya transformasi fiskal secara menyeluruh. APBD tidak boleh hanya berfungsi menjaga operasional birokrasi, tetapi harus menjadi alat akselerasi pembangunan ekonomi.
Ruang fiskal yang tercipta harus dialihkan ke belanja produktif yang memiliki dampak jangka panjang.
Optimalisasi PAD dan Aset Daerah
Reformasi pendapatan juga menjadi kunci. Optimalisasi PAD tidak selalu berarti menaikkan pajak, tetapi memperluas basis pajak, meningkatkan kepatuhan wajib pajak, serta memperkuat digitalisasi sistem pemungutan.
Sektor strategis seperti pajak restoran, hotel, hiburan, reklame, dan parkir masih memiliki ruang tumbuh yang besar.
Baca Juga:
Arah Penggunaan Anggaran Harus Produktif
Ruang fiskal yang berhasil diciptakan harus difokuskan pada program yang memiliki efek pengganda ekonomi (multiplier effect).
Transformasi digital juga tidak bisa diabaikan, terutama digitalisasi UMKM, sistem pembayaran elektronik, dan pemasaran produk lokal berbasis platform digital.
Penutup
Dengan potensi yang dimiliki, Kota Padangsidimpuan sebenarnya memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih cepat. Namun hal itu hanya bisa tercapai jika ada keberanian melakukan reformasi fiskal secara konsisten dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan daerah bukan ditentukan oleh besar kecilnya anggaran, tetapi oleh sejauh mana anggaran tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.red