MENUJU MUKTAMAR VIII IPHI DI BALI
Oleh H.Rahudman Harahap MM
Ketua Pengurus Wilayah IPHI Sumut
Muktamar VIII Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) yang akan diselenggarakan di Pulau Bali pada 15–16 Juni 2026 bukan sekadar agenda organisasi lima tahunan. Lebih dari itu, muktamar merupakan momentum strategis untuk melakukan konsolidasi, evaluasi, dan proyeksi masa depan organisasi dalam menjawab tantangan umat, bangsa, dan dunia yang terus berkembang.
Dalam konteks tersebut, Muktamar VIII menjadi sangat penting. Organisasi yang menghimpun jutaan haji Indonesia memiliki potensi besar sebagai kekuatan moral dan sosial. Dengan jaringan yang tersebar dari pusat hingga daerah, IPHI memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam membangun kehidupan berbangsa yang harmonis, religius, dan berkeadaban.
Penyelenggaraan muktamar di Bali juga memiliki makna simbolik yang mendalam. Bali dikenal sebagai miniatur kebhinekaan Indonesia. Di tengah masyarakat yang majemuk, nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan kerukunan hidup tumbuh dengan baik. Karena itu, Bali menjadi tempat yang tepat untuk meneguhkan kembali komitmen IPHI dalam merawat persatuan nasional dan memperkuat moderasi beragama.
Karena itu, Muktamar VIII tidak cukup hanya menghasilkan kepengurusan baru. Yang lebih penting adalah lahirnya gagasan-gagasan besar dan program-program unggulan yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Penguatan kaderisasi, pemberdayaan ekonomi umat melalui koperasi dan usaha produktif, pengembangan food estate berbasis komunitas, peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta penguatan dakwah digital perlu menjadi perhatian bersama.
Muktamar juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi antargenerasi. Para haji senior yang kaya pengalaman perlu berjalan beriringan dengan generasi muda yang memiliki energi, kreativitas, dan penguasaan teknologi. Kolaborasi keduanya akan menjadi modal penting bagi keberlanjutan organisasi di masa depan.
Di atas semua itu, semangat utama yang harus terus dijaga adalah persaudaraan. Perbedaan pandangan dalam organisasi adalah sesuatu yang wajar, tetapi persatuan dan kemaslahatan yang lebih besar harus selalu menjadi prioritas. Muktamar hendaknya menjadi ajang musyawarah yang penuh hikmah, menghasilkan keputusan yang memperkuat organisasi, bukan sebaliknya.
Selamat bermuktamar. Dari Bali, mari meneguhkan tekad: Haji Mabrur, Persaudaraan Kokoh, Pengabdian Tak Pernah Berakhir.rel