PATI — Festival Muria Raya (FMR) #6 berakhir di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, Minggu (30/8/2026). Selama hampir sebulan, festival tersebut menggelar rangkaian pertunjukan, pameran, residensi, kirab, dan pertemuan warga di sejumlah desa kawasan Muria.
Rangkaian festival dimulai di Desa Menawan, Kudus, kemudian berlanjut ke Desa Japan dan berakhir di Desa Jepalo, Pati.
Festival tersebut mempertemukan seniman dari berbagai daerah di Indonesia dengan seniman dari luar negeri. Sejumlah seniman yang terlibat antara lain Yuta Kuroki dari Jepang, Compagnie Kotekan dari Prancis, serta seniman dan kelompok seni dari Bandung, Blora, Subang, Surakarta, dan sejumlah daerah lainnya.
Salah satu kolaborasi yang menjadi perhatian berlangsung saat pembukaan di Desa Menawan, Kudus, pada 5 Agustus. Belasan musisi Compagnie Kotekan dari Prancis memainkan gamelan bersama saxophone, trombone, dan terompet.
Baca Juga:Pertunjukan tersebut juga melibatkan tiga penari Indonesia.
"Gamelan membuka ruang bagi siapa saja untuk berkarya bersama," kata Presiden Compagnie Kotekan Sarah Andrieu.
Selain kolaborasi gamelan, pembukaan FMR menghadirkan Tari Caping Kalo dari Kudus dan Yuta Kuroki dari Jepang. Yuta membawakan Kijin Kagura, tari ritual dari Shiiba, Miyazaki.
Yuta yang berasal dari garis keturunan penari Kagura juga mengikuti program residensi bersama seniman dan masyarakat Muria.
Berpindah dari Desa ke Desa
Ketua Yayasan Festival Muria Raya Brian Trinanda K. Adi mengatakan konsep perjalanan FMR merupakan bagian penting dari festival.
Konsep tersebut dimaknai sebagai simbol persaudaraan antara manusia serta hubungan manusia dengan alam.
"Ujung dengan ujung bertemu melingkar. Itu menjadi simbol ikatan persaudaraan antar sesama manusia dan juga dengan sesama makhluk serta elemen alam, termasuk tumbuhan, binatang, air, angin, tanah, dan api, sekaligus saling mendoakan," ujar Brian.
FMR pertama kali berlangsung di Pati pada 2020. Setelah itu, festival bergerak ke wilayah Jepara dan Kudus dengan perjalanan mengelilingi Gunung Muria atau pradaksina.
Menurut Brian, perjalanan tersebut menjadi upaya menjaga hubungan masyarakat di kawasan Muria agar tetap terhubung.
Baca Juga:Libatkan Warga dan Anak-Anak
FMR tidak hanya menggelar pertunjukan di atas panggung. Di Desa Japan, misalnya, seniman terlibat langsung dalam kegiatan bersama masyarakat.
Shafira Onky Parasmita atau Rara mengajarkan tembang macapat kepada anak-anak dan
remaja Desa Japan. Ia juga terlibat dalam proses musik untuk kolaborasi Yuta Kuroki dengan anak-anak sekolah dasar setempat.
Seniman lokal Cucu Khabib Yahya juga terlibat dalam festival melalui pertunjukan wayang kulit Bedhol Kayon dengan lakon Ngguyang Sengkolo, dilanjutkan Tari Bujang Ganong.
"Dari mereka saya belajar bahwa seni tidak semata-mata soal uang, melainkan ruang belajar, dialog, dan perjumpaan," katanya.
Sementara pemuda Desa Japan M. Choirul Anam mendapatkan pengetahuan mengenai pengarsipan sejarah desa. Ia kemudian terdorong untuk melihat kembali kondisi sosial dan lingkungan di wilayah tempat tinggalnya.
Baca Juga:Gamelan dari Limbah Kaca
Eksperimen seni juga menjadi bagian FMR melalui Gatotkaca atau Gamelan Total Kaca. Karya tersebut dibuat dari limbah kaca dan dikembangkan melalui proses riset serta pengembangan organologi hingga dapat digunakan sebagai instrumen musik.
Gatotkaca kembali hadir dalam FMR #6 bersama Nyai Murbeng Lungit, Gempur Sentosa dari Subang, dan Jawara Squad.
Gamelan berbahan kaca tersebut sebelumnya juga menjadi bagian penting dalam FMR edisi keempat di Jepalo pada 2024. Saat itu, karya tersebut menjadi salah satu perhatian dalam festival yang mengangkat tema Gamelan Total Kaca.
Pameran menampilkan karya dari program Artists and Experts in Residence, Bala-Bala Muria, serta karya para seniman kolaborator.
Pada malam 29 Agustus, sejumlah seniman dan kelompok tampil, antara lain Langgeng Culture Center, Rendra Bagus Pamungkas, Mawlana Jawi, Deny Dumbo, Danar Agung, Gatotkaca, Sutanto Mendut, Y. Agung Wibowo, Rara Kencana, Mbah Lawu Warta, Subang Nyeni, Lakonika, Cucu Khabib Yahya bersama seniman residensi, serta Yuta Kuroki.
Rangkaian dilanjutkan pada 30 Agustus dengan Komunitas Mantra Gula Kelapa dari Surakarta, Temu Cakap Desa, dan SVRNSA dari Blora.
Salah satu penanda perjalanan festival adalah Prasastu, batu yang dipahat menggunakan Aksara Waja. Batu tersebut dibawa dalam rangkaian kegiatan sebagai simbol persaudaraan antara festival dan masyarakat.
Tim Media Festival Muria Raya Maliyana Nur Rahma mengatakan FMR tidak hanya berorientasi pada pertunjukan seni.
Baca Juga:"Festival Muria Raya bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi gerakan kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat desa," ujarnya.
Ia menyebut setiap rangkaian festival menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat, seniman, pengetahuan lokal, dan jejaring kebudayaan dari berbagai daerah.
Tantangan Setelah Festival
Konsep Cakra Manggilingan yang menjadi bagian dari FMR menggambarkan siklus kehidupan yang terus bergerak. Warisan leluhur dipandang bukan hanya sebagai sesuatu yang disimpan, tetapi pengetahuan yang diterima generasi sekarang untuk kemudian dikembangkan dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Selama enam edisi, FMR telah mempertemukan berbagai bentuk kesenian dan latar budaya. Gamelan dimainkan bersama perangkat musik modern oleh musisi Prancis, seni ritual Jepang bertemu masyarakat Muria, sementara pengetahuan gamelan dikembangkan menjadi instrumen berbahan kaca.
FMR #6 pun berakhir di Jepalo. Namun bagi penyelenggara, pekerjaan kebudayaan tidak berhenti ketika panggung ditutup. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar hubungan antara seniman, masyarakat, pengetahuan lokal, dan lingkungan yang terbentuk selama festival tetap berjalan.rel
Baca Juga: