Hari Pers Dunia: Kasus Kadri Amin dan Ancaman Ekosistem Pers
Setiap peringatan Hari Pers Dunia, publik biasanya disuguhi pidato besar tentang pentingnya kebebasan pers, independensi media, dan demokrasi. Kata-kata itu terdengar indah. Heroik. Seolah pers masih berdiri kokoh sebagai pilar keempat demokrasi.
Namun di daerah, kenyataannya jauh lebih pahit.
Baca Juga:Pers lokal hari ini tidak sedang membicarakan kejayaan. Tidak pula sibuk merancang ekspansi bisnis atau inovasi digital besar-besaran. Yang terjadi justru sebaliknya: bertahan hidup.
Di banyak kabupaten dan kota, media daerah kini seperti pasien yang dipaksa tetap bernapas dengan tabung oksigen seadanya. Pendapatan iklan swasta hampir lumpuh. Media cetak semakin ditinggalkan. Platform digital global menguasai pasar iklan. Sementara masyarakat ingin semua informasi gratis tanpa pernah berpikir bagaimana perusahaan pers membiayai wartawannya.
Akibatnya, banyak media daerah hari ini hidup dalam kondisi memprihatinkan. Kantor sederhana. Wartawan dengan honor minim. Operasional serba pas-pasan. Bahkan tidak sedikit pemilik media harus nombok uang pribadi hanya demi memastikan medianya tetap hidup.
Di tengah runtuhnya model bisnis media, sebagian besar pers daerah bertahan hidup hanya dari satu sumber: kerja sama publikasi pemerintah melalui APBD.
Mungkin kalimat ini terasa kasar. Tetapi inilah realitas yang tidak bisa disangkal.
Belanja advertorial, publikasi pembangunan, sosialisasi kebijakan, penyebarluasan informasi pemerintah, hingga diseminasi program daerah telah menjadi denyut nadi terakhir media lokal.
Baca Juga:Tanpa itu?
Banyak wartawan sudah kehilangan pekerjaan.
Dan banyak daerah kehilangan ruang informasi yang dekat dengan denyut rakyatnya.
Tentu, harus ditegaskan sejak awal: penegakan hukum wajib dihormati. Bila terdapat dugaan pelanggaran hukum, penyimpangan tata kelola, atau penyalahgunaan anggaran negara, proses hukum harus berjalan secara adil, terbuka, dan objektif.
Tetapi di balik ruang sidang, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar dan menakutkan:
Baca Juga:Apakah kerja sama publikasi media kini sedang bergerak menuju wilayah yang membuat pers daerah ketakutan?
Pertanyaan ini tidak lahir dari sikap anti-hukum.
Sebaliknya, pertanyaan ini lahir dari rasa cemas terhadap masa depan industri pers daerah yang sejak lama sudah megap-megap mempertahankan hidup.
Bahkan bagi sebagian pelaku industri pers, alarm itu terdengar sangat keras.
Karena jika pola kerja sama publikasi yang selama ini menjadi "oksigen terakhir" media daerah mulai dianggap sebagai wilayah berisiko tinggi, maka efeknya bisa jauh lebih mengerikan daripada sekadar satu perkara pidana.
Baca Juga:Bayangkan apa yang mungkin terjadi.
Dinas memilih menghindari publikasi karena khawatir terseret persoalan hukum.
Anggaran media dipangkas.
Kontrak kerja sama dihentikan.
Lalu media kehilangan sumber pembiayaan terakhirnya.
Satu demi satu media lokal mati perlahan.
Kantor redaksi tutup.
Wartawan kehilangan pekerjaan.
Dan yang paling menyeramkan: daerah kehilangan pengawas.
Siapa nanti yang mengawasi proyek mangkrak?
Media nasional tidak akan hadir setiap hari di desa, kecamatan, pulau terpencil, atau pelosok Aceh.
Yang selama ini ada adalah pers daerah.
Mereka mungkin kecil, kadang berisik, sering dikritik, tetapi merekalah yang setiap hari menjaga denyut informasi di daerah.
Karena itu, ancaman terhadap pers hari ini tidak lagi hanya soal intimidasi wartawan atau kekerasan fisik.
Media yang lapar tidak akan sehat.
Media yang terus hidup dalam ketakutan tidak akan kuat.
Namun ada satu kenyataan pahit lain yang juga layak dibicarakan secara jujur di Hari Pers Dunia.
Kadang ancaman terhadap pers tidak hanya datang dari luar.
Di tengah industri yang sedang sakit, solidaritas antarinsan pers justru terlihat semakin rapuh.
Fenomena iri hati, kompetisi tidak sehat, saling menjatuhkan, bahkan diam-diam menikmati kesulitan sesama mulai menjadi bisik-bisik yang tidak asing lagi.
"Senang melihat teman susah, susah melihat teman senang."
Kalimat itu memang pahit, tetapi terasa nyata.
Ketika satu wartawan terkena masalah, ada yang diam menyaksikan.
Ketika satu pengelola media tersandung perkara, alih-alih solidaritas, justru muncul bisik-bisik sinis.
tekanan dari luar dan keretakan dari dalam.
Padahal sejarah mengajarkan satu hal penting: pers tidak pernah kuat ketika pelakunya saling melemahkan.
Sudah terlalu sakit untuk saling menjatuhkan.
Karena ketika satu media tumbang hari ini, belum tentu media lain akan selamat besok.
Bahwa industri pers daerah sedang berada di persimpangan jalan yang menakutkan.
Di satu sisi, mereka dituntut profesional, independen, dan kuat secara ekonomi.
Lalu pertanyaannya sederhana:
Jika pers daerah benar-benar mati, siapa yang akan menjaga demokrasi lokal?
Sebab ketika media lokal runtuh, yang hilang bukan hanya perusahaan pers.
Yang hilang adalah kontrol terhadap kekuasaan.
Yang hilang adalah keberanian menyampaikan fakta.
Ia hanya menjadi sunyi.
Sunyi karena tidak ada lagi yang berani bicara.
Sunyi karena tidak ada lagi yang mampu bertahan.