Oleh Abdullah Rasyid
Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan
Pendiri GREAT Institute
Pada 10 November mendatang, negara akan kembali mengenang pengorbanan para pahlawan. Di tengah persiapan upacara dan peletakan karangan bunga, ada penghormatan yang layak dipertimbangkan Presiden Prabowo Subianto: membuka pintu Istana bagi keluarga petugas dan relawan yang meninggal dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Undangan itu dapat mempertemukan penghormatan kepada masa lalu dengan tanggung jawab terhadap pengorbanan hari ini. Sebab keberanian membela sesama juga hadir pada orang-orang yang memasuki kawasan terbakar, mengangkut air, merawat korban, dan bertahan ketika orang lain harus menyelamatkan diri.
Baca Juga:Pada 29 Oktober, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan dukacita Presiden kepada keluarga korban penanganan karhutla di kawasan Bromo. Presiden menyebut mereka patriot bangsa. Menurut laporan ANTARA, enam orang meninggal: Sukaris, Hendra Roni Wagiyanata, Munawi, Suraji, Wisnu Yuda Pratama, dan Sefriel Ardiansyah.
Mereka datang dari latar pekerjaan berbeda. Ada petugas kehutanan, mitra perlindungan hutan, dan pekerja hotel yang ikut membantu pemadaman. Pengabdian mempertemukan mereka dalam bahaya yang sama. Karena itu, perhatian negara kepada keluarga yang ditinggalkan semestinya menjangkau semua, dengan mekanisme yang jelas sesuai kebutuhan dan hak masing-masing.
KETIKA ASAP MENJADI UJIAN KEPERCAYAAN
Bahan pemantauan media sosial periode 28–29 Oktober 2026 yang menjadi dasar tulisan ini mencatat 63.564 unggahan, sentimen negatif 52,5 persen, serta estimasi jangkauan 8,027 miliar. Angka-angka tersebut harus dibaca menurut cakupan dan metode pemantauannya. Sentimen unggahan tidak otomatis menggambarkan sikap seluruh penduduk, sementara estimasi jangkauan dapat menghitung pengguna yang sama lebih dari sekali.
Meski demikian, kegelisahan yang terekam patut didengar. Pemerintah perlu memahami pertanyaan di balik kemarahan: apakah keluarga kami aman, apakah pertolongan tersedia, dan apakah pihak yang bertanggung jawab akan diperiksa?
Karhutla memang berakar panjang pada tata kelola lahan, pengawasan, dan kepentingan ekonomi. Mengakuinya membantu pemerintah memilih pembenahan yang tepat. Tetapi panjangnya sejarah persoalan tidak mengurangi kewajiban pemerintahan hari ini untuk melindungi warga dan memperbaiki kelemahan yang ditemukan.
PENGHORMATAN YANG SAMPAI KE RUMAH
Sebelum undangan dikirim, pemerintah perlu memastikan identitas dan status seluruh korban, termasuk mereka di daerah lain. Pendataan harus melibatkan pemerintah daerah, instansi tempat bertugas, rumah sakit, serta keluarga. Perbedaan status antara pegawai, pekerja perusahaan, dan relawan jangan sampai membuat seseorang luput dari perhatian.
Dari pertemuan itu harus lahir kepastian: siapa mendampingi keluarga, bantuan apa yang tersedia, kapan diterima, dan bagaimana mengadukan hambatan. Pendidikan anak, perlindungan sosial, serta dukungan psikologis perlu dipetakan menurut kebutuhan. Keluarga tidak semestinya berkeliling kantor untuk membuktikan pengorbanan orang yang mereka cintai.
Penghargaan akan terasa lebih berarti ketika disertai perlengkapan yang memadai, pemeriksaan kesehatan, pelatihan, dan perlindungan kerja. Mereka yang menyelamatkan warga berhak memperoleh sistem yang juga menjaga keselamatan mereka.
SETELAH UPACARA SELESAI
Pada saat bersamaan, penyelidikan penyebab kebakaran harus berjalan dengan pembuktian yang kuat. Bila ditemukan dugaan keterlibatan korporasi, pemeriksaan perlu menjangkau pengelolaan lahan, kepatuhan pencegahan kebakaran, dan pihak yang mengambil keputusan. Penetapan tanggung jawab harus bertumpu pada bukti, dengan kewajiban pemulihan dijalankan sesuai ketentuan.
Menghormati petugas yang meninggal sambil membiarkan kelalaian berulang akan meninggalkan luka baru. Keluarga berhak mengetahui apa yang terjadi. Masyarakat berhak memperoleh penjelasan tentang langkah yang mencegah korban berikutnya.
Di situlah empati memperoleh bentuknya sebagai kebijakan. Ucapan duka diikuti pendampingan; penghargaan diikuti perlindungan; janji penegakan hukum diikuti proses yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada Hari Pahlawan, pintu Istana dapat dibuka untuk keluarga mereka yang telah memadamkan api. Tetapi ukuran penghormatan negara baru terlihat setelah keluarga itu pulang: apakah hidup mereka lebih terlindungi, apakah anak-anak tetap bersekolah, dan apakah rekan-rekan yang kembali bertugas kini bekerja dengan lebih aman?