Rangkaian kegiatan tersebut tidak sekadar menghadirkan pameran benda pusaka. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk mbabar kawruh, menggali pengetahuan, sejarah, filosofi, seni, hingga nilai spiritual yang melekat pada keris dan tradisi tosan aji.
Setelah kegiatan di Joglo Hadipuran, rangkaian acara berlanjut di Pendopo Kabupaten Jepara dan kemudian di Museum Kartini yang berada di kawasan Alun-Alun Jepara. Beragam keris dipamerkan sebagai bagian dari Festival Mpu Tosan Aji yang berlangsung pada Jumat Kliwon, 21 Agustus 2026.
Hadir dengan tekad kuat Ki Aryo Pandu dari Senapati Nusantara Yogyakarta. Sambutan hangat juga diberikan KPH Bambang Hadiningrat selaku Ketua Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (Pakasa) Cabang Jepara, serta KMT Susanti Purwaningrum selaku Pengageng Joglo Hadipuran.
Keris Bukan Sekadar Senjata
Ngelmu laku menjadi salah satu dasar penting dalam tradisi pembuatan keris. Karena itu muncul ungkapan bahwa pusaka bertuah karena laku, sedangkan keris berwibawa karena ngelmu.
Keris ditempatkan sebagai sarana kawibawan, kawidadan, kamulyan, dan karaharjan. Di balik bentuk, pamor, ricikan, dan proses pembuatannya terdapat pemaknaan yang panjang mengenai hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, serta Sang Pencipta.
Karena itu, sejarah keris tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan peradaban manusia. Metalurgi menjadi salah satu indikator kemajuan teknologi. Peradaban yang kokoh antara lain dibangun melalui kemampuan manusia mengolah logam.
Jepara dan Jejak Empu
Jejak Empu Supa dari Kadipaten Tuban juga menjadi bagian dari narasi panjang perkembangan perkerisan Jawa. Tradisi keilmuan tosan aji kemudian diwariskan secara turun-temurun dan berkembang di berbagai wilayah.
Dalam tradisi Jawa dikenal ungkapan "waskita, ngerti sakdurunge winarah", sebuah gambaran tentang ketajaman batin dan keluasan pengetahuan yang diidealkan dalam kehidupan.
Pusaka seperti Nagasasra dan Sabuk Inten, yang dikaitkan dengan tradisi Keraton Demak Bintoro, Kyai Crubuk dalam tradisi Pajang, serta Kyai Plered dalam tradisi Mataram, memperlihatkan bagaimana keris mendapatkan tempat penting dalam ingatan sejarah dan kebudayaan Jawa.
Tangguh, Wutuh, Sepuh, Ampuh
Tangguh berkaitan dengan kawibawan dan kawidadan. Wutuh mengandung gagasan tentang pikiran yang sistematis, integral, dan komprehensif. Sepuh mengingatkan manusia kepada leluhur yang telah memberikan tepa palupi, keteladanan yang dapat dijadikan pedoman.
Sementara ampuh dimaknai sebagai kekuatan yang senantiasa mengokohkan jati diri.
Dalam kebudayaan Jawa, nilai itu dapat dibaca melalui konsep cipta, rasa, karsa; iman, ilmu, amal; serta ulat, patrap, pangucap. Pengetahuan harus beriringan dengan sikap, ucapan, tindakan, dan tanggung jawab moral.
Seni yang Menghidupkan Pusaka
Pertunjukan tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian keris tidak hanya berbicara tentang benda, tetapi juga tentang seni, karakter, pengabdian, dan kecintaan kepada tanah air.
Lagu Mars Jepara yang berkumandang dengan semangat sigrak, gumyak, jenak, enak, penak semakin membangkitkan suasana kebangsaan.
Dari Jepara untuk Indonesia.
Melestarikan dengan Ilmu, Bukan Sekadar Mengagumi
Keris perlu dipelajari berdasarkan konteks historis. Untuk memahami nilai yang terkandung di dalamnya dibutuhkan analisis filosofis. Sementara keindahannya dapat dikaji melalui pendekatan estetis.
Dengan demikian, pelestarian keris harus berjalan bersama ilmu pengetahuan dan perkembangan zaman.
Tradisi dan modernitas tidak harus dipertentangkan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan agar keris tetap hidup sebagai kebudayaan, bukan sekadar menjadi artefak masa lalu.
Menghidupkan Kembali Kawruh Leluhur
Namun, di era modern, tantangannya berbeda. Keris harus ditempatkan sebagai sumber pengetahuan budaya yang dapat dipelajari secara terbuka, kritis, dan bertanggung jawab.
Karena itu, kegiatan seperti Kawruh Pusaka Keris memiliki arti penting. Pameran di Museum Kartini bukan hanya memperlihatkan benda-benda pusaka, tetapi membuka ruang dialog antargenerasi.
Keris mengajarkan bahwa sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki warisan. Warisan harus dipahami, dirawat, dikembangkan, dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.
Murih padhanging sasmita—agar semakin terang dalam menangkap makna dan pesan yang terkandung di balik warisan leluhur.
Dari pusaka untuk kawruh. Dari kawruh untuk jatidiri. Dari Jepara untuk Indonesia.
Purwadi
Jepara, Jumat Kliwon, 21 Agustus 2026