Medan -Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, dinamika organisasi semakin terasa. Sejumlah kandidat Ketua Umum PBNU telah melakukan silaturahmi ke berbagai daerah untuk menyampaikan gagasan, visi, dan misi mereka kepada para pengurus serta warga nahdliyin.
Setelah mencermati secara saksama rekam jejak, karakter kepemimpinan, serta visi dan misi para kandidat, kami bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Sumatera Utara memiliki pandangan yang sejalan mengenai sosok yang dinilai mampu membawa NU menghadapi tantangan masa depan. Sosok tersebut adalah KH. Muhammad Yusuf Qudlori, atau yang akrab disapa Gus Yusuf, Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo.
Ada beberapa alasan yang menjadi dasar penilaian kami. Pertama, komitmen beliau dalam membangun tata kelola organisasi yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel. Hal tersebut tercermin dari gagasan mengenai penguatan sistem administrasi organisasi, pengelolaan keuangan dan aset yang terbuka, serta tata kelola kelembagaan yang lebih modern tanpa meninggalkan jati diri NU.
Kedua, perhatian Gus Yusuf terhadap pemberdayaan sumber daya kader di seluruh tingkatan organisasi. Beliau menekankan pentingnya distribusi kader secara adil sesuai kompetensi dan bidang keahlian masing-masing, sekaligus membangun pola kerja sama dengan berbagai pihak secara terbuka, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan organisasi.
Ketiga, kami melihat komitmen yang kuat dari Gus Yusuf untuk tetap menjaga tradisi, budaya, dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi fondasi perjuangan Nahdlatul Ulama. Pada saat yang sama, beliau juga memiliki pandangan yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian dari ikhtiar membawa NU tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.
Selain itu, kami meyakini bahwa Gus Yusuf memiliki kapasitas untuk membangun kembali soliditas di tubuh PBNU. Berbagai dinamika yang belakangan muncul dan memunculkan perbedaan pandangan di kalangan elite organisasi perlu disikapi dengan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen, sehingga energi organisasi dapat kembali difokuskan pada pelaksanaan program-program yang bermanfaat bagi umat.
Bagi kami, sosok Gus Yusuf menghadirkan keteduhan, kebijaksanaan, dan semangat persatuan. Karakter kepemimpinan seperti inilah yang dibutuhkan Nahdlatul Ulama untuk menghadapi tantangan masa depan. Dengan pengalaman, integritas, dan visi yang dimilikinya, kami berharap beliau dapat membawa NU menjadi organisasi yang semakin kuat, modern, tetap berakar pada tradisi, serta mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi bangsa dan negara.