Selasa, 18 Agustus 2026

Getaran Pemuda, 81 Tahun Kemudian

Nas - Selasa, 18 Agustus 2026 13:21 WIB
Getaran Pemuda, 81 Tahun Kemudian
Ist

Getaran Pemuda, 81 Tahun Kemudian
Oleh: Dhafa Pohan
Pagi 16 Agustus 1945, ada getaran yang mungkin tidak terlihat mata.
Ia bukan pergerakan tanah. Bukan pula suara ledakan senjata.
Getaran itu datang dari dada para pemuda yang mulai tidak sabar menunggu sebuah bangsa menjadi dirinya sendiri.
Di Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta dibawa oleh para pemuda. Kita mengenalnya sebagai sebuah penculikan. Sebuah kata yang terdengar keras.
Namun, dari peristiwa itu kita belajar satu hal: tidak semua kegelisahan harus menunggu menjadi tenang.
Para pemuda saat itu gelisah. Mereka tidak ingin kemerdekaan Indonesia terlalu lama menunggu janji Jepang.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan sesuatu yang pantas diberikan oleh bangsa lain. Kemerdekaan harus lahir dari keberanian bangsa sendiri.
Karena itu, mereka memilih cara yang keras.
Mereka menculik dua tokoh penting bangsa. Tetapi jika dilihat dari sisi lain, sesungguhnya mereka sedang mencoba menculik waktu.
Waktu agar Indonesia tidak terlalu lama menunggu.
Waktu agar kesempatan yang sudah terbuka tidak kembali hilang.
Seandainya para pemuda kala itu memilih diam, mungkin sejarah tetap berjalan. Tetapi barangkali tidak dengan kecepatan yang sama.
Getaran itu kemudian membawa Indonesia kepada 17 Agustus.
Delapan puluh satu tahun kemudian, pagi kembali datang bersama merah putih.
Di lapangan, pasukan pengibar bendera berdiri tegak.
"Kepada Sang Merah Putih, hormat, gerak!"
Langkah kaki bergerak serempak. Bendera perlahan naik ke tempatnya.
Pemandangan seperti ini selalu membuat saya bertanya:
Apakah getaran yang dirasakan pemuda 1945 masih tinggal di dada pemuda hari ini?
Atau semuanya telah berubah menjadi sekadar rutinitas tahunan?
Pertanyaan itu terasa semakin penting ketika melihat kehidupan pemuda hari ini.
Kita memang tidak lagi hidup di bawah penjajahan.
Tetapi bukan berarti semua pintu menuju masa depan terbuka begitu saja.
Pendidikan masih harus diperjuangkan. Mendapat pekerjaan tidak selalu mudah meski ijazah sudah berada di tangan. Kesempatan pun tidak selalu datang kepada mereka yang paling siap.
Karena itu, saya teringat pada perdebatan tentang anggaran pendidikan yang belakangan sampai ke Mahkamah Konstitusi.
Bukan karena Makan Bergizi Gratis adalah sesuatu yang buruk.
Memberi makan anak-anak tentu pekerjaan yang baik.
Tetapi persoalannya bukan selalu tentang mana yang baik dan mana yang buruk.
Kadang persoalannya adalah: mana yang harus didahulukan?
Konstitusi telah memberikan amanat agar pendidikan mendapatkan prioritas dalam anggaran negara.
Maka ketika prioritas itu diperdebatkan, sesungguhnya kita tidak hanya sedang membicarakan angka.
Kita sedang membicarakan masa depan seperti apa yang hendak disiapkan.
Sebab setiap kali negara menentukan prioritas, ada masa depan yang sedang dipilih.
Di situlah saya kembali teringat pada Rengasdengklok.
Dulu pemuda menculik Soekarno dan Hatta agar sejarah segera bergerak.
Hari ini, jangan-jangan justru masa depan pemuda yang sedang dicuri pelan-pelan.
Bukan dengan paksa.
Bukan pula dengan suara gaduh.
Tetapi melalui mahalnya pendidikan, sulitnya pekerjaan, sempitnya kesempatan, penyalahgunaan kekuasaan, atau keputusan-keputusan yang hari ini terlihat kecil tetapi kelak harus ditanggung generasi yang lebih panjang.
Pencurian seperti ini memang tidak gaduh.
Tidak ada pintu yang didobrak.
Tidak ada orang yang berteriak meminta pertolongan.
Ia berlangsung perlahan.
Sampai suatu hari seorang anak muda menyadari bahwa masa mudanya telah habis untuk mengejar sesuatu yang seharusnya menjadi kesempatan.
Sedikit bergeser ke arah timur, kata "getaran" menemukan arti yang berbeda.
Pada Agustus ini, bumi Nusa Tenggara Timur kembali mengingatkan kita bahwa getaran tidak selalu lahir dari dada manusia.
Gempa mengguncang Flores dan sekitarnya. Rumah-rumah rusak. Sebagian warga harus meninggalkan tempat tinggalnya.
Di sana, getaran tidak lagi menjadi kiasan.
Ia benar-benar terasa di kaki.
Kita di tempat lain mungkin sedang sibuk memasang bendera.
Mereka mungkin sedang memastikan rumahnya masih aman untuk ditinggali.
Kita mendengar lagu-lagu kemerdekaan.
Mereka mungkin lebih sibuk mendengar apakah tanah masih bergerak.
Lalu saya kembali bertanya:
Getaran mana yang lebih kuat?
Getaran semangat yang membuat kita berdiri tegak di lapangan upacara?
Atau getaran ketakutan yang membuat saudara kita di NTT belum berani kembali ke rumah?
Pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban sederhana.
Namun, justru di sanalah makna kemerdekaan kembali diuji.
Delapan puluh satu tahun lalu, para pemuda gelisah karena merasa masa depan bangsa terlalu lama menunggu.
Hari ini, bentuk kegelisahan itu mungkin berbeda.
Kita tidak perlu menculik Soekarno dan Hatta.
Tetapi kita perlu "menculik" kembali keberanian yang mulai hilang.
Menculik rasa peduli yang tertinggal di tengah kesibukan.
Menculik kegelisahan yang terlalu lama kita simpan.
Kita harus merebut masa depan dari tangan siapa pun yang perlahan mengambilnya.
Bukan dengan kekerasan.
Bukan dengan kebencian.
Tetapi dengan belajar, bertanya, mengkritik, bekerja, dan berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya dibiarkan.
Sebab mungkin kemerdekaan memang tidak pernah benar-benar selesai.
Ia hanya berpindah pekerjaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dulu tugasnya mengusir penjajah.
Hari ini mungkin tugasnya memastikan anak-anak tetap bisa sekolah, anak muda punya kesempatan bekerja, dan mereka yang memegang kekuasaan tidak lupa bahwa kekuasaan itu sendiri adalah amanat kemerdekaan.
Merah putih akhirnya bukan hanya kain yang berkibar di tiang.
Ia adalah pengingat bahwa pernah ada pemuda yang tidak tahan melihat masa depan bangsanya terlalu lama menunggu.
Dan pagi ini, ketika bendera kembali naik perlahan, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah dada kita masih bergetar?
Atau kita hanya berdiri tegak karena sudah tahu kapan harus hormat dan kapan harus gerak?
Sebab barangkali yang paling berbahaya bagi sebuah bangsa bukan ketika tanahnya bergetar.
Bukan pula ketika anak mudanya gelisah.
Tetapi ketika semuanya sudah tidak lagi bergetar, sementara ketidakadilan terus berjalan seperti biasa.
Dan mungkin, 81 tahun setelah Rengasdengklok, sejarah sedang menunggu getaran berikutnya.(Dhafa Pohan)

SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
 
Komentar