SERDANG BEDAGAI | Garda.id
Karya yang disusun dalam sebelas pupuh macapat itu menggambarkan perjalanan hidup Soekirman mulai dari masa pendidikan, kehidupan keluarga, spiritualitas, pengabdian sosial, hingga kiprahnya sebagai kepala daerah di Kabupaten Serdang Bedagai.
Dalam pupuh Dhandhanggula Soekirman Bebrayan, Purwadi menuliskan riwayat pendidikan Soekirman yang lahir pada 6 April 1955 dan menempuh pendidikan dari SD Pagarjati, SMP Lubukpakam, STM hingga menyelesaikan studi di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
Purwadi menggambarkan Soekirman sebagai pribadi religius yang konsisten menjalankan ibadah dan mendalami ilmu agama. Dalam pupuh Pangkur Soekirman Manembah, Soekirman dikisahkan tekun menjalankan salat berjamaah, ibadah malam, serta aktif mengikuti pengajian bersama ulama dan tokoh agama.
Di bidang sosial dan pertanian, Soekirman disebut memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan masyarakat desa. Melalui aktivitasnya di Yayasan BITRA dan pendampingan petani, ia dinilai aktif mendorong pertanian organik, gotong royong, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bawah.
"Pak Soekirman patuladhan among tani," tulis Purwadi dalam salah satu bait yang menggambarkan Soekirman sebagai teladan bagi kalangan petani.
Sebagai mantan Bupati Serdang Bedagai, Soekirman dalam karya tersebut juga digambarkan memiliki kemampuan diplomasi, tata pemerintahan yang baik, serta perhatian terhadap budaya dan literasi masyarakat.
Karya sastra macapat ini ditutup dengan pesan pengabdian dan keteladanan Soekirman bagi masyarakat. Purwadi menilai dedikasi Soekirman selama bertugas maupun setelah purna bakti tetap menjadi inspirasi dalam membangun kebersamaan dan kesejahteraan sosial.