JAKARTA | Garda.id
Langkah tersebut mendapat dorongan dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman. Dalam rangkaian pembahasan dengan jajaran PTPN I, pemerintah mendorong agar aset perkebunan negara tidak hanya berorientasi pada komoditas perkebunan, tetapi juga dimanfaatkan untuk pengembangan pangan strategis dan hilirisasi.
Dalam keterangan pada Jumat, 18 September 2026, Amran mendorong optimalisasi aset PTPN I untuk memperkuat swasembada pangan sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
PTPN I juga diarahkan membangun rantai nilai yang lebih kuat, mulai dari produksi di lahan hingga pengolahan dan pemasaran. Optimalisasi tersebut mencakup pemanfaatan investasi, mekanisasi, digitalisasi, pertanian presisi dan teknologi berbasis data.
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras menegaskan kesiapan perusahaan menerjemahkan arah pemerintah tersebut melalui optimalisasi aset, peningkatan produktivitas, penguatan komoditas strategis dan percepatan hilirisasi.
Sejalan dengan itu, PTPN I sebelumnya telah menyiapkan pemanfaatan hingga 10.000 hektare lahan untuk jagung serta hingga 10.000 hektare untuk ubi kayu di Lampung. Di Sumatera Utara, sekitar 270 hektare lahan dioptimalkan untuk pengembangan kedelai, sedangkan di Jawa Barat dilakukan uji coba bawang putih seluas 2 hektare.
Pengembangan ubi kayu juga memiliki kaitan dengan agenda energi nasional karena komoditas tersebut dapat menjadi bahan baku bioetanol. Sementara hilirisasi tebu PTPN I telah diarahkan untuk menghasilkan bioetanol yang dapat digunakan sebagai bahan bakar maupun bahan baku industri lainnya.
Abdul Rivai menekankan bahwa transformasi tersebut diarahkan untuk menjadikan aset perkebunan sebagai sumber nilai ekonomi yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Dengan strategi tersebut, PTPN I menempatkan aset perkebunan negara sebagai bagian dari ekosistem pangan dan energi nasional, sekaligus memperkuat hubungan antara BUMN, petani, industri dan pemerintah dalam membangun rantai pasok yang berkelanjutan.red